Nepal, Bara Kemarahan Gen Z Negara Miskin

Warga Nepal tak tahan lagi pada elite yang sibuk memperkaya diri dan pamer kemewahan, sementara banyak warga yang miskin dan menganggur.

10 Sep 2025 14:40 WIB · Internasional

Oleh Kris Mada

Muak pada pejabat pamer kemewahan kala banyak orang miskin dan menganggur menjadi pemicu utama kericuhan Nepal. Pemerintah tidak becus dan tak paham kemauan warga. Sementara pejabatnya hanya sibuk memperkaya diri.

”Protes di media sosial cuma katalis. Frustrasi pada cara pengelolaan negara ini telah lama menjadi bara dalam sekam. Warga sangat marah,” kata jurnalis senior Nepal, Prateek Pradhan, dalam wawancara yang disiarkan Associated Press, Rabu (10/9/2025).

Hingga 43 persen penduduk Nepal berusia di antara 15 sampai 40 tahun. Di antara orang muda Nepal, 20 persen menganggur dan pekerjaan sulit didapat.

Bank Dunia mencatat, produk domestik bruto (PDB) per kapita Nepal hanya 1.447 dollar AS. Pemerintah Nepal menaksir, setiap hari hingga 2.000 orang muda Nepal pergi ke luar negeri untuk mencari kerja.

Mayoritas akhirnya menjadi buruh harian lepas di Timur Tengah, Asia Timur, dan sebagian Asia Tenggara. ”Orang tidak tahan lagi dengan keadaan selama ini. Mereka mau perubahan,” kata Pradhan.

Anak muda Nepal juga melihat kondisi di negara lain. Bangladesh dan Sri Lanka yang berada di sekitar Nepal telah lebih dulu berubah pemerintahannya setelah protes orang muda.

Setidaknya sejak 2008, kondisi politik Nepal tidak stabil. Pemerintahan silih berganti walau yang jadi pejabat masih di lingkaran itu saja. Mau komunis, sosialis, atau liberal sama saja.

FILE -The then newly elected Prime Minister Khadga Prasad Oli greets after the oath of office in President residence in Kathmandu, Nepal, July 15, 2024. (AP Photo/Niranjan Shrestha, File)

Sebelum unjuk rasa meletus, Pemerintah Nepal dikendalikan Partai Komunis yang juga dikenal sebagai UML. Sementara Partai Kongres Nepal (NC) punya kursi terbanyak di parlemen. Pemimpinnya, Bahadur Deuba, jadi Ketua DPR.

Deuba membawa NC menyokong pemerintahan UML pimpinan Khadga Prasad Sharma Oli. Istri Deuba, Arju Rana, jadi Menteri Keuangan di kabinet PM Oli. Pada Selasa sore, Oli mengumumkan pengunduran diri dan kabinetnya dibubarkan.

Meski mengusung ideologi sosialis dan komunis, Deuba dan Oli sama-sama suka pamer kemewahan. Anak dan menantu Deuba dikenal suka memamerkan kemewahan. Mereka suka mengunggah foto sedang dalam pesawat pribadi atau jalan-jalan ke luar negeri dengan pakaian mahal.

Warganet Nepal menggunakan tagar ”Nepobaby” untuk memprotes ulah anak para elite politik itu. Keluarga elite politik Nepal juga memamerkan mereka sekolah atau kuliah di tempat mahal di luar negeri.

Padahal, keluarga para elite itu diketahui tidak punya warisan harta. Mereka mendadak kaya raya setelah masuk politik. ”Semua ini membuat orang muda Nepal tidak puas. Mereka tidak melihat pilihan selain turun ke jalan,” lanjut Pradhan.

Unjuk rasa awalnya damai. Salah satu pengunjuk rasa, Nima Tendi Sherpa (19), menyebut bahwa kekacauan ditimbulkan kebrutalan polisi. Sherpa tertembak di lengannya.

”Saya tidak benci polisi. Mereka cuma menjalankan perintah. Walakin, saya marah kepada yang memberi perintah. Sekarang, api sudah menyala. Saya yakin harus dilanjutkan sampai kami mencapai kebebasan,” katanya.

Suasana di sekitar gedung Mahkamah Agung yang dibakar oleh para pengunjuk rasa di Kathmandu, Nepal, Selasa (9/9/2025). Pemblokiran media sosial menjadi pemicu unjuk rasa rusuh. Masalah utama dari kerusuhan tersebut adalah meningkatnya rasa frustasi dan ketidakpuasan terhadap partai-partai politik. Banyak anggota partai dituding korupsi.

Media sosial memicu

Kemarahan yang disebut Pradhan awalnya relatif terkendali. Protes kebanyakan lewat media sosial dan secara daring saja.

Pemerintahan Oli gerah dengan rangkaian protes itu. Oli dan kroninya serta elite politik Nepal tak tahan keluarga mereka jadi sasaran olokan di media sosial.

Padahal, warganet hanya mengunggah ulang aneka foto dan video yang disebarkan oleh sanak famili keluarga elite politik. Warganet mengambil dari akun media sosial para elite politik.

Politisi Nepal mengusulkan pembatasan media sosial. Rancangan undang-undang untuk mengatur pembatasan hingga pelarangan itu belum disetujui DPR pimpinan Deuba.

Meski demikian, pada Jumat lalu, pemerintahan Oli melarang media sosial beroperasi di Nepal. Alasannya, penyelenggara aneka pelantar media sosial itu belum mendaftar ke Pemerintah Nepal.

Media sosial dan generasi Z tak bisa dipisahkan. Bagi gen Z Nepal, media sosial bukan tempat mengunggah foto atau video joget-joget. Media sosial jadi pelantar belajar, bekerja, serta tentu saja mencari hiburan dan informasi.

Pemerintahan Oli sepertinya tak paham itu dan memutuskan menghentikan akses media sosial. Meledaklah amarah gen Z Nepal.

Mereka menggalang unjuk rasa dan disepakati berkumpul pada Senin (8/9/2025) siang. Merasa masih punya kuasa, pemerintah Oli menanggapi unjuk rasa itu dengan brutal.

Tercatat 20 orang tewas dan hampir 400 cedera akibat tembakan dan pukulan serta tendangan polisi. Sekam kemarahan meletup menjadi api yang berkobar di Nepal. Kerusuhan menyebar ke berbagai penjuru Nepal.

Nepalese army personnel check and question civilians at a checkpoint in Kathmandu, Nepal, Wednesday, Sept. 10, 2025. (AP Photo/Niranjan Shrestha)

Rumah para elite serta aneka bangunan Pemerintah Nepal dirusak. Para elite Nepal melarikan diri atau bersembunyi. Ketakutan jadi sasaran amuk massa.

Polisi, setelah begitu brutal pada Senin, tak berani keluar sejak Selasa dini hari. Tentara pun turun dan mengambil alih kendali keamanan sejak Selasa malam. Jam malam dan larangan berkumpul diberlakukan sampai Kamis.

Tentara dengan panser atau berjalan kaki sembari membawa senapan terlihat di jalan-jalan Kathmandu pada Rabu siang.

Dari panser dan mobilnya, tentara mengumumkan larangan berkumpul. Mereka juga memperingatkan akan ada sanksi keras terhadap penjarah, pembakar, dan perusak. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H