Sejumlah negara di Asia merupakan pengimpor besar minyak dari Timur Tengah. Rencana penutupan Selat Hormuz membuat mereka berjaga-jaga.
24 Jun 2025 07:25 WIB · Internasional
Serangan Amerika Serikat atas Iran makin memanaskan situasi di Timur Tengah. Banyak pihak mengkhawatirkan dampak lanjut dari serangan tersebut. Terbaru, Parlemen Iran pada Senin (23/6/2025) kemarin menyetujui penutupan Selat Hormuz.
Langkah itu merupakan bagian dari tanggapan Iran atas serangan Amerika Serikat ke Fordo, Natanz, dan Isfahan. Meskipun keputusan akhir ada pada tangan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, dunia kini berjaga-jaga.
Sejumlah negara di Asia bakal sangat terdampak dengan penutupan selat itu. Mereka tengah bersiap dengan antisipasi menghadapi kemungkinan merosotnya pasokan minyak. Bila Selat Hormuz ditutup, dipastikan pengiriman dan stok minyak di sejumlah negara Asia pengimpor minyak terganggu. Negara-negara yang terdampak itu, di antaranya, ialah China, Korea Selatan, India, Indonesia, dan beberapa lainnya.
Selat Hormuz merupakan jalur air sempit yang terletak di antara Teluk Arab dan Teluk Oman. Sekitar 14,2 juta barel minyak mentah dan 5,9 juta barel produk minyak bumi lainnya melewati selat tersebut secara eksklusif setiap hari.
Menurut Badan Informasi Energi AS (EIA), angka itu setara dengan 20 persen dari produksi global. Minyak mentah itu berasal dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, Kuwait, Qatar, dan Iran.
Sekitar 84 persen dari minyak yang melewati Selat Hormuz ditujukan ke Asia. Negara-negara Asia dengan ekonomi kuat, seperti China, India, Korea Selatan, dan negara-negara lain, akan sangat terdampak jika Iran menutup jalur perairan penting tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/06/13/CHINA-OILSTOCKPILING-INE_89429770_1592030746.jpg)
Di Asia, China merupakan pembeli terbesar minyak dari Timur Tengah. Pada kuartal pertama 2025, menurut data EIA, China mengimpor 5,4 juta barel minyak mentah yang dikirim melalui Selat Hormuz.
Dari total impor minyak mentah China, Arab Saudi merupakan pemasok minyak mentah terbesar kedua bagi China. Arab Saudi memasok 1,6 juta barel minyak mentah per hari atau sekitar 15 persen dari total impor minyak China.
China juga membeli lebih dari 90 persen minyak ekspor Iran. Menurut Firma Analisis Kpler, China mengimpor 1,3 juta barel minyak mentah dari Iran per hari pada April.
India juga merupakan negara di Asia yang sangat bergantung pada Selat Hormuz. Menurut EIA, India mengimpor 2,1 juta barel minyak mentah per hari melalui koridor tersebut pada kuartal pertama 2025. Sekitar 53 persen minyak impor India pada awal tahun 2025 ini berasal dari negara-negara Timur Tengah, khususnya Irak dan Arab Saudi.
Negara Asia lainnya yang juga bergantung pada minyak produksi Timur Tengah adalah Korea Selatan. Data EIA menunjukkan sekitar 68 persen dari impor minyak mentah Korsel atau sebanyak 1,7 juta barel per hari dikirim melewati Selat Hormuz.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/09/15/87561066-48e1-4a16-afa3-d6a8c0f63f75.jpg)
Arab Saudi menjadi eksportir minyak utama Korsel. Tahun lalu Arab Saudi menyumbang sepertiga dari impor minyak Korsel.
Sementara Jepang, menurut data EIA, mengimpor 1,6 juta barel minyak mentah per hari melalui Selat Hormuz. Data bea cukai Jepang menunjukkan 95 persen impor minyak mentah tahun lalu berasal dari Timur Tengah.
Demi mengamankan pasokan minyak, New Delhi mencari alternatif negara pemasok. New Delhi meningkatkan impor minyak dari Rusia selama tiga tahun terakhir. ”Kami memantau dengan saksama situasi geopolitik yang berkembang di Timur Tengah sejak dua minggu terakhir,” kata Menteri Perminyakan dan Gas Alam India Hardeep Singh Puri pada hari Minggu (22/6/2025).
Di X, Puri menulis, ”Kami telah mendiversifikasi pasokan kami dalam beberapa tahun terakhir dan sebagian besar pasokan kami tidak datang melalui Selat Hormuz”.
”Kami akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk memastikan stabilitas pasokan bahan bakar bagi warga negara kami,” imbuh Puri.
Terpisah, Kementerian Perdagangan dan Energi Korea Selatan di Seoul mengatakan, sejauh ini tidak ada gangguan dalam impor minyak mentah dan LNG Korsel.
Akan tetapi, Korsel sudah menyiapkan antisipasi atas potensi gangguan di Selat Hormuz. ”Pemerintah dan pemangku kepentingan industri telah bersiap menghadapi keadaan darurat dengan menjaga cadangan minyak strategis setara dengan 200 hari pasokan,” kata kementerian tersebut dalam sebuah pernyataan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/04/24/ea517534-32ee-4215-9d1e-2693ade2d08b_jpg.jpg)
Sementara perusahaan angkutan energi Jepang bersiap menghadapi potensi penutupan selat tersebut. ”Saat ini kami sedang mengambil langkah-langkah untuk mempersingkat waktu yang dihabiskan kapal-kapal kami di Teluk sebanyak mungkin,” kata raksasa pelayaran Mitsui OSK kepada AFP.
Selain memasok ke negara-negara dengan ekonomi kuat di Asia, sekitar 2 juta barel minyak mentah lainnya juga dikirim ke Thailand dan Filipina. Kemudian, sebanyak 0,5 juta barel ke Eropa dan 0,4 juta barel ke AS.
Terkait dengan ancaman itu, negara-negara di Asia bisa saja mencari alternatif pemasok. Akan tetapi, dilihat dari sisi volume pasokan, kemampuan negara-negara Timur Tengah mengirim dalam jumlah besar tak tergantikan.
Terpisah, pada Senin pagi, Presiden AS Donald Trump dari Washington menyerukan agar AS dan negara-negara penghasil minyak lainnya untuk memompa lebih banyak minyak. Seruan itu berkaitan dengan harga minyak mentah yang tetap bergejolak menyusul serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran. Selain itu, Gedung Putih juga mendesak Iran untuk tidak menutup Selat Hormuz.
Sebagaimana dijelaskan, penutupan Selat Hormuz akan memengaruhi pasokan energi global. Dampak lanjutnya adalah pengaruh harga minyak pada harga komoditas lainnya.
Sebelumnya, serangan Israel ke Iran sempat memicu kenaikkan harga minyak mentah dunia hingga lebih dari 5 persen. Meskipun sempat mengalami penurunan, posisinya masih relatif tinggi bila dibandingkan dengan harga sebelum serangan Israel dilakukan. (AFP/AP)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .