Napoli dan Inter Gagal Menang, Laju Menuju ”Scudetto” Tertahan

Napoli dan Inter Milan kompak meraih imbang. Tanpa kemenangan, kedua tim itu tetap menunjukkan mentalitas dan daya juang yang layak menjadi kandidat juara.

03 Feb 2025 08:30 WIB · Olahraga

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar

ROMA, SENIN — Dua tim papan atas Liga Italia, Napoli dan Inter Milan, tertahan pada laga tandang di pekan ke-23, Senin (3/2/2025) dini hari WIB. Meski begitu, persaingan demi meraih perisai scudetto tetap dikendalikan oleh kedua tim itu.

Napoli hanya berjarak dua menit di masa tambahan waktu babak kedua untuk melanjutkan tren kemenangan menjadi delapan laga di markas AS Roma, Stadion Olimpico. Namun, keunggulan di babak pertama yang disumbangkan bek sayap Leonardo Spinazzola pada menit ke-29 buyar akibat sepakan voli bek sayap kiri Roma, Angelino, pada menit 90+3.

Hasil 1-1 dari ibu kota Italia tidak hanya menghentikan tren selalu menang Napoli dalam tujuh gim sebelumnya. Mereka juga melepas dua poin untuk menjauhi Inter Milan yang berada di peringkat kedua.

Padahal, Inter hanya bisa meraup satu poin berkat imbang 1-1 kontra AC Milan di Stadion San Siro pada laga yang berakhir tepat sebelum duel di Olimpico dimulai.

Pemain Napoli Leonardo Spinazzola (tengah) menggiring bola saat melawan AS Roma pada laga Liga Italia di Stadion Olimpico, Roma, Senin (3/2/2025) dini hari WIB. Laga itu berakhir imbang 1-1.

Tambahan satu poin yang dihasilkan kedua tim membuat selisih poin di dua peringkat teratas tetap tiga poin. Napoli mengemas 54 poin. Sementara Inter mengoleksi 51 poin dan masih memiliki satu poin laga tunda kontra Fiorentina.

Di sisi lain, hasil imbang juga dikemas Atalanta, yang duduk di peringkat ketiga, saat menghadapi Torino dengan skor 1-1. Alhasil, Inter dan Napoli bisa sedikit bernapas lega karena ”Si Dewi” belum bisa mendekati posisi dua besar. Inter unggul empat poin atas Atalanta. Sementara Si Dewi tertinggal tujuh poin dari Napoli.

Walaupun masih kokoh di puncak, kekecewaan besar menyelimuti Napoli. ”Si Keledai Kecil” melepas keunggulan atas Roma yang sejatinya bisa membantu mereka mengungguli Inter dengan lima poin.

”Tanpa keraguan, kami seharusnya melakukan lebih baik pada situasi gol Roma. Angelino mencetak gol yang sama seperti melawan Eintracht Frankfurt (di Liga Europa) dan kami telah mempelajari itu melalui video,” ujar Conte seusai laga kepada DAZN.

Pemain Roma Angelino merayakan golnya ke gawang Napoli pada laga Liga Italia di Stadion Olimpico, Roma, Senin (3/2/2025) dini hari WIB. Laga itu berakhir imbang 1-1.

”Roma mendapatkan tujuh kemenangan beruntun di Olimpico yang menegaskan ini tempat yang sulit. Kami meninggalkan Olimpico dengan rasa yang getir karena kami unggul hingga menit ke-92 dan tanpa mengalami situasi di bawah tekanan,” lanjutnya.

Situasi kontras

Permainan Napoli di Olimpico berjalan kontras dengan yang mereka tampilkan ketika menjamu Juventus di kandang, pekan lalu. Skuad Si Keledai Kecil tampil lebih baik pada babak pertama dengan menghasilkan sebuah gol dari dua tembakan tepat sasaran. Melawan Juve, mereka justru kemasukan di pengujung paruh pertama.

Sebaliknya, Napoli yang tampil ganas seusai turun minum kontra Juve, hal itu tidak terjadi di hadapan Roma. Tekanan yang diberikan Roma membuat Napoli hanya mengandalkan fast break alias serangan balik cepat.

Tidak ada situasi berbahaya yang dikreasi Napoli di babak kedua menghadapi Roma. Mereka gagal menciptakan satu pun tembakan tepat sasaran di paruh kedua. Hanya sebuah sepakan dari gelandang, Scott McTominay, yang sempat membuat pemain bertahan Roma melakukan blok pada menit ke-80.

Pemain AC Milan Tijjani Reijnders (tengah) merayakan golnya ke gawang Inter Milan pada laga Liga Italia di Stadion San Siro, Milan, Senin (3/2/2025) dini hari WIB. Laga itu berakhir imbang 1-1.

Pergantian tiga penyerang, yaitu David Neres, Romelu Lukaku, dan Matteo Politano, juga tidak memberikan dampak berarti bagi kualitas serangan Napoli. Pemain pengganti yang terdiri dari Pasquale Mazzocchi, Giovanni Simeone, dan Giacomo Raspadori gagal menampilkan performa terbaik.

”Kami harus belajar bahwa detail kecil membuat perbedaan. Kami juga harus menyadari untuk cepat menyelesaikan laga sesegera mungkin dengan membuat gol tambahan,” kata Conte.

Buah tidak menyerah

Sementara itu, Inter akhirnya mengakhiri rentetan dua kekalahan beruntun dari Milan di musim ini. Sepakan bek Stefan de Vrij pada menit 90+3 membuyarkan kemenangan Milan yang sempat unggul lebih dulu melalui gol dari rekan De Vrij di tim nasional Belanda, Tijjani Reijnders, pada pengujung babak pertama.

Inter tampil tanpa menyerah untuk mengejar gol penyama kedudukan. Setelah gagal menciptakan gol dari enam tembakan di babak pertama, ”I Nerazzurri” mengkreasi 10 tembakan, yang sembilan di antaranya tercipta di kotak penalti Milan pada paruh kedua laga.

Semangat ekstra juga ditunjukkan pemain Inter dengan mendominasi penguasaan bola dan mengurung pertahanan Milan di babak kedua. Catatan 66 persen penguasaan bola dan 90 persen operan akurat menunjukkan superioritas Inter setelah turun minum.

Pemain Inter Milan Stefan de Vrij merayakan golnya ke gawang AC Milan pada laga Liga Italia di Stadion San Siro, Milan, Senin (3/2/2025) dini hari WIB. Laga itu berakhir imbang 1-1.

Adapun Milan hanya menciptakan 34 persen penguasaan bola, lalu akurasi umpan mereka menurun dari 87 persen di babak pertama menjadi 83 persen di babak kedua.

”Kami selalu ingin menang. Kami mengambil inisiatif dengan baik dan Milan unggul berkat serangan balik. Jika kalah hingga menit ke-90, lalu bisa mencetak gol untuk bermain imbang, itu hasil yang bagus,” kata De Vrij kepada Sky Sport Italia.

Sikap pantang menyerang itu juga menunjukkan kekuatan mental Inter. Apalagi Inter sempat dibayangi nasib buruk akibat tiga tembakan yang dihasilkan Yann Aurel Bisseck dan Marcus Thuram digagalkan tiang gawang.

”Kami tidak senang karena berambisi menang. Namun, dengan melihat tiga kesempatan membentur tiang, kami puas bisa mendapat sebuah poin. Ketika terus berusaha dan tetap gagal mencetak gol, Anda bisa merasakan bahwa kali ini bukan hari kami, tetapi kami tetap yakin,” ujar Thuram dilansir La Gazzetta dello Sport.


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .