WARSAWA, JUMAT — Penerobosan 19 pesawat nirawak Rusia ke Polandia memberi peringatan serius. Pakta Pertahanan Atlantik Utara tak siap perang era baru yang antara lain melibatkan pesawat nirawak.
Dalam pernyataan pada Kamis (11/9/2025) siang waktu Washington DC atau Jumat dini hari WIB, Presiden Amerika Serikat Donald Trump berharap Rusia tak sengaja menerbangkan pesawat nirawak ke Polandia. Di sisi lain, ia menyatakan tak senang dengan perkembangan perang Ukraina.
Pada Rabu (10/9/2025) dini hari, 19 pesawat nirawak Rusia menerobos wilayah udara Polandia. Puing-puing pesawat itu berjatuhan di kota-kota dekat perbatasan Polandia dengan Belarus, Ukraina, dan Slowakia.
Puing terjauh ditemukan di Olesno. Kota itu berada 400 kilometer dari perbatasan Polandia-Ukraina dan hampir 1.000 kilometer dari wilayah terdekat Rusia dengan Polandia.
Polandia belum mengidentifikasi jenis pesawat yang dijatuhkan. Hal yang jelas, Rusia paling kerap memakai Geran 1 atau Shaheed-131 dan Geran 2 alias Shaheed-136 untuk menyerang Ukraina. Geran 1 bisa terbang sampai 900 kilometer, Geran 2 sampai 2.500 kilometer.
Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan, pesawat yang dikirimkan ke Ukraina berjangkauan rata-rata 750 kilometer. Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan, spesifikasi itu menyangkal tudingan Polandia. Warsawa dituding berusaha memancing perluasan perang Ukraina.
Di sisi lain, Rusia juga menyatakan beberapa pesawat nirawak yang diarahkan ke Ukraina diacak sinyalnya. Akibatnya, pesawat melenceng dari jalur.
Pesawat tempur negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) memburu dan menjatuhkan pesawat nirawak Rusia. ”Menggunakan F-35 dan F-22 menghadapi pesawat nirawak menandakan kita tidak siap,” kata Letnan Jenderal (Purn) Benjamin Hodges, mantan Panglima Komando Pasukan Amerika Serikat di Eropa (USEUCOM).
Letjen (Purn) Jarosław Gromadziński sepakat dengan Hodges. Gromadziński pernah jadi Komandan Pusat Kendali Operasi Gabungan Militer Eropa, Eurocorps. Kini, Gromadziński menjadi Presiden Akademi Defense24 Polandia.
”Seperti menembak lalat dengan meriam. Kita seharusnya membangun pertahanan udara berlapis yang di ketinggian terendahnya bertanggung jawab untuk mengacak dan menembak,” kata Gromadziński dalam wawancara yang disiarkan laman Euronews .
NATO senantiasa bersiap menangkis rudal dan serangan lain dengan ketinggian setara. Sementara untuk serangan pesawat nirawak, NATO dinilai tak punya rencana dan berulang kali kalah.
NATO bereaksi
Para anggota NATO menjanjikan bantuan untuk Polandia. Menteri Pertahanan Polandia Wladyslaw Kosiniak-Kamysz mengatakan, Belanda akan mengirimkan artileri pertahanan udara (arhanud), artileri medan (armed), dan 300 tentara untuk mengoperasikannya.
Ceko akan mengirim helikopter dan 100 tentara. Adapun Perancis dan Jerman menjanjikan tambahan jet tempur untuk patroli di perbatasan anggota NATO dengan Rusia, Belarus, dan Ukraina.
Kosiniak-Kamysz menyebut langkah negara-negara sekutu tersebut sebagai langkah nyata. ”Polandia sering hanya menerima kata-kata solidaritas dan isyarat kosong sepanjang sejarahnya. Hari ini, kami mendapati deklarasi konkret,” kata Kosiniak-Kamysz.
Hingga empat jet tempur Eurofighter akan dikerahkan Jerman untuk patroli di perbatasan itu. Misi itu akan berlangsung sampai akhir 2025. Sementara Perancis akan mengirimkaan tiga jet tempur Rafale. ”Kami tidak akan tunduk pada intimidasi Rusia yang semakin meningkat,” kata Presiden Perancis Emmanuel Macron.
Para pemimpin Polandia dan Eropa meyakini Polandia sengaja menjadi sasaran. ”Jika satu atau dua pesawat nirawak melintasi wilayah udara Polandia, itu bisa jadi merupakan ’kerusakan teknis’. Akan tetapi, tidak masuk akal jika itu merupakan ’kecelakaan’ mengingat ada 19 drone,” kata Menteri Luar Negeri Polandia Radek Sikorski.
”Meskipun sulit membuktikan niat, membiarkan beberapa pesawat nirawak tersesat mulai terlihat disengaja,” ujar Thomas Withington, pakar peperangan elektronik di Royal United Services Institute di London.
Withington menyatakan, salah satu tujuan Rusia adalah untuk menguji reaksi dan kemampuan NATO dalam merespons pesawat nirawak.
Presiden Polandia Karol Nawrocki, senada dengan komentar rekan-rekannya dari Jerman dan Perancis juga menyatakan, ”Provokasi Rusia ini tidak lebih dari upaya untuk menguji kemampuan kami (NATO).”
Namun, para ahli dan kepala negara memiliki pandangan berbeda-beda terkait apakah Moskwa memang benar-benar sengaja meluncurkan pesawat nirawak ke Polandia. Komandan Militer Tertinggi NATO untuk Eropa Alexus Grynkewich menyatakan, jumlah pesawat nirawak yang memasuki wilayah udara Polandia masih perlu diteliti. ”Masih banyak yang belum jelas, dan untuk saat ini, NATO bersikap hati-hati,” ujar Grynkewich.
”Kami belum tahu apakah ini tindakan yang disengaja atau tidak disengaja,” kata Grynkewich.
”Sulit tanpa bukti kuat untuk mengatakan apakah Moskwa benar-benar bermaksud menerbangkan drone ke Polandia,” kata Ash Alexander-Cooper, mantan Komandan Militer Spesialis dan Wakil Presiden Dedrone, produsen teknologi untuk mendeteksi dan menetralisasi ancaman pesawat nirawak.
Namun, berdasarkan apa yang diketahui tentang pesawat nirawak Rusia dan bagaimana mereka merespons peperangan elektronik, para ahli kepada AP mengatakan, sangat mungkin serangan itu disengaja.
Perketat perbatasan
Sejak Januari 2025, menurut analisis The Associated Press atas data Angkatan Udara Ukraina, Rusia mengerahkan 35.698 pesawat nirawak serbu ke Ukraina. Wilayah udara Polandia telah dilanggar beberapa kali sejak dimulainya invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada Februari 2022.
Selain melanggar wilayah udara Polandia, pesawat nirawak juga memasuki Romania dan Moldova. Pesawat Rusia juga menerobos Latvia, Lituania, dan Estonia.
Menyikapi pelanggaran tersebut, Polandia akan menutup lalu lintas udara di sepanjang perbatasan timur dengan Belarus dan Ukraina untuk penerbangan sipil hingga ketinggian tiga kilometer. Penutupan direncanakan berlangsung hingga 9 Desember 2025. Badan Pengatur Lalu Lintas Udara PAZP juga mengumumkan pesawat nirawak akan dilarang.
Penutupan tersebut terungkap dalam pertemuan Dewan Keamanan Nasional Polandia dan Menteri Pertahanan Polandia pada Kamis (11/9/2025). Penutupan itu menjadi bagian dari langkah Polandia meningkatkan keamanannya.
Polandia akan menutup penyeberangan di perbatasan dengan Belarus mulai Jumat ini. Hal itu disebabkan Belarus akan menggelar latihan militer dengan Rusia sekutunya pada 12-16 September 2025.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova dalam sebuah pernyataan mendesak Polandia untuk mempertimbangkan konsekuensi dari langkah-langkah destruktif tersebut. Kremlin juga mendesak Polandia meninjau kembali keputusannya sesegera mungkin.
”Penutupan perbatasan tersebut dimaksudkan untuk membenarkan kebijakan yang semakin meningkatkan ketegangan di pusat Eropa,” imbuh Maria.
Di Beijing, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Lin Jian mengatakan dalam jumpa pers rutin, China berharap semua pihak terkait akan menyelesaikan perselisihan mereka dengan baik melalui dialog dan konsultasi.
(AP/AFP/Reuters)
WARSAWA, JUMAT — Penerobosan 19 pesawat nirawak Rusia ke Polandia memberi peringatan serius. Pakta Pertahanan Atlantik Utara tak siap perang era baru yang antara lain melibatkan pesawat nirawak.
Dalam pernyataan pada Kamis (11/9/2025) siang waktu Washington DC atau Jumat dini hari WIB, Presiden Amerika Serikat Donald Trump berharap Rusia tak sengaja menerbangkan pesawat nirawak ke Polandia. Di sisi lain, ia menyatakan tak senang dengan perkembangan perang Ukraina.
Serial Artikel
Rusia Bombardir Ukraina dengan Pesawat Nirawak
Serangan militer Rusia kembali melanda warga Kyiv, Ukraina. Dalam sepekan terakhir, ibu kota Ukraina itu terus menjadi sasaran serangan rudal dan pesawat nirawak Rusia.
Pada Rabu (10/9/2025) dini hari, 19 pesawat nirawak Rusia menerobos wilayah udara Polandia. Puing-puing pesawat itu berjatuhan di kota-kota dekat perbatasan Polandia dengan Belarus, Ukraina, dan Slowakia.
Puing terjauh ditemukan di Olesno. Kota itu berada 400 kilometer dari perbatasan Polandia-Ukraina dan hampir 1.000 kilometer dari wilayah terdekat Rusia dengan Polandia.
Polandia belum mengidentifikasi jenis pesawat yang dijatuhkan. Hal yang jelas, Rusia paling kerap memakai Geran 1 atau Shaheed-131 dan Geran 2 alias Shaheed-136 untuk menyerang Ukraina. Geran 1 bisa terbang sampai 900 kilometer, Geran 2 sampai 2.500 kilometer.
Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan, pesawat yang dikirimkan ke Ukraina berjangkauan rata-rata 750 kilometer. Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan, spesifikasi itu menyangkal tudingan Polandia. Warsawa dituding berusaha memancing perluasan perang Ukraina.
Di sisi lain, Rusia juga menyatakan beberapa pesawat nirawak yang diarahkan ke Ukraina diacak sinyalnya. Akibatnya, pesawat melenceng dari jalur.
Pesawat tempur negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) memburu dan menjatuhkan pesawat nirawak Rusia. ”Menggunakan F-35 dan F-22 menghadapi pesawat nirawak menandakan kita tidak siap,” kata Letnan Jenderal (Purn) Benjamin Hodges, mantan Panglima Komando Pasukan Amerika Serikat di Eropa (USEUCOM).
Letjen (Purn) Jarosław Gromadziński sepakat dengan Hodges. Gromadziński pernah jadi Komandan Pusat Kendali Operasi Gabungan Militer Eropa, Eurocorps. Kini, Gromadziński menjadi Presiden Akademi Defense24 Polandia.
”Seperti menembak lalat dengan meriam. Kita seharusnya membangun pertahanan udara berlapis yang di ketinggian terendahnya bertanggung jawab untuk mengacak dan menembak,” kata Gromadziński dalam wawancara yang disiarkan laman Euronews .
NATO senantiasa bersiap menangkis rudal dan serangan lain dengan ketinggian setara. Sementara untuk serangan pesawat nirawak, NATO dinilai tak punya rencana dan berulang kali kalah.
Serial Artikel
NATO Siapkan Rudal Patriot Tambahan untuk Ukraina
NATO mengucurkan bantuan militer baru untuk Ukraina. Selain F-16, NATO akan mengirim sistem pertahanan udara Patriot.
Para anggota NATO menjanjikan bantuan untuk Polandia. Menteri Pertahanan Polandia Wladyslaw Kosiniak-Kamysz mengatakan, Belanda akan mengirimkan artileri pertahanan udara (arhanud), artileri medan (armed), dan 300 tentara untuk mengoperasikannya.
Ceko akan mengirim helikopter dan 100 tentara. Adapun Perancis dan Jerman menjanjikan tambahan jet tempur untuk patroli di perbatasan anggota NATO dengan Rusia, Belarus, dan Ukraina.
Kosiniak-Kamysz menyebut langkah negara-negara sekutu tersebut sebagai langkah nyata. ”Polandia sering hanya menerima kata-kata solidaritas dan isyarat kosong sepanjang sejarahnya. Hari ini, kami mendapati deklarasi konkret,” kata Kosiniak-Kamysz.
Hingga empat jet tempur Eurofighter akan dikerahkan Jerman untuk patroli di perbatasan itu. Misi itu akan berlangsung sampai akhir 2025. Sementara Perancis akan mengirimkaan tiga jet tempur Rafale. ”Kami tidak akan tunduk pada intimidasi Rusia yang semakin meningkat,” kata Presiden Perancis Emmanuel Macron.
Para pemimpin Polandia dan Eropa meyakini Polandia sengaja menjadi sasaran. ”Jika satu atau dua pesawat nirawak melintasi wilayah udara Polandia, itu bisa jadi merupakan ’kerusakan teknis’. Akan tetapi, tidak masuk akal jika itu merupakan ’kecelakaan’ mengingat ada 19 drone,” kata Menteri Luar Negeri Polandia Radek Sikorski.
”Meskipun sulit membuktikan niat, membiarkan beberapa pesawat nirawak tersesat mulai terlihat disengaja,” ujar Thomas Withington, pakar peperangan elektronik di Royal United Services Institute di London.
Withington menyatakan, salah satu tujuan Rusia adalah untuk menguji reaksi dan kemampuan NATO dalam merespons pesawat nirawak.
Presiden Polandia Karol Nawrocki, senada dengan komentar rekan-rekannya dari Jerman dan Perancis juga menyatakan, ”Provokasi Rusia ini tidak lebih dari upaya untuk menguji kemampuan kami (NATO).”
Namun, para ahli dan kepala negara memiliki pandangan berbeda-beda terkait apakah Moskwa memang benar-benar sengaja meluncurkan pesawat nirawak ke Polandia. Komandan Militer Tertinggi NATO untuk Eropa Alexus Grynkewich menyatakan, jumlah pesawat nirawak yang memasuki wilayah udara Polandia masih perlu diteliti. ”Masih banyak yang belum jelas, dan untuk saat ini, NATO bersikap hati-hati,” ujar Grynkewich.
”Kami belum tahu apakah ini tindakan yang disengaja atau tidak disengaja,” kata Grynkewich.
”Sulit tanpa bukti kuat untuk mengatakan apakah Moskwa benar-benar bermaksud menerbangkan drone ke Polandia,” kata Ash Alexander-Cooper, mantan Komandan Militer Spesialis dan Wakil Presiden Dedrone, produsen teknologi untuk mendeteksi dan menetralisasi ancaman pesawat nirawak.
Namun, berdasarkan apa yang diketahui tentang pesawat nirawak Rusia dan bagaimana mereka merespons peperangan elektronik, para ahli kepada AP mengatakan, sangat mungkin serangan itu disengaja.
Serial Artikel
Polandia Klaim ”Drone” Rusia Masuk Wilayahnya, NATO Belum Anggap Kesengajaan
Negara anggota NATO kerap terkena getah akibat serangan udara Rusia dan Ukraina. Polandia sempat singgung Artikel 4.
Sejak Januari 2025, menurut analisis The Associated Press atas data Angkatan Udara Ukraina, Rusia mengerahkan 35.698 pesawat nirawak serbu ke Ukraina. Wilayah udara Polandia telah dilanggar beberapa kali sejak dimulainya invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada Februari 2022.
Selain melanggar wilayah udara Polandia, pesawat nirawak juga memasuki Romania dan Moldova. Pesawat Rusia juga menerobos Latvia, Lituania, dan Estonia.
Menyikapi pelanggaran tersebut, Polandia akan menutup lalu lintas udara di sepanjang perbatasan timur dengan Belarus dan Ukraina untuk penerbangan sipil hingga ketinggian tiga kilometer. Penutupan direncanakan berlangsung hingga 9 Desember 2025. Badan Pengatur Lalu Lintas Udara PAZP juga mengumumkan pesawat nirawak akan dilarang.
Penutupan tersebut terungkap dalam pertemuan Dewan Keamanan Nasional Polandia dan Menteri Pertahanan Polandia pada Kamis (11/9/2025). Penutupan itu menjadi bagian dari langkah Polandia meningkatkan keamanannya.
Polandia akan menutup penyeberangan di perbatasan dengan Belarus mulai Jumat ini. Hal itu disebabkan Belarus akan menggelar latihan militer dengan Rusia sekutunya pada 12-16 September 2025.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova dalam sebuah pernyataan mendesak Polandia untuk mempertimbangkan konsekuensi dari langkah-langkah destruktif tersebut. Kremlin juga mendesak Polandia meninjau kembali keputusannya sesegera mungkin.
”Penutupan perbatasan tersebut dimaksudkan untuk membenarkan kebijakan yang semakin meningkatkan ketegangan di pusat Eropa,” imbuh Maria.
Di Beijing, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Lin Jian mengatakan dalam jumpa pers rutin, China berharap semua pihak terkait akan menyelesaikan perselisihan mereka dengan baik melalui dialog dan konsultasi.