Natal dan Kota Mesias yang Sungsang

Kota bersejarah itu masih terpasung oleh beban sejarah akibat konflik berkepanjangan yang tak kunjung usai.

24 Des 2024 09:02 WIB · Opini

Oleh Anwar Tjen

Pada musim dingin menjelang Natal (1865), Phillips Brooks, seorang rohaniwan dari gereja episkopal, melakukan perjalanan dari Jerusalem ke Betlehem. Jarak sekitar 10 kilometer ditempuhnya dengan menunggang kuda selama dua jam.

Ia melanjutkan tapak tilasnya ke padang penggembalaan yang diyakini sebagai tempat para gembala menjaga domba-domba. Panorama memikat dan suasana hening sekitarnya menoreh kesan mendalam baginya.

Kenangan mengesankan itu menginspirasi lahirnya kidung terkenal bernada sentimental (”O Little Town of Bethlehem”; ”Hai Kota Mungil Betlehem”, Yamuger 1978):

Hai kota mungil Betlehem, betapa kau senyap;

bintang di langit cemerlang melihat kau lelap.

Namun, di lorong g’lapmu bersinar T’rang baka:

harapanmu dan doamu kini terkabullah.

Lantunan nyanyian syahdu itu mengundang kita masuk ke dalam ruang sakral teks-teks Kitab Suci untuk menapak tilas jejak-jejak Mesias yang lahir di sana.

Jejak ”yang lain” di Betlehem

Yosefus, sejarawan Yahudi, menyebut sekilas tentang Yesus, seorang guru bijak yang melakukan perbuatan-perbuatan ajaib dan menarik banyak orang Yahudi serta bukan Yahudi menjadi pengikut-Nya.

Namun, ia tidak menyinggung tentang asal-usul dan kelahiran-Nya. Sejatinya, di antara keempat kitab Injil pun, hanya Injil Matius dan Injil Lukas yang memuat kisah kelahiran Yesus.

Beberapa variasi teramati dalam kedua kisah itu, tetapi terdapat kesejajaran yang mendasar. Yusuf adalah keturunan Daud. Yesus bukan anak biologisnya dari Maria, melainkan lahir melalui karya Roh Kudus. Betlehem adalah tempat lahir-Nya dan Nazaret tempat Ia dibesarkan.

Tradisi yang diabadikan dalam teks-teks Kitab Suci mengingat Betlehem sebagai kampung halaman Daud. Atas perintah Tuhan, Nabi Samuel menemui Isai, orang Betlehem, untuk memilih salah seorang putranya sebagai pengganti Saul, raja pertama di Israel (1 Samuel 16). Pilihan-Nya jatuh pada Daud yang menggembalakan domba di Efrata.

Tradisi lain yang menelusuri jejak leluhur Daud terbaca dalam kitab Rut yang merayakan cinta kasih penuh kesetiaan.

Sepeninggal suaminya, Rut, seorang perempuan Moab, mengikuti ibu mertuanya yang miskin kembali ke Betlehem: ”Bangsamulah bangsaku dan Allahmu Allahku” (Rut 1:16).

Suasana malam Natal di Gereja Katedral Ambon.

Ia kelak dikenang sebagai nenek yang melahirkan Obed, kakek Daud. Ingatan berwatak inklusif ini mengakui jejak goyim, bangsa-bangsa ”lain” dalam diri Daud dan dinastinya.

Injil Matius pasal pertama mencantumkan nama Rut bersama tiga perempuan lain dalam silsilah Yesus Kristus. Martin Luther, seorang doktor Kitab Suci pada abad ke-16, memandang Rahab dan Tamar sebagai representasi bangsa-bangsa Kanaan.

Perempuan lain yang tidak disebutkan namanya adalah istri Uria, orang Het. Daud merampas istri prajurit setianya, tetapi tetap berusaha membersihkan jejaknya. Uria dihabisi dengan menugaskannya di lini terdepan pertempuran.

Ruang bagi ”goyim”

Asal-usul yang tidak murni dan rapi dalam silsilah Yesus Kristus menggemakan pesan Injil bagi bangsa-bangsa. Tradisi yang terpelihara dalam ingatan di balik Injil Matius menuturkan betapa kelahiran-Nya disambut oleh orang-orang asing dari Timur.

Dalam bahasa Yunani, istilah magoi dapat dipahami dengan berbagai arti. Sejarawan Herodotus, yang berkarya pada abad ke-4 sebelum Masehi, menggunakannya untuk para imam Zoroaster dari Persia.

Quote

Tahun ini, seperti tahun sebelumnya, tidak terlihat suasana perayaan meriah menyambut kelahiran Mesias.

Istilah itu digunakan oleh Filo dari Aleksandria, filsuf Yahudi yang sezaman dengan Yesus, baik untuk para cerdik cendikia maupun para penyihir. Kata ”magis” yang kini dikenal luas berakar dari kata yang sama.

Di kemudian hari Bapa Gereja Gregorius Nazianzus menafsirkan kedatangan para magoi yang menyembah Yesus sebagai tanda berakhirnya astrologi. Kuasa-kuasa adikodrati yang menentukan nasib manusia di bawah pengaruh benda-benda langit telah dilucuti.

Akan tetapi, wajar dipertanyakan apakah interpretasi yang sejauh itu dapat dibenarkan dari sudut pandang Injil Matius. Dalam karya klasiknya (The Birth of the Messiah, 1993), Raymond E Brown, pakar biblika Katolik, mengusulkan tatapan yang berbeda.

Dalam pandangannya, pencarian mereka adalah bagian dari wahyu yang diterima melalui tanda-tanda alam. Kendati masih samar-samar, alam pun bersabda menyingkapkan jejak-jejak Ilahi (baca Mazmur 19).

Seorang pendukung proPalestina mengenakan bendera Palestina di sepanjang jalan perbelanjaan Mariahilfer yang terkenal di Wina, dihiasi dengan lampu Natal di Wina, Austria saat pertempuran antara Israel dan kelompok militan Palestina Hamas berlanjut di Jalur Gaza, Kamis (21/12/2023). AFP/Joe Klamar *** Local Caption *** A pro-Palestinian supporter wears and waves Palestinian flags along Vienna’s famous Mariahilfer shopping street, decorated with the Christmas lights in Vienna on December 21, 2023, as battles between Israel and the militant Palestinian group Hamas continue in the Gaza Strip. (Photo by Joe Klamar / AFP)

”Kota Daud”

Berbeda dengan Jerusalem yang memang digelari ”Kota Daud”, Betlehem bukanlah ”Kota Daud” dalam tradisi yang paling dikenal sepanjang sejarah Israel kuno.

Hanya Injil Lukas yang menyematkan gelar itu pada Betlehem tatkala malaikat menyampaikan Kabar Sukacita kepada para gembala: ”Hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat (soter), yaitu Mesias, Tuhan, di kota Daud” (Lukas 2:11).

Istilah Yunani soter adalah gelar kehormatan bagi Kaisar Augustus. Dalam inskripsi dari Priene, kelahirannya diproklamasikan sebagai kelahiran dewa yang menandai permulaan Kabar Baik (euanggelion), ”Injil” bagi seluruh dunia!

Augustus dikenang sebagai pendiri imperium Romawi yang membawa ketenteraman bagi seisi dunia meskipun Pax Romana ditegakkan dengan tangan besi.

Dalam konteks ini, maklumat malaikat di Betlehem terdengar sebagai ”Injil” subversif yang menantang propaganda imperialistik.

”Mesias” (Ibrani, masiakh) adalah orang yang ”diurapi”, diolesi atau dituangi dengan minyak sebagai simbol pengukuhan status khususnya. Raja-raja yang diurapi Tuhan diyakini sebagai duta-Nya yang memerintah dunia.

Quote

Betlehem masa kini berada di wilayah Palestina yang diduduki Israel.

Dalam kitab Mazmur, Daud ditinggikan sebagai putra sulung-Nya di atas raja-raja dunia. Tiada musuh yang akan menaklukkannya (Mazmur 89).

Akan tetapi, fakta sejarah berkata lain. Ketika pasukan Babel membumihanguskan Jerusalem (akhir abad ke-6 sebelum Masehi), berikut dengan Bait Suci, tragedi ini memicu krisis. Umat yang meyakini pilihan Tuhan diseret ke pembuangan di negeri goyim.

Tanpa kedaulatan politis, harapan akan pemulihan bangsa digeser ke masa depan. Dari masa ke masa bermunculan tokoh-tokoh pembebas, di antaranya Makabe dan saudara-saudaranya yang mendirikan dinasti Hasmoni.

Sayangnya, mereka bukan pemimpin dari garis keturunan Daud! Di kalangan Yahudi sendiri muncul resistensi terhadap dinasti yang tidak ”sah”.

Komunitas Qumran di tepi Laut Mati memisahkan diri dari Jerusalem yang korup, sedangkan menantikan datangnya Mesias Kebenaran yang akan mengenyahkan goyim.

Mazmur-mazmur yang dikaitkan dengan nama Salomo (Psalms of Solomon) mengungkapkan harapan bangkitnya raja dinasti Daud yang mengenyahkan para penguasa yang tidak benar dan menyapu bersih Jerusalem dari bangsa-bangsa asing. Ditilik dari perspektif ini, Yesus dari Nazaret tidak memenuhi aspirasi mesianik yang didambakan!

Para pengurus gereja membuat pohon Natal dari bahan botol plastik bekas di Gereja Santa Theresia Jakarta, Kamis (19/12/2024). Pengurus Gereja Santa Theresia Jakarta membuat dekorasi Natal dengan menggunakan barang-barang bekas, salah satunya pohon Natal yang dibuat dengan botol plastik bekas. Sebanyak 900 botol bekas digunakan oleh ibu-ibu Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) cabang Santa Theresia untuk dijadikan pohon Natal. Pohon Natal itu dibuat selama 3 hari. Selain pohon Natal, botol bekas juga dijadikan hiasan berbentuk rusa. Pemilihan botol bekas untuk hiasan Natal mengacu pada tema Natal tahun ini yaitu "Kembali ke Betlehem". Teman ini mempunyai makna sebagai refleksi atas nilai-nilai kasih, damai, keadilan, dan kesederhanaan. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 19-12-2024

Harapan

Betlehem masa kini berada di wilayah Palestina yang diduduki Israel. Kota bersejarah itu masih terpasung oleh beban sejarah akibat konflik berkepanjangan yang tak kunjung usai. Tembok-tembok pengaman dibangun sekelilingnya untuk membatasi gerak warganya.

Tahun ini, seperti tahun sebelumnya, tidak terlihat suasana perayaan meriah menyambut kelahiran Mesias. Kidung syahdu tentang kota kecil itu terdengar sendu.

Berbanding terbalik dengan antusiasme para gembala untuk menemui Bayi Yesus ribuan tahun silam, sebagian penduduknya malah berjuang untuk meninggalkannya demi kehidupan yang lebih manusiawi.

Bagaimana merayakan kehadiran Juruselamat dalam kondisi demikian? Benar, harapan dan doanya masih belum terkabul.

Kendati demikian, para pemimpin gereja tetap menyuarakan Injil pengharapan: ”Dalam situasi ketidakpastian dan konflik yang berkecamuk di wilayah kami, kami bersiteguh memberitakan pesan Natal tentang Terang yang bercahaya dalam kegelapan: Kelahiran Tuhan Yesus di Betlehem".

”Sebab, dalam kelahiran Kristus, cahaya keselamatan Allah telah masuk ke dalam dunia, menerangi semua yang menerima-Nya, dulu dan kini, serta menawarkan anugerah demi anugerah untuk mengatasi kuasa-kuasa kegelapan dan kejahatan yang tak henti-hentinya berkonspirasi menghancurkan ciptaan Allah.”

Anwar Tjen, Pendeta GKPI; Kepala Departemen Penerjemahan Lembaga Alkitab Indonesia


Kerabat Kerja

Penulis:

Anwar Tjen
 | 

Editor:

Sri Hartati Samhadi, Yohanes Krisnawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase