Kawasan Teluk semakin panas. Negara-negara Teluk semakin keras mengecam Iran.
19 Mar 2026 20:21 WIB · Internasional
AP Photo/Baraa Anwer
RIYADH, KAMIS — Negara-negara Teluk kian terjebak dalam pusaran perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran. Qatar mengusir atase militer dan keamanan Kedutaan Iran setelah serangan rudal menghantam fasilitas gas utamanya. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga semakin keras mengecam Iran setelah serangan mengarah ke ladang gas, kilang, dan fasilitas energi mereka.
Kawasan Teluk semakin panas. Kuwait menutup masjid agung untuk shalat Id karena keadaan saat ini. Sementara itu, negara-negara Teluk lain membatasi pelaksanaan shalat Id hanya di masjid biasa, tanpa pertemuan besar di ruang terbuka. Acara publik dan kerumunan besar dibatasi sebagai langkah pencegahan.
Arab Saudi menjadi negara Teluk yang paling terbuka memberi sinyal resmi soal kemungkinan langkah ofensif terhadap Iran. Selama hampir tiga pekan terakhir, Riyadh hanya menangkis serangan Iran tanpa melancarkan serangan balasan.
Namun, nada itu berubah setelah Riyadh menjadi sasaran rudal balistik Iran pada Rabu (18/3/2026). Serangan itu menjadi yang pertama kali membuat banyak warga Riyadh mendengar ledakan atau menerima peringatan ancaman lewat pesan teks.
Bahkan, rudal pencegat pertahanan udara terlihat ditembakkan di dekat hotel tempat para menteri luar negeri teluk bertemu di Riyadh, Arab Saudi, Kamis (19/3/2026).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/19/e78465998f541490175d120f26cc1dc0-Saudi_Arabia_Iran_War.jpeg)
Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan mengatakan, Saudi berhak mengambil tindakan militer. ”Tekanan dari Iran ini akan berbalik merugikan secara politik dan moral, dan tentu kami berhak mengambil tindakan militer jika dianggap perlu,” katanya dalam konferensi pers seusai pertemuan konsultatif para menteri luar negeri dari sekitar belasan negara Arab dan Islam.
Peserta yang hadir, antara lain, dari Azerbaijan, Bahrain, Mesir, Jordania, Kuwait, Pakistan, Qatar, Suriah, Turki, dan Uni Emirat Arab.
Faisal mengatakan, Saudi akan memakai seluruh instrumen yang dimilikinya untuk menghentikan serangan Iran, mulai dari jalur politik, ekonomi, hingga diplomatik.
Menurut dia, serangan ke Riyadh bukan kebetulan, melainkan sinyal paling jelas bahwa Teheran sedang berusaha menekan negara-negara tetangganya. ”Iran mencoba menekan negara-negara tetangganya dan itu tidak akan berhasil,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/19/b670e248178ed2b533ab1c6b0c4e34e1-Saudi_Arabia_Iran_War_1_.jpeg)
Pernyataan itu menandai nada Riyadh yang kian keras di tengah memanasnya perang AS dan Israel dengan Iran. ”Jika Iran tidak segera berhenti, saya kira hampir tidak akan ada apa pun yang bisa membangun kembali kepercayaan,” ujarnya.
Saudi dinilai bisa mengaktifkan lagi pakta pertahanan Saudi dengan Pakistan yang punya senjata nuklir. Hal ini dinilai akan membuat eskalasi semakin berbahaya.
”Secara harfiah, ada payung nuklir di atas Arab Saudi,” kata peneliti geopolitik Saudi Salman al-Ansari, seperti dikutip dari media Middle East Eye.
Secara harfiah, ada payung nuklir di atas Arab Saudi.
”Jika Saudi memutuskan masuk dengan kekuatan penuh, Iran akan menjadi pihak yang paling rugi karena Saudi akan mengaktifkan perjanjian pertahanan bilateralnya dengan Pakistan,” kata Al-Anshari menambahkan.
Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar mengonfirmasinya. ”Kami memiliki pakta pertahanan dengan Arab Saudi dan saya menyampaikan ini kepada pihak Iran,” ujarnya.
Kecaman kepada Iran juga semakin keras dilontarkan dalam forum negara-negara Teluk dan mitra Arab. ”Serangan-serangan ini tidak dapat dibenarkan dengan dalih apa pun dan dengan cara apa pun,” demikian pernyataan bersama para menlu di pertemuan konsultatif itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/09/cd954b537516fda7caf02575077b8fbe-20260309_DMS_Pemilik_Senjata_Nukilr_1_mumed.png)
Sementara itu, Qatar belum eksplisit menyebut aksi militer. Namun, dalam pernyataan resminya, Kementerian Luar Negeri Qatar menyebut serangan Iran sebagai eskalasi berbahaya.
”Negara Qatar tidak akan ragu mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi kedaulatan, keamanan, serta keselamatan warga negara dan penduduknya,” demikian pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Qatar.
Doha menyebut serangan balasan Iran sebagai pelanggaran mencolok atas kedaulatan negara, dan ancaman langsung terhadap keamanan nasional serta stabilitas kawasan.
Pada Rabu malam, Kementerian Luar Negeri Qatar mengusir atase militer dan keamanan Kedutaan Iran beserta staf di kantor mereka. Doha menyatakan mereka sebagai persona nongrata dan meminta mereka meninggalkan negara itu dalam 24 jam.
Keputusan disebutkan diambil setelah penargetan Iran yang berulang dan tindakan agresi terhadap Qatar. Pengusiran dilakukan setelah Serangan Iran menghantam fasilitas gas Ras Laffan di Qatar, fasilitas gas Habshan dan Bab field di Uni Emirat Arab (UEA), serta dua kilang Kuwait, Mina Al-Ahmadi dan Mina Abdullah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/19/bfedd07de4ba539c013808514a330cbe-QATAR_IRAN_ISRAEL_US_WAR_136592962.jpg)
Qatar Energy menyebut serangan rudal Iran memicu kebakaran besar dan kerusakan lanjutan yang luas di fasilitas LNG Ras Laffan. Kerusakan itu berpotensi menunda pasokan Qatar ke pasar bahkan setelah perang berakhir.
Otoritas Abu Dhabi menghentikan operasi di ladang gas Habshan dan Bab setelah mencegat serangan di atas lokasi itu. Di saat yang sama, Arab Saudi melaporkan pertahanan udaranya menembak jatuh pesawat nirawak (drone) Iran yang mengarah ke fasilitas gasnya.
Sebelumnya, Israel menyerang South Pars, ladang gas terbesar di dunia. Ladang gas ini dibagi Iran dan Qatar. Bagi Iran, ladang ini sangat vital karena menopang sebagian besar pasokan gas domestik dan sekitar 80 persen pembangkit listriknya.
Iran membalas serangan Israel ke South Pars dengan serangan ke infrastruktur energi di Qatar, Arab Saudi, UEA, dan Kuwait.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/11/c7a3d7c7215bcbfcf4d16d228bdad380-20260311_GKT_AFP_Iran_Attacks.png)
Saling serang faslitas minyak dan gas itu mengguncang pasar. Harga minyak Brent menembus 110 dolar AS per barel dan sempat mendekati 114 dolar AS per barel pada Kamis.
Harga gas juga melonjak. Patokan European TTF naik 24 persen pada Kamis. Pasar khawatir krisis energi akan memburuk seiring gangguan di Selat Hormuz dan meluasnya serangan ke infrastruktur energi Teluk.
Berbeda dengan Saudi, Uni Emirat Arab belum mengindikasikan minat mengambil tindakan militer ofensif. Namun dalam pernyataan resminya, UEA menyebut serangan Iran ke fasilitas Habshan dan Bab field sebagai eskalasi berbahaya dan pelanggaran terhadap hukum internasional.
”UEA mempertahankan hak penuhnya untuk mengambil semua langkah yang diperlukan guna melindungi kedaulatan dan keamanan nasionalnya, serta menjaga kepentingan nasionalnya,” demikian pernyataan UEA.
Eskalasi itu juga mengguncang urat nadi energi Teluk. Pelabuhan Yanbu sempat menghentikan pemuatan minyak. Hal ini setelah Kementerian Pertahanan Saudi mengatakan telah mencegat rudal balistik di atas kota itu.
Pelabuhan Yanbu merupakan salah satu dari dua jalur ekspor utama yang masih tersisa bagi minyak Arab Teluk. Hal ini setelah Iran menutup Selat Hormuz.
Kementerian Pertahanan Saudi juga menyebut sebuah drone jatuh di kilang SAMREF di Yanbu. Beberapa saat kemudian, pemuatan minyak di Yanbu kembali dilanjutkan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/19/01481ed33729fcc208c9c3885230b360-wires_photo.jpg)
Kecaman senada juga datang dari Liga Arab. ”Semua langkah yang mereka tempuh untuk menghadapi serangan-serangan jahat Iran ini, dan hak mereka untuk menjaga keamanan warga mereka serta keutuhan fasilitas mereka,” kata Sekretaris Jenderal Liga Arab Ahmed Aboul Gheit.
Menurut Gheit, serangan Iran ke fasilitas gas utama di Ras Laffan, Qatar, sebagai serangan yang mencolok. Ia juga memperingatkan eskalasi berbahaya.
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris melaporkan satu kapal terkena proyektil tak dikenal dan terbakar di dekat pantai UEA. Kapal lain rusak di dekat Qatar. Berdasarkan laporan itu, lebih dari 20 kapal telah diserang selama perang Iran, ketika Teheran menekan lalu lintas pelayaran di sekitar Hormuz.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengancam, AS akan menghancurkan ladang gas South Pars jika Iran kembali menyerang Qatar. Ancaman ini dilontarkan setelah Iran menghantam Qatar sebagai balasan atas serangan Israel ke South Pars.
”Saya tidak ingin mengizinkan tingkat kekerasan dan kehancuran seperti ini karena implikasi jangka panjang yang akan ditimbulkannya terhadap masa depan Iran,” katanya.
Meski begitu, ia berkata tidak akan ragu untuk melakukannya jika situs gas alam cair Qatar kembali diserang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/02/232ed684d4c4a4cb8b9f210d90facbf8-Iran.jpg)
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengecam keras serangan ke South Pars. Ia memperingatkan adanya konsekuensi yang tak terkendali yang bisa menelan seluruh dunia.
Iran juga memperluas tekanan diplomatiknya ke UEA. Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Amir Saeid Iravani mengirim surat kepada Sekretaris Jenderal PBB.
Isinya menuduh UEA memungkinkan serangan AS ke wilayah Iran. Teheran menuntut reparasi, termasuk kompensasi atas seluruh kerusakan material dan moral. (AP/Reuters/AFP)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul