Narapidana Protes Razia Ponsel, Kerusuhan Pecah di Lapas Narkotika Muara Beliti

Narapidana sempat menguasai dan merusak sejumlah fasilitas lapas. Namun, Kamis pukul 11.00 WIB, aparat keamanan gabungan TNI/Polri berhasil mengendalikan keamanan.

08 Mei 2025 16:34 WIB · Nusantara

Oleh Adrian Fajriansyah

PALEMBANG, KOMPAS — Kerusuhan terjadi di Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Kelas IIA Muara Beliti, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, Kamis (8/5/2025) pagi. Dugaan sementara, peristiwa dipicu protes narapidana saat razia ponsel oleh petugas lapas.

Kepala Lapas Narkotika Muara Beliti Ronald Heru Praptama kepada awak media mengatakan, razia dilakukan sejak Rabu (7/5/2025) malam. Sekitar pukul 19.00 WIB, petugas menyita 54 unit ponsel dari 10 kamar di Blok Bangau, salah satu blok tahanan di sana.

Setelah itu, petugas menduga masih ada ponsel ataupun barang terlarang lainnya yang disembunyikan oleh narapidana. Maka dari itu, mereka melakukan razia lanjutan di Blok Bangau dan Blok Angsa pada Kamis dimulai sekitar pukul 08.00 WIB.

Namun, memasuki Kamar 8 Blok Angsa terjadi resistensi dari narapidana penghuninya. Tensi pun terus meningkat hingga akhirnya situasi tidak terkendali sekitar pukul 09.00. ”Kami sudah berusaha menenangkan mereka (napi), tetapi tidak bisa ditenangkan,” ujar Ronald dikutip Kompas.com.

Para narapidana dikabarkan sempat menguasai hampir seluruh ruangan di dalam lapas dan melontarkan protes keras melalui pengeras suara. Mereka pun sempat melempari petugas dengan batu dan muncul kepulan asap membubung dari dalam lapas.

Karena situasi kian memanas, petugas lapas memutuskan mundur dan meminta bantuan dari aparat keamanan TNI/Polri. Tak berselang lama, personel dari Polres Musi Rawas, Brimob, dan Kodim 0406 Lubuk Linggau datang untuk membantu mengendalikan keamanan. Mereka bersenjata lengkap, menggunakan kendaraan taktis dan kendaraan water cannon.

Foto barang bukti temuan upaya penyelundupan narkoba ke lapas yang ditunjukkan petugas, di Lapas Narkotika Kelas II A Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (3/7/2020).

Petugas harus menembakkan gas air mata ke dalam lapas untuk memukul mundur narapidana yang merangsek ke berbagai sudut gedung. Adapun jumlah penghuni lapas saat ini mencapai 1.069 orang. Belum diketahui pasti berapa jumlah narapidana yang terlibat dalam kericuhan tersebut. Ronald hanya memastikan, peristiwa itu tidak menimbulkan korban dan tidak ada narapidana yang kabur.

Quote

Kerusakan fasilitas (lapas) cukup parah.

Kendati demikian, pemuka agama Islam, Ustaz Abdul Somad, yang tengah berada di dalam lapas untuk memberikan siraman rohani kepada para narapidana sempat terdampak. Dia tertahan sekitar 30 menit saat kerusuhan pecah sebelum akhirnya bisa keluar.

Selain itu, ada sejumlah fasilitas lapas yang rusak cukup parah, antara lain alat musik. Sejumlah pagar pembatas di dalam kamar dan lapangan pun hancur. Kaca jendela dan beberapa ruangan, seperti pos pengawasan utama, pecah. ”Syukurnya, tidak ada korban dan tidak ada napi yang kabur. Namun, kerusakan fasilitas (lapas) cukup parah,” kata Ronald.

Kapolres Musi Rawas Ajun Komisaris Agung Aditya kepada Kompas TV menuturkan, kericuhan bermula sekitar pukul 09.45 WIB saat petugas lapas melakukan razia rutin dan menemukan ponsel milik narapidana. Penemuan itu memicu ketidakpuasan dari para narapidana sehingga melakukan perlawanan terhadap petugas.

ILUSTRASI: LEMBAGA PEMASYARAKATAN

Namun, sekitar pukul 11.00 WIB, aparat keamanan gabungan TNI/Polri berhasil mengendalikan situasi. Seluruh narapidana pun sudah kembali dimasukkan ke dalam kamar di blok masing-masing. ”Situasi keamanan sudah kondusif. Lapas sudah berhasil kami kuasai dan sterilkan sekitar pukul 11.00. Namun, sekarang, kami tetap bersiaga dan mengecek kerusakan yang terjadi,” tutur Agung.


Kerabat Kerja

Penulis:

Adrian Fajriansyah
 | 

Editor:

Irma Tambunan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan