Warga desa di Kalimantan mengupayakan sendiri keluar dari keterbatasan akses internet. Butuh upaya lebih dan harga mahal.
03 Jul 2025 07:13 WIB · Sains & Teknologi
Di perbatasan Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan, sejumlah warga harus keluar sendiri dari kemiskinan digital. Mereka mengupayakan mandiri akses internet dengan teknologi yang ada, meski jangkauan terbatas dan harganya mahal.
Hal itu kami jumpai di Desa Muara Langon, Kecamatan Muara Komam, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, pertengahan Juni 2025. Kampung ini dilintasi jalan trans-Kalimantan, jalan utama lintas provinsi.
Kendati demikian, setelah Kompas memarkir kendaraan di tepi jalan utama, ternyata di desa ini tidak tersedia akses internet untuk semua provider. Joshua (25), pemuda setempat, mengatakan, di semua sudut desa tak ada yang tersambung internet.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/02/16a580a7-b34c-4916-af5e-d0dd03012e71_jpg.jpg)
Itu terjadi bertahun-tahun. Baru sekitar enam bulan belakangan ada pengusaha toko kelontong di kampung tersebut yang melihat peluang bisnis.
Ia membeli paket bisnis Starlink, layanan internet satelit yang dikembangkan SpaceX, perusahaan milik Elon Musk.
Dari penangkap sinyal utama, warga lain bisa memasang repeater. Perangkat ini digunakan untuk memperkuat dan memperluas jangkauan jaringan, terutama jaringan nirkabel seperti Wi-Fi. Harga satu unit repeater termurah Rp 300.000.
Sebagai ilustrasi, sinyal Starlink hanya bisa dijangkau sekitar 30 meter dari router utama. Untuk memperluas jaringan, router utama disambungkan kabel lebih dari 30 meter. Di posisi baru itulah repeater disambungkan kabel.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/02/3bc35707-4618-42e5-91aa-2681bdc59198_jpg.jpg)
Dengan demikian, pengguna dengan jarak lebih dari 30 meter akan tetap bisa tersambung internet. Pemasang repeater bisa menjual paket internet untuk warga lain. Sederhananya, repeater ini seperti menara provider versi mini.
”Di sini Rp 7.000 untuk internet 24 jam dan Rp 5.000 untuk 12 jam,” kata Joshua malam itu, Kamis (12/6/2025).
Terlihat murah memang jika dihitung harian. Namun, jika dikalkulasikan selama 30 hari atau sebulan, sedikitnya seorang warga harus menyisihkan Rp 210.000 untuk internet. Ini dua kali lipat lebih mahal dibandingkan paket internet bulanan provider yang ada, sekitar Rp 100.000 untuk paket bulanan.
Setelah membeli paket pun, mobilitas warga terbatas. Warga hanya bisa tersambung internet sepanjang 30 meter di sekitar repeater atau router. Jika semakin menjauh, sinyal internet hilang. Paket internet yang sudah dibeli tak bisa digunakan.
”Warga di sini kebanyakan beli paketnya ketika butuh komunikasi saja. Selebihnya tanpa internet. Untuk telepon biasa pun di sini susah sinyal,” tutur Joshua.
Kondisi itu membuat banyak hal di zaman digital ini begitu rumit. Refli (23), warga Desa Muara Langon, yang sedang berkuliah di salah satu universitas di Kalimantan Selatan, merasakannya.
Ia kini sedang menyelesaikan skripsi dan butuh internet mendadak untuk berkomunikasi dengan pembimbing akademiknya.
Ketika pulang kampung, ia mengatakan jarang tidur di rumah. Sebab, rumahnya jauh dari akses internet dan sinyal Starlink.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/02/e2663981-72fa-41f7-a673-fa1a684a7eb5_jpg.jpg)
Akhirnya, ia menginap di rumah keluarga Joshua yang memasang repeater Starlink. Hanya dengan cara itu, ia bisa tetap terhubung dengan internet untuk mencari referensi dan berkomunikasi dengan pembimbingnya.
”Kalau enggak menumpang begini, bisa punya masalah karena lambat berkomunikasi dengan pembimbing,” katanya.
Sebelum era Starlink tersedia di kampung, warga di Desa Muara Langon mesti menempuh perjalanan sekitar 30 menit bersepeda motor untuk mendapatkan sinyal internet. Di sekitar pusat Kecamatan Muara Komam, internet tersedia untuk semua provider.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/02/bedcd5c0-44a6-4325-8eab-16190ba3d929_jpg.jpg)
Aulia (24), tetangga Rafli, mengatakan, jangankan internet, listrik pun sebelumnya jadi barang mewah. Sebelum 2017, warga hanya mengandalkan lentera berbahan minyak tanah untuk penerangan.
”Kalau belajar malam di dekat lampu minyak itu, paginya hidung dan upil hitam,” katanya tertawa.
Pada masa itu, hanya beberapa warga yang memasang genset untuk penerangan dan kebutuhan listrik di rumah. Mereka pasti dari keluarga kaya karena harga genset mahal, belum lagi ongkos mengisi solarnya.
Listrik baru mulai merata di rumah-rumah warga bertahap sepanjang 2017-2019. Di masa-masa itu, Aulia sudah di bangku SMA. Untuk kebutuhan mengerjakan tugas, ia biasanya tak langsung pulang dari sekolah.
”Kerja kelompok sore, pulang sampai rumah malam,” katanya.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kaltim Muhammad Faisal menyatakan, pemerintah daerah telah menyiapkan anggaran untuk memfasilitasi internet di 841 desa atau semua desa di Kaltim. Menurut rencana, akan ada pula perluasan jaringan dengan akses poin di sekitar kantor desa agar warga sekitar bisa juga mendapat akses internet.
”Tantangan utama memang cukup besar, mulai dari kondisi geografis hingga infrastruktur yang belum merata dan kondisi demografis,” ujarnya.
Dengan karakteristik semacam itu, diharapkan pemerintah menjamin internet yang disediakan bisa diakses seluruh warga. Bandwidth internet yang disediakan pemerintah hendaknya mempertimbangkan jumlah warga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/02/67655999-d509-43f2-b30e-d731d5c63381_jpg.jpg)
Bandwidth adalah kapasitas maksimum data yang dapat ditransfer melalui koneksi internet dalam suatu periode waktu tertentu. Semakin banyak pengguna internet, semakin banyak data yang ditransfer. Jika bandwidth penuh, internet akan lambat.
Sebagai mahasiswa, Refli berharap internet tidak hanya terpusat di kantor desa. Ia membayangkan, dari kantor desa, jaringan internet bisa diperlebar dengan penyediaan repeater yang menjangkau semua RT.
”Di kampung ini kondisi geografisnya unik. Ada yang rumahnya jauh di ladang dan jalan belum aspal. Kalau harus ke kantor desa dulu untuk dapat sinyal pas hujan, enggak bisa,” katanya.
Selain urusan pemuda, internet pun penting untuk berbagai kepentingan publik warga desa. Refli sering diminta bantuan oleh tetangganya untuk mengirim laporan RT ke desa.
Beberapa kali ia juga membantu warga mengunduh video tutorial untuk pindah layanan fasilitas pelayanan kesehatan di aplikasi Mobile JKN. Hal itu terjadi lantaran internet tak menjangkau semua rumah warga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/02/17d921c3-5890-4e19-88de-748c70bd131b_jpg.jpg)
Internet untuk salah satu provider baru dipasang dengan jangkauan terbatas saat Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berkunjung ke Desa Muara Langon pada 14 Juni 2025. Setelah kunjungan usai, selesai pula warga bisa mengakses internet. Miris.
Sampean, mahasiswa doktoral Sosiologi Pedesaan IPB University dan peneliti Laboratorium Data Desa Presisi, dalam Opini Kompas pada 30 Juni 2025 menyebut, selama internet belum menyapa semua rumah, kesenjangan akan terus melebar. Ia mengistilahkan kemiskinan digital untuk menyebut warga yang tak punya akses internet.
”Kemiskinan digital adalah wujud baru ketimpangan. Ia sunyi, tak selalu terlihat, tapi nyata menghalangi langkah jutaan warga menuju kehidupan lebih baik,” tulisnya.
Penulis:
SuciptoEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti