Negara Non-Barat Merapatkan Barisan di China

Negara-negara non-Barat yang tergabung dalam SCO mulai berkumpul di Tianjin. Mereka akan mengonsolidasikan solidaritas Eurasia dan menghadapi ancaman bersama.

31 Agt 2025 12:08 WIB · Internasional

Oleh Luki Aulia

TIANJIN, MINGGU — Satu per satu pemimpin negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) tiba di Tianjin, China. Mereka akan menghadiri pertemuan puncak KTT SCO, Senin (1/9/2025). SCO terdiri dari China, India, Rusia, Pakistan, Iran, Kazakhstan, Kirgistan, Tajikistan, Uzbekistan, dan Belarus.

Selain mereka, pada pertemuan ini akan hadir pula 16 negara yang berafiliasi sebagai pengamat atau mitra dialog. Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga akan hadir. Presiden RI Prabowo Subianto yang sedianya dijadwalkan akan hadir membatalkan kehadirannya.

Presiden Rusia Vladimir Putin mendarat di Tianjin, Minggu (31/8/2025) pagi. Sebagaimana dikabarkan kantor berita China, Xinhua, Sabtu, menjelang keberangkatan ke Tianjing, Putin mengatakan, KTT SCO akan memperkuat kapasitas SCO menanggapi tantangan dan ancaman kontemporer serta mengonsolidasikan solidaritas di seluruh wilayah Eurasia bersama. ”Ini akan membantu membentuk tatanan dunia multipolar yang lebih adil,” kata Putin.

In this pool photograph distributed by the Russian state agency Sputnik, Russia's President Vladimir Putin shakes hands with Russian Trade Representative to China Alexey Dakhnovsky (L) alongside Russian Ambassador to China Igor Morgulov (R) upon his arrival at the airport in Tianjin on August 31, 2025. Putin landed in the northern Chinese city of Tianjin on August 31 to attend a summit hosted by counterpart Xi Jinping with around 20 other world leaders. (Photo by Vladimir SMIRNOV / POOL / AFP)

SCO awalnya merupakan forum kerja sama bidang keamanan di antara negara-negara di Asia Selatan dan Asia Tengah. Organisasi yang sudah berdiri hampir lebih dari dua dekade ini dipandang telah berevolusi. Kerja sama SCO kini meluas juga ke bidang ekonomi dan pembangunan. 

Dengan bertambahnya jumlah anggota, kini SCO menjadi salah satu organisasi regional terbesar di dunia. Anggotanya menyumbang sekitar sepertiga PDB global, sekitar 40 persen populasi dunia, dan mencakup wilayah hampir dua pertiga daratan Eurasia.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres kepada Presiden China Xi Jinping mengatakan, peran China menegakkan multilateralisme sangat penting. Ia menilai saat ini dunia sedang melihat bentuk-bentuk kebijakan baru yang terkadang sulit dipahami. Kebijakan itu terkadang lebih terlihat seperti sandiwara daripada upaya diplomatik yang serius, di mana bisnis dan politik terkadang tampak bercampur aduk.

Xi membalas dengan mengatakan China akan selalu menjadi mitra yang dapat diandalkan bagi PBB dan akan terus memberikan stabilitas dan kepastian. ”China bersedia memperdalam kerja sama dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa, mendukung peran sentralnya dalam urusan internasional, dan bersama-sama memikul tanggung jawabnya dalam menjaga perdamaian dunia serta mendorong pembangunan dan kemakmuran,” kata Xi kepada Guterres.

Alternatif

Rusia dan China terkadang menyebut SCO yang didirikan pada 2001 sebagai alternatif aliansi militer Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Para pengamat menilai China dan Rusia ingin memanfaatkan platform SCO untuk mendapatkan pengaruh. Apalagi China dan Rusia tengah berselidih dengan AS dan Eropa, terutama terkait klaim China atas Taiwan dan invasi Rusia ke Ukraina.

Participants attend the meeting in an expanded format at the Shanghai Cooperation Organisation (SCO) leaders' summit in Samarkand on September 16, 2022. (Photo by Sergei BOBYLYOV / SPUTNIK / AFP)

Asisten profesor di Universitas Teknologi Nanyang Singapura Dylan Loh mengatakan, China sejak lama berupaya menampilkan SCO sebagai blok kekuatan yang tidak dipimpin Barat. China ingin mempromosikan jenis hubungan internasional baru dan diklaim lebih demokratis.

”SCO menawarkan tatanan multilateral bercorak China yang berbeda dari tatanan yang didominasi Barat dalam politik internasional. Banyaknya pemimpin negara yang hadir menunjukkan semakin kuatnya pengaruh China dan daya tarik SCO sebagai platform bagi negara-negara non-Barat,” kata Loh kepada kantor berita AFP.

Lizzi Lee dari Institut Kebijakan Masyarakat Asia di AS menilai China, melalui SCO, akan memproyeksikan pengaruh dan memberi sinyal bahwa Eurasia memiliki institusi dan aturan mainnya sendiri. SCO dibingkai sebagai sesuatu yang berbeda, dibangun di atas kedaulatan, non-intervensi, dan multipolaritas, yang disebut-sebut China sebagai model.

Tujuh tahun lalu, dalam KTT SCO 2018 di Qingdao, China, Xi pernah mengatakan, ”Konfusianisme menganjurkan ’dunia merupakan milik bersama’, dan ’keharmonisan antarbangsa yang bersatu dan bekerja sama, seluruh dunia adalah satu keluarga’. Konsep ’keharmonian dan persatuan’ ini memiliki banyak kesamaan dengan ’Semangat Shanghai.”

Pemikiran keharmonisan dan persatuan, kata Xi, menjawab pertanyaan zaman dan menonjolkan kearifan Timur. ”Semangat Shanghai” melintasi waktu dan menerangi tepian Sungai Haihe. Mereka yang bertekad sama tidak pernah merasa jauh meski terpisah laut dan gunung,” kata Xi mengutip pepatah kuno China.

Armored vehicles stand guard outside the venue of the Shanghai Cooperation Organization (SCO) summit in Tianjin, China , Sunday, Aug. 31, 2025. (AP Photo/ Rafiq Maqbool)

Menurut rencana, pada KTT kali ini, Xi akan menggelar pertemuan bilateral dengan sejumlah pemimpin negara, termasuk Perdana Menteri Mesir Moustafa Madbouly dan PM Kamboja Hun Manet. Putin juga akan bertemu dengan Erdogan dan Pezeshkian secara bilateral untuk membicarakan konflik Ukraina dan program nuklir Iran.

Terkait perang Rusia-Ukraina, Turki sudah menjadi tuan rumah tiga putaran perundingan damai Rusia-Ukraina. Namun, semua putaran itu belum mampu memecahkan kebuntuan tentang cara mengakhiri perang. Di sisi lain, Rusia juga memperkuat hubungan dengan Iran sejak perang di Ukraina.

Guru besar dan pakar Asia Timur di Universitas Soka Jepang, Lim Tai Wei, mengatakan, Putin membutuhkan semua manfaat SCO sebagai pemain di panggung dunia. Ia juga membutuhkan dukungan dari China.

”Dan Rusia ingin memenangkan hati India, dan ketegangan perdagangan India dengan AS menghadirkan peluang ini,” kata Lim.

Perdana Menteri India Narendra Modi juga sudah tiba di Tianjin, Sabtu malam. Kunjungan Modi—kunjungan pertamanya ke China sejak 2018—ini dilakukan tepat setelah kunjungannya ke Jepang. Sebagaimana diberitakan, Jepang berjanji untuk berinvestasi sebesar 68 miliar dollar AS di India.

China dan India, dua negara terpadat di dunia, merupakan rival sengit yang berebut pengaruh di Asia Selatan dan terlibat dalam bentrokan mematikan di perbatasan pada tahun 2020. Pencairan hubungan dimulai Oktober tahun lalu ketika Modi bertemu dengan Xi untuk pertama kalinya sejak lima tahun terakhir di sela-sela KTT BRICS yang digelar di Kazan, Rusia. (REUTERS/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji