JPU menambah tuntutan hukuman uang pengembalian kerugian negara sebesar Rp 809 miliar dan Rp 4,8 triliun.
13 Mei 2026 20:53 WIB · Politik & Hukum
KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
Eks Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim hadir dalam pembacaan tuntutan jaksa di persidangan kasus pengadaan Chromebook di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (13/5/2026). Jaksa meyakini Nadiem bersalah melanggar Pasal 603 juncto Pasal 18 UU Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 20 Huruf c UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/13/086d3450cabb435bb7c7d8939fa85c38-81124.jpg)
Atas kasus ini, Nadiem dituntut hukuman penjara 18 tahun, denda Rp 1 miliar dan penjara subsider 190 hari oleh JPU. Selain itu, JPU menambah tuntutan hukuman uang pengganti dan pengembalian kerugian negara sebesar Rp 809 miliar dan Rp 4,8 triliun.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/13/d61a4bd3cbe8508828591d7ba66e9af9-81095.jpg)
Dalam dakwaan kasus ini, eks Mendikbudristek, bersama tiga terdakwa lain, disebut telah menyebabkan kerugian keuangan negara senilai Rp 2,1 triliun terkait dengan pengadaan Chromebook di Kemendikbudristek. Proyek pengadaan ini berlangsung dalam Tahun Anggaran 2020-2022.
Sidang pembacaan tuntutan ini dihadiri oleh sanak keluarga Nadiem. Selain itu, para pendukung Nadiem pun turut hadir mendengarkan pembacaan tuntutan dalam sidang ini. Selain kerabat, pendukung yang hadir juga dari kalangan pengemudi ojek daring hingga pesohor. Mereka hadir bersama-sama untuk memberikan dukungan moril kepada Nadiem.
Sidang yang dijadwalkan digelar pada pukul 10.00 mundur enam jam. Baru pada pukul 16.00, majelis hakim memasuki ruang sidang untuk memulai persidangan.
Rasa kecewa dan sedih muncul mewarnai suasana persidangan saat tuntutan terhadap Nadiem dibacakan JPU. Tangis dan pelukan pun mewarnai pendukung yang hadir di ruangan tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/13/803e0a665553160ee6a057a0b8e5c75b-81103.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/13/e60e1479a8fa5dc07c45de64ca36abc8-81097.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/13/8b6e8de1c16b4d8f9abcb79d91a8082b-81098.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/13/0e00a5a63a06fc43b201893f6f0c58f9-81096.jpg)
Sidang pembacaan tuntutan ini akan disusul dengan sidang pembacaan pleidoi. Namun, persidangan tersebut baru akan digelar setelah Nadiem menyelesaikan masa penyembuhan operasi wasir yang dideritanya. Pelaksanaan operasi penyakit tersebut dijadwalkan pada malam hari seusai sidang pembacaan tuntutan jaksa ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/13/21abc1390c893fceef2bfde8e631c1c2-81104.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/13/fc5585ba86d051378623a742cbb9cd05-81101.jpg)
Penulis:
Rony Ariyanto NugrohoEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra