Pilar kepemimpinan Ibrahim adalah mewujudkan stabilitas (al-Amnu), menegakkan keadilan (al-’Adlu), dan membangun kesejahteraan umum (al- Rizqu) (QS Al-Baqarah: 126).
04 Jun 2025 11:00 WIB · Artikel Opini
Berkaitan dengan perayaan Idul Adha yang dilaksanakan umat Muslim di seluruh dunia tahun ini; terdapat peristiwa yang senantiasa dikenang dan jadi pelajaran berharga bagi semua umat manusia, yaitu keteladanan kepemimpinan Nabi Ibrahim AS.
Idul Adha atau biasa disebut hari raya Kurban sering dijadikan momen bagi masyarakat Muslim yang mampu untuk menyembelih hewan kurban. Kadang juga disebut Lebaran Haji karena bertepatan dengan puncak ibadah haji, yaitu wukuf di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Sebuah ibadah yang terkenal sebagai miniatur life cycles kehidupan manusia.
Selebrasi Idul Adha mengingatkan kembali jejak-jejak sejarah yang telah diukir oleh Ibrahim bersama keluarga tercintanya. Sejarah yang penuh makna dan sangat inspiratif bagi kehidupan umat manusia; berupa simbol ketaatan, kegigihan dalam perjuangan, penuh pengorbanan dan kepemimpinan berkarakter.
Keberhasilan kepemimpinan Ibrahim dalam membangun sebuah peradaban dan komunitas masyarakat dapat dijadikan refleksi sekaligus role model bagi siapa pun. Terutama bagi setiap pemimpin bangsa ini, dari pusat hingga daerah, agar segera merealisasikan amanah; membawa bangsa menuju sebuah tatanan masyarakat yang lebih aman, adil, sejahtera dan berdaulat.
Lebih-lebih dalam situasi bangsa yang sedang menghadapi berbagai problematika kehidupan yang semakin kompleks dan dinamis sekarang.
Masyarakat menghadapi situasi tak menentu, disrupsi sosial dan segala berisiko (risk society). Kecanggihan transformasi digital telah menciptakan konektivitas tak terbatas dan pengenalan budaya luar dengan sangat cepat. Juga perubahan iklim yang sulit diprediksi, ketidakadilan sosial, dan disintegrasi budaya.
Mendiskursuskan kembali model kepemimpinan Ibrahim sangat urgen dan bisa menjadi oase, energi baru, dan menginspirasi tumbuhnya para pemimpin yang bisa menjadi sandaran dan pilar bagi kehidupan masyarakat yang mudah kehilangan kendali dalam lautan makna yang tak menentu sekarang. Bisa meminimalisasi perilaku hedonis dan perasaan tidak pernah puas dalam mencari materi (treadmill).
Sekaligus memberi insight positif dan menenteramkan pada masyarakat sehingga mereka mempunyai keyakinan kokoh bahwa selama hidup di dunia ini tidak ada yang pantas dicari, dihindari, atau ditolak secara mati-matian. Karena, baik susah maupun senang, hanya bersifat sementara. (Suryomentaram, 2007).
Dengan demikian, kita tidak mudah terjebak pada perilaku yang berlawanan dengan etika moralitas dan hukum, seperti korupsi dan perilaku menyimpang lainnya.
Sebab, jika mengeksplorasi sumber-sumber primer terkait dengan tipologi kepemimpinan Ibrahim, selaras dengan karakter kepemimpinan modern, kepemimpinannya berkarakter global, seperti humble, merakyat, inklusif, dan sangat sederhana.
Sangat peduli pada masyarakat yang membutuhkan yang miskin, dan terbelakang, serta membangun kehidupan demokratis, kesetaraan, dan relasi yang tak bersekat.
Strategi kepemimpinan Ibrahim bukan sekadar memerintah, tetapi mempersuasi. Pola kepemimpinannya selalu didasari gemar belajar, mengembangkan pengetahuan dan kompetensi (be a good learner).
Menariknya, Ibrahim dalam kepemimpinannya senantiasa mengedepankan rasionalitas, penyelidikan dan penelitian rasa ingin tahu yang tinggi—juga senantiasa berporos pada tauhid. Kepemimpinan yang sarat dengan nilai-nilai samawi, tetapi sekaligus sadar akan realitas alam sekitar (Ali, 2018).
Model kepemimpinan yang tidak bertumpu pada paradigma antroposentris, melainkan teo-antroposentris. Kepemimpinan yang membawa umatnya kepada ketaatan, kesalehan individual dan kolektif serta kemaslahatan lingkungan.
Dalam membangun masyarakat, pertama kali yang ditekankan Ibrahim adalah rasionalitas yang berakar pada keimanan dan spiritualitas kuat. Tentu dengan suatu orientasi agar semua masyarakat memiliki maksud, tujuan, dan visi hidup yang jelas. Kehidupan yang penuh keseimbangan, kematangan, dan kedewasaan.
Ibrahim menerapkan karakter kepemimpinan yang tulus ikhlas, berintegritas, peduli, menyayangi, senantiasa berkorban dan membantu pada masyarakat serta memberikan pelayanan optimal kepada seluruh manusia. Pilar kepemimpinannya adalah mewujudkan stabilitas (al-Amnu), menegakkan keadilan (al-’Adlu) dan membangun kesejahteraan umum (al- Rizqu) (QS Al-Baqarah: 126).
Belajar dari karakter kepemimpinan Ibrahim bisa menjadi autokritik bagi siapa pun, baik orangtua, para pemimpin, agamawan maupun masyarakat, untuk segera menanggalkan baju-baju kebesaran. Membuang perilaku arogansi, egois, dan materialistis. Sekaligus menjadi pedoman kepemimpinan ideal dalam mengarungi kehidupan sehari-hari.
Terutama dalam merealisasikan ajaran agama dan membuktikan kecintaan pada negara (nasionalisme), agama, dan kemanusiaan. Jika semua pemimpin bangsa ini bisa meniru gaya kepemimpinan Ibrahim, bisa dipastikan masyarakat lebih bisa menerima dan menyerap impuls-impuls positif dengan meniru tindakan pemimpinnya.
Tak akan terdengar lagi suara lirih dari buruh, guru dan dosen yang mengeluh tentang minimnya gaji mereka, dan merasa bekerja bagaikan kuda.
Terdapat beberapa syarat menjadi pemimpin efektif sebagaimana dicontohkan Ibrahim. Dalam perspektif ilmu manajemen modern, menjadi pemimpin yang efektif harus profesional dan punya kapasitas keilmuan memadai. Meminjam analisis Jhon Maxwell (2014), ”seorang pemimpin harus berilmu, memiliki pengalaman, dan mempunyai keterampilan untuk memandu masyarakat.
Pemimpin juga harus memiliki visi jelas tentang apa yang harus mereka capai. Sebab, visi itu akan menjadi energi yang mendorong untuk melakukan semua program dan mengatasi semua masalah. Dengan visi, seorang pemimpin memiliki misi. Semangatnya menular terasa di antara orang banyak hingga orang lain mulai bangkit bersama (Maxwell, 2014).
Nabi Ibrahim adalah pemimpin karismatis dan transformasional dengan penekanan pada motivasi intrinsik dan pengembangan bagi pengikutnya sesuai dengan kebutuhan dan mampu mengatasi persoalan secara efektif pada masa ketidakpastian (Bass dan Riggio, 2006, Muallidin, 2016). Pemimpin visioner yang bisa menetapkan visi atau citra ideal dari organisasi dan budayanya.
Menurut Burt Nanus (1992), pemimpin visioner mempunyai empat peran, yakni; 1) memberikan bimbingan, dorongan, dan motivasi; 2) menjadi agen perubahan; menginspirasi, memotivasi dan menggerakkan perilaku masyarakat; 3) percaya diri dan mampu mengekspresikan visi mereka; 4) memainkan peran penting untuk menciptakan dan memengaruhi semua orang dan memberi panduan untuk berhasil mencapai visi (Nindyati, 2016).
Pemimpin visioner sangat peduli pada transformasi dan perbaikan sosial secara berkelanjutan. Menuju masyarakat yang lebih positif dan responsif terhadap perkembangan zaman, tetapi tetap berjangkar pada persoalan pendidikan, spiritualitas, dan moralitas.
Pemimpin visioner transformasional meyakini bahwa melalui pintu pendidikan, sebuah usaha melahirkan generasi paripurna dan reformasi bangsa akan terwujud. Menurut Ibnu Rusyd, pendidikan memiliki nilai intrinsik tinggi sebagai sarana memperoleh pengetahuan yang benar, memahami dunia dengan baik, dan mencapai kehidupan yang bermakna.
Pendidikan tidak sekadar wahana transmisi ilmu pengetahuan semata, tetapi juga sarana membeningkan mata batin, pembentukan karakter individu yang bermoral, amanah, dan bertanggung jawab.
Menurut George R Knight, pendidikan harus mengajarkan etika, nilai-nilai dan perilaku moral, dengan tujuan untuk menjelaskan tindakan yang seharusnya dilakukan manusia demi membawa kebaikan bagi seluruh anggota masyarakat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/07/08/ff3852ed-1215-4219-9589-464387f33bd2_jpg.jpg)
Ibrahim dalam kepemimpinannya mampu menggerakkan sebuah kesadaran bersama. Pemimpin yang bukan sekadar pandai berteori dan banyak perintah bagi rakyatnya. Namun, pemimpin yang simpel, penuh makna, menjadi guru dan panutan di tengah masyarakat. Keteladanan Ibrahim dalam seni memimpin terbukti dengan keberhasilannya dalam mendidik putranya, Ismail.
Ibrahim terbukti mampu melahirkan generasi taat dan berbudi pekerti luhur. Generasi yang tak sekadar cerdas, tetapi juga berintegritas, penuh totalitas dalam pengabdian; penuh kedisiplinan, memikul dan menerima dengan penuh kesadaran semua bentuk tanggung jawab.
Hal ini tergambar secara eksplisit dalam QS Al-Shaffat: 102 bahwa; pada saat Nabi Ibrahim diperintah oleh Allah untuk menyembelihnya, Ismail dengan penuh ketaatan dan kesadaran menjawab; ”Wahai ayahku, lakukan apa yang diperintahkan niscaya engkau akan mendapatkan aku termasuk mereka yang bersabar”.
Sebagai seorang bapak atau pemimpin keluarga, kepiawaian Ibrahim lebih mengedepankan rasa empati, menghadirkan dialog kritis serta menghindari sikap apatis dan penolakan. Sebuah seni kepemimpinan yang baik. Seorang pemimpin sudah semestinya bisa membangun komunikasi efektif atas dasar kesetaraan, penuh keterbukaan, empati, saling menghormati.
Pemimpin sejati dan penuh kebijaksanaan harus senantiasa menghadirkan kecintaan di hati masyarakat. Setiap menghadapi berbagai potensi konflik, ancaman pemberontakan, demo mahasiswa, dan perlawanan rakyat sekalipun, selalu mengedepankan dialog, narasi etis dan adem. Pemimpin yang tidak represif, senantiasa terbuka dan menerima kritik.
Memberikan kebebasan kepada pers dan masyarakat untuk mengkritik dan mengkontrol, tetapi tetap dalam koridor hukum (konstitusional) dan dalam bingkai saling menasihati dengan penuh kasih sayang. Terutama, menghadapi situasi tak menentu, seperti situasi resesi ekonomi global saat ini.
Perayaan Idul Adha menjadi momentum strategis semua pihak bahwa antara pemerintah dan masyarakat harus saling bersatu, membangun solidaritas, saling menyemangati, rela berkorban, dan membangun optimisme baru menatap Indonesia yang lebih baik, berdaulat, dan bermartabat.
Syamsul Ma’arif Guru Besar UIN Walisongo, Pengasuh Pesantren Riset Al-Khawarizmi dan Ketua ISNU Semarang
Penulis:
Syamsul Ma'arifEditor:
Sri Hartati Samhadi, Yohanes KrisnawanPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .