Upaya untuk meningkatkan anggaran pertahanan ini dilakukan atas dorongan Presiden AS Donald Trump, mengantisipasi potensi ancaman dari Rusia.
10 Jun 2025 06:00 WIB · Internasional
LONDON, SENIN — Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO merasa perlu mendongkrak anggaran pertahanan, termasuk meningkatkan kemampuan pertahanan udara dan rudal hingga 400 persen. Hal itu dimaksudkan untuk melindungi aliansi ini dari ancaman Rusia.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte akan meminta setiap negara anggota NATO meningkatkan anggaran pertahanan hingga 5 persen dari pendapatan nasional.
Dalam rilis resmi NATO yang diterima The Associated Press (AP), Sekjen NATO Mark Rutte diagendakan menyampaikan pentingnya kenaikan anggaran pertahanan negara-negara anggota NATO tersebut dalam pidatonya di lembaga pemikir Chatam House di London, Senin (9/6/2025). Dalam laman resmi NATO disebutkan Rutte dijadwalkan akan berpidato di Chatam House pada Senin pukul 16.45 CEST atau 23.45 WIB.
Untuk memperkuat pencegahan dan pertahanan yang kredibel, NATO dipandang membutuhkan peningkatan 400 persen dalam pertahanan udara dan rudal. ”Faktanya, NATO membutuhkan lompatan kuantum dalam pertahanan kolektif kita untuk menghadapi ketidakstabilan dan ancaman yang berkembang,” demikian pernyataan Rutte dalam rilis NATO yang dipublikasikan sebelum pidatonya.
Ketidakstabilan dan ancaman yang dimaksud mengacu pada perang Rusia-Ukraina yang saat ini sudah berlangsung tiga tahun. ”Kita melihat di Ukraina bagaimana Rusia menyebarkan teror dari udara. Jadi kita akan memperkuat perisai yang melindungi langit kita,” kata Rutte dalam rilis NATO.
Sebelum berpidato di Chatam House, Rutte diagendakan bertemu Perdana Menteri Inggris Keir Starmer di kantor PM Starmer di Downing Street 10, London. Pertemuan itu salah satunya juga akan membahas anggaran belanja pertahanan negara anggota NATO.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/09/4a2c54c8-0928-4596-83af-4aafbfa8cb70_jpg.jpg)
Seruan dan permintaan ini nantinya juga akan ditekankan kembali oleh Rutte dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Den Haag, Belanda, 24-25 Juni mendatang. KTT itu akan menjadi ajang final ke-32 negara anggota NATO merespons permintaan Presiden AS Donald Trump.
Dari perang Rusia-Ukraina yang masih berlangsung, Trump meminta negara-negara anggota NATO meningkatkan belanja pertahanan hingga 5 persen dari produk domestik bruto (PDB) mereka dari target 2 persen selama ini. Permintaan itu berkaitan dengan fokus AS yang saat ini menaruh perhatian lebih pada tantangan keamanan di luar Eropa.
Dalam pertemuan para menteri luar negeri negara-negara anggota NATO, 15 Mei 2025, di Antalya, Turki, permintaan AS itu ditegaskan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Merujuk laporan AP 16 Mei 2025, Rubio menegaskan, AS menuntut negara-negara sekutu untuk mengalokasikan 5 persen dari PDB mereka untuk pertahanan selama tujuh tahun ke depan.
”Belanja tersebut dibutuhkan untuk menghadapi ancaman abad ke-21,” kata Rubio.
Berikutnya, pada pertemuan para menteri pertahanan negara-negara NATO di Brussels, Belgia, Kamis (5/6/2025), Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengulang kembali perlunya alokasi 5 persen dari PDB untuk belanja pertahanan.
Rutte dalam pertemuan di Brussels pekan lalu mengusulkan agar setiap negara anggota NATO mengalokasikan anggaran 3,5 persen untuk belanja perangkat militer. Lalu sisanya, 1,5 persen, untuk belanja terkait pertahanan seperti jalan, jembatan, lapangan udara, dan pelabuhan laut.
Langkah ini dimaksudkan untuk memenuhi target 5 persen dari PDB yang diminta Trump sebagai kontribusi minimal dari setiap negara anggota. Pada pekan lalu, Rutte menyatakan keyakinannya bahwa target 5 persen itu akan disepakati dalam KTT NATO dua pekan mendatang.
”Ini bukan hanya tentang memenuhi permintaan politik, melainkan juga tentang menjamin keamanan jangka panjang Eropa dan wilayah Atlantik Utara secara keseluruhan,” ujar Rutte.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/15/38295058-5c19-401b-9148-dd9b2f508f5c_jpg.jpg)
Anggota NATO sudah mengupayakan untuk meningkatkan belanja pertahanan mereka sejak Rusia melancarkan perang melawan Ukraina pada Februari 2022. Dari permintaan awal Trump supaya anggota NATO mengalokasikan 2 persen anggaran untuk belanja pertahanan, saat ini, 22 dari 32 negara anggota memenuhi atau melampaui target itu.
Inggris merupakan salah satu anggota NATO yang meninjau ulang anggaran belanja pertahanannya sejak invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada Februari 2022. Starmer berjanji untuk meningkatkan anggaran belanja pertahanan Inggris menjadi 2,5 persen dari PDB pada 2027.
Selain itu, Pemerintah Inggris mengatakan akan membangun kapal selam serang bertenaga nuklir baru, mempersiapkan tentaranya untuk berperang di Eropa, dan menjadi negara yang siap tempur serta berlapis baja. Rencana tersebut merupakan perubahan paling besar pada pertahanan Inggris sejak runtuhnya Uni Soviet lebih dari tiga dekade lalu.
Secara terpisah, Rusia mengecam langkah NATO meningkatkan anggaran pertahanan itu. ”NATO menunjukkan dirinya sebagai alat agresi dan konfrontasi,” kata Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov kepada wartawan. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar