NATO mengumumkan kesepakatan belanja senjata senilai puluhan miliar dolar AS. Ini sejalan dengan tuntutan Trump. Namun, ambisi Trump mencaplok Greenland tak surut.
08 Jul 2026 11:00 WIB · Internasional
AP Photo/Hussein Malla
ANKARA, RABU — Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO mencapai kesepakatan belanja senjata senilai 50 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp 898 triliun. Kesepakatan dibuat seiring tuntutan Presiden AS Donald Trump agar negara-negara anggota NATO meningkatkan anggaran pertahanan. Namun, Trump tetap ngotot merebut Greenland dari Denmark yang meningkatkan ketegangan dengan Eropa.
Kesepakatan belanja senjata tercapai dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Turki, Selasa (7/7/2026). KTT digelar di tengah retaknya hubungan AS dengan anggota NATO lainnya.
Trump berulang kali menyampaikan kekecewaannya terhadap NATO karena dinilai tak memberikan dukungan penuh saat AS bersama Israel menyerang Iran. Dalam pertemuan pada Rabu (8/7/2026), para pemimpin NATO berupaya membujuk Trump untuk kembali berkomitmen pada aliansi pertahanan itu.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengatakan, negara-negara Eropa telah meningkatkan anggaran pertahanannya. Ia pun menyerukan revolusi industri pertahanan di seluruh aliansi sembari memperingatkan tentang besarnya pengeluaran militer Rusia, China, Korea Utara, dan Iran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/08/f567da3758901874e1f2ff16d1cf2892-Turkey_NATO_Summit.jpg)
”Kita tidak punya waktu luang. Kita membutuhkan kemampuan sekarang untuk memastikan kita tetap siap. Situasi keamanan menuntutnya. Suara deru mesin harus menjadi deru yang keras,” ujarnya.
Menurut seorang pejabat NATO, kesepakatan belanja senjata itu bernilai setidaknya 50 miliar dolar AS. Kesepakatan meliputi berbagai kontrak pembelian senjata, termasuk pembelian pesawat nirawak (drone) pengawas oleh negara-negara Eropa dari perusahaan AS, Northrop Grumman.
Selain itu, ada pembelian pesawat oleh NATO dari perusahaan teknologi dirgantara asal Swedia, Saab. Saham Saab sempat naik lebih dari 5 persen karena investor memperkirakan perusahaan tersebut diuntungkan dari peningkatan anggaran persenjataan Eropa.
Saab disebut akan memasok hingga 10 pesawat pengintai GlobalEye baru untuk 10 negara. Pesawat-pesawat itu diproyeksikan menggantikan pesawat pengintai radar peringatan dini AWACS yang sudah berusia 50 tahun. GlobalEye terdiri dari serangkaian sensor yang menggunakan radar canggih yang dipasang di jet jarak jauh Bombardier Global 6000/6500.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/08/22b9731411d9b9b2eb0252d8f2eebaeb-Turkey_NATO_Summit_2_.jpg)
Beberapa proyek pembelian senjata menggunakan dana dari sistem pinjaman murah untuk tujuan pertahanan yang dibentuk oleh Uni Eropa. Dana sebesar 170 miliar dolar AS itu dikumpulkan di pasar modal.
Inggris, Perancis, Jerman, dan negara-negara Eropa lainnya bakal menghabiskan miliaran dolar AS selama 10 tahun ke depan untuk mengembangkan senjata presisi jarak jauh. Langkah ini bagian dari peningkatan kemampuan pertahanan NATO. Senjata-senjata tersebut memiliki kemampuan untuk secara akurat menyerang target setidaknya sejauh 300 kilometer.
”Inisiatif yang dipimpin Inggris ini akan memungkinkan kita untuk meningkatkan kerja sama, menyatukan sekutu Eropa untuk memastikan NATO tetap aman dan terlindungi selama bertahun-tahun mendatang,” kata Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.
Kita tidak punya waktu luang. Kita membutuhkan kemampuan sekarang untuk memastikan kita tetap siap. Situasi keamanan menuntutnya. Suara deru mesin harus menjadi deru yang keras.
Secara terpisah, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy kembali mengajukan permohonan agar negaranya diizinkan bergabung dengan NATO. Ia mengatakan, angkatan bersenjata negaranya sangat berpengalaman sehingga akan meningkatkan kemampuan pertahanan NATO.
Zelenskyy menyoroti kemampuan Ukraina untuk menyerang jauh ke wilayah Rusia dan menghantam kilang minyak serta target energi lainnya. Ia mengklaim angkatan bersenjata Ukraina menyasar rata-rata 30.000 tentara Rusia setiap bulan.
Ia dijadwalkan bertemu dengan Trump di Ankara, Rabu. ”Terus terang, kami tidak bangga akan hal ini. Ini perang (dengan Rusia) yang tidak kami inginkan, tetapi terpaksa kami lawan,” ucapnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/08/e9cb1eae0abff23a2d2ac3a3e4200742-Turkey_NATO_Summit_3_.jpg)
Kekhawatiran meningkat di beberapa negara Eropa terkait kemungkinan Rusia sedang mempersiapkan serangan hibrida, yakni kombinasi perang konvensional dengan serangan siber. Namun, seorang pejabat senior NATO, yang berbicara di sela-sela KTT, mengungkap, aliansi tersebut telah mencegah potensi serangan Moskwa terhadap negara anggota.
Trump mengungkap telah berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Zelenskyy sebelum KTT NATO berlangsung. Pembicaraan itu tentang rencana untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina yang telah bergejolak lebih dari empat tahun.
”Saya pikir mereka berdua ingin membuat kesepakatan. Sayang sekali butuh waktu lama. Sesuatu akan muncul,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/22/0ce3d758d5eda2136bff026958a95dda-20260122_DMS_AS_beli_GreenLand_mumed.png)
Trump pun belum menyurutkan ambisinya merebut Greenland dari Denmark. Padahal, Denmark juga anggota NATO. Hal ini menjadi salah satu pemicu renggangnya hubungan AS dan NATO dalam beberapa waktu terakhir.
”Itu (Greenland) seharusnya dikendalikan oleh AS, bukan oleh Denmark. Itulah yang merusak hubungan saya dengan NATO. Denmark tidak mengeluarkan uang untuk benar-benar membantu Greenland, tetapi itu bagian penting bagi AS,” kata Trump.
Trump mengklaim AS membutuhkan Greenland demi keamanan nasional. Ia menyebutkan, pulau berlapis es itu dikelilingi oleh kapal-kapal China dan Rusia. Greenland dipandang sebagai penyangga strategis untuk menahan tekanan China dan Rusia di kawasan Arktik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/08/20f99de3ff938aea071db2de05db4545-APTOPIX_Turkey_NATO_Summit.jpg)
Dalam KTT, Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen berharap anggota NATO menghormati kedaulatan negaranya. Ia menegaskan, Greenland tidak untuk dijual.
Selain itu, Trump mengumumkan akan mencabut sanksi terhadap Turki yang diberlakukan pada 2020 saat negara itu membeli rudal pertahanan udara dari Rusia. Ia menyatakan kesediaan AS untuk menjual jet tempur F-35 kepada Turki. (REUTERS/AP/AFP)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul