INDUSTRI

Defisit Neraca Dagang Berlanjut, tetapi Kinerja Industri Mulai Membaik

Defisit neraca perdagangan barang berlanjut, tetapi menyempit. Pada saat hampir bersamaan, kinerja manufaktur mulai membaik.

04 Agt 2026 07:00 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/AGUS SUSANTO

Oleh Aguido Adri

JAKARTA, KOMPAS — Neraca perdagangan barang Indonesia kembali mencatat defisit pada Juni 2026 seiring masih besarnya tekanan dari impor minyak dan hasil olahan migas. Sementara itu, kinerja industri manufaktur sepanjang Juli 2026 mulai menunjukkan perbaikan.

Defisit neraca perdagangan barang ini berlanjut untuk kedua kalinya setelah defisit pada Mei 2026 sebesar 1,61 miliar dolar AS. Sebelum ini, neraca perdagangan barang selalu mencatat tren surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono, dalam rilis hibrida, Senin (3/8/2026), mengatakan, neraca perdagangan barang Indonesia pada Juni 2026 masih mengalami defisit 0,45 miliar dolar AS. Defisit ini menyempit dibandingkan Mei 2026.

Defisit itu terutama berasal dari perdagangan migas yang tercatat minus 3,49 miliar dolar AS, dengan penyumbang terbesarnya berasal dari impor hasil minyak dan minyak mentah.

”Defisit utamanya berasal dari beberapa komoditas, terutama mesin dan peralatan mekanik sebesar 15,93 miliar dolar AS. Adapun mesin dan perlengkapan elektrik defisit sebesar 7,98 miliar dolar AS, serta plastik dan barang dari plastik defisit sebesar 4,72 miliar dolar AS,” kata Ateng.

Sejumlah alat berat bersiap diangkut ke kapal di terminal kendaraan yang melayani ekspor dan impor mobil di Pelabuhan Patimban, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). Alat berat itu akan dikirim ke Belawan dan Batam. Adapun untuk ekspor mobil di terminal ini tercatat 64.086 unit hingga Juni 2026.

Meski neraca perdagangan Juni kembali defisit, secara kumulatif Indonesia masih membukukan surplus perdagangan sebesar 3,58 miliar dolar AS hingga akhir semester I-2026. Surplus itu sepenuhnya ditopang oleh perdagangan nonmigas yang mencapai 19,35 miliar dolar AS, sementara perdagangan migas masih defisit sebesar 15,77 miliar dolar AS.

BPS mencatat, komoditas penyumbang surplus nonmigas terbesar sepanjang Januari-Juni 2026 itu berasal dari lemak dan minyak hewani atau nabati dengan surplus 17,55 miliar dolar AS, diikuti surplus bahan bakar mineral 13,61 miliar dolar AS serta besi dan baja 8,61 miliar dolar AS.

Ekspor masih tumbuh

Adapun defisit kinerja perdagangan bulanan terjadi di tengah pertumbuhan ekspor yang masih positif. Pada Juni 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai 25,46 miliar dolar AS atau meningkat 8,84 persen dibandingkan Juni 2025. Ekspor nonmigas tumbuh lebih tinggi, yakni 9,46 persen menjadi 24,39 miliar dolar AS, sementara ekspor migas turun 3,78 persen menjadi 1,07 miliar dolar AS.

Secara tahunan, kenaikan ekspor itu terutama ditopang oleh meningkatnya nilai ekspor bahan bakar mineral yang melonjak 49,67 persen, nikel dan barang daripadanya yang naik 69,30 persen, serta lemak dan minyak hewani atau nabati yang meningkat 10,45 persen.

Tangkapan layar BPS terkait perkembangan ekspor dan impor Indonesia Juni 2026

Dari sisi sektoral, industri pengolahan masih menjadi penopang utama ekspor nonmigas dengan nilai mencapai 20,8 miliar dolar AS atau sekitar 85 persen dari total ekspor nonmigas Juni 2026.

Secara kumulatif, sepanjang Januari-Juni 2026, ekspor Indonesia juga mencapai 140,81 miliar dolar AS atau tumbuh 4,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor nonmigas meningkat 4,90 persen menjadi 134,58 miliar dolar AS, sedangkan ekspor migas turun 10,19 persen menjadi 6,23 miliar dolar AS.

Peningkatan ekspor nonmigas selama semester I-2026 itu terutama berasal dari produk nikel dan turunannya, minyak kelapa sawit beserta turunannya, bahan bakar mineral, aluminium, serta produk kimia dasar organik. Dari sisi sektor, industri pengolahan mencatat kenaikan ekspor 7,37 persen dan menyumbang peningkatan ekspor nasional terbesar.

Meski demikian, laju impor tetap tumbuh jauh lebih tinggi dibandingkan ekspor. Pada Juni 2026, nilai impor mencapai 25,91 miliar dolar AS atau meningkat 34,27 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Impor migas melonjak hingga 105,15 persen menjadi 4,56 miliar dolar AS, sedangkan impor nonmigas meningkat 25,05 persen menjadi 21,35 miliar dolar AS.

Aktivitas bongkar besi dan baja impor dari China di Pelabuhan Tanjung Priok (PTP) Nonpetikemas, Jakarta Utara, Rabu (29/4/2026). PTP Nonpetikemas telah beroperasi di 11 cabang pelabuhan yang tersebar di Indonesia. Total volume kargo pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 12,84 juta ton, yang didominasi oleh curah kering sebesar 46 persen, diikuti curah cair (25 persen), general cargo (24 persen), bag cargo (5 persen). 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
29-4-2026

Menurut Ateng, peningkatan impor terjadi pada seluruh kelompok penggunaan barang. Impor bahan baku dan penolong menjadi pendorong utama dengan kenaikan 38,94 persen secara tahunan dan memberikan andil terbesar terhadap peningkatan impor. Selain itu, impor barang modal naik 26,53 persen dan impor barang konsumsi meningkat 17,46 persen.

Secara kumulatif, impor selama Januari-Juni 2026 meningkat lebih tinggi, yakni 18,69 persen menjadi 137,24 miliar dolar AS. Impor migas melonjak 38,71 persen menjadi 22 miliar dolar AS, sedangkan impor nonmigas naik 15,50 persen menjadi 115,23 miliar dolar AS. Kenaikan impor terutama berasal dari bahan bakar mineral, mesin dan perlengkapan elektrik, serta bahan baku industri lainnya.

Quote

Penyerapan tenaga kerja pun kembali meningkat setelah empat bulan berturut-turut mengalami penyesuaian.

Di tengah perkembangan tersebut, kondisi manufaktur di sejumlah negara mitra dagang utama masih berada pada fase ekspansi. Indeks PMI manufaktur Juni 2026 tercatat sebesar 53,9 di Amerika Serikat, 54,5 di India, 54,8 di Jepang, dan 51,7 di China.

Menurut Ateng, kinerja industri manufaktur di negara-negara mitra dagang utama Indonesia yang masih di atas level 50 itu mengindikasikan aktivitas manufaktur masih bertumbuh dan berpotensi menopang permintaan ekspor Indonesia pada paruh kedua tahun ini.

Penjahit Konveksi Andor Apparel di kawasan Perkampungan Industri Kecil Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur, sedang menyelesaikan pesanan pembuatan seragam olah raga sekolah, Rabu (1/7/2026). Naiknya harga kain yang mencapai Rp 5 ribu per yard menjadi Rp 33.500 per yard sejak awal tahun dikeluhkan oleh pengusaha konveksi. 


KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
23-06-2026

Manufaktur membaik

Di dalam negeri, industri manufaktur Indonesia kembali menunjukkan kinerja positif setelah terpuruk pada bulan sebelumnya.

Berdasarkan rilis S&P Global, Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) Manufaktur Indonesia pada Juli 2026 berada di level 50,2 atau kembali ke zona ekspansi. Indeks tersebut melonjak secara signifikan dari posisi terkontraksi di level 46,9 pada Juni 2026.

Kenaikan ini ditopang oleh output produksi yang kembali naik untuk pertama kalinya sejak Februari 2026. Ini menunjukkan operasional industri nasional mulai pulih. Selain output yang meningkat, pesanan baru mulai stabil, serta penyerapan tenaga kerja tumbuh kembali setelah empat bulan sebelumnya menurun.

Juru bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arif, mengatakan, kembalinya PMI Manufaktur ke zona ekspansi mencerminkan menguatnya kepercayaan pelaku usaha dan resiliensi sektor industri di tengah dinamika ketidakpastian global.

”Kenaikan 3,3 poin dari bulan Juni ini mengonfirmasi bahwa roda produksi industri pengolahan kembali bergerak cepat. Peningkatan output dan tumbuhnya lapangan kerja baru memperlihatkan bahwa kepercayaan konsumen serta permintaan pasar domestik terus membaik,” ujar Febri.

Deretan mesin jahit dengan latar belakang pekerja di PT Victory Appareal, kawasan berikat Pelabuhan Tanjung Emas, Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (27/7/2026). Selama sebulan ini aktivitas pabrik garmen sudah berhenti berproduksi karena mengalami kerugian hingga berdampak pemutusan hubungan kerja ratusan pekerja.

Kompas/Raditya Mahendra Yasa
27-07-2026
 *** Local Caption ***

Selain itu, permintaan baru juga turut menjadi penopang kenaikan PMI Juli 2026. Permintaan mulai stabil seiring dengan menguatnya kepercayaan klien dan peluncuran proyek-proyek baru. Penyerapan tenaga kerja pun kembali meningkat (job growth) setelah empat bulan berturut-turut mengalami penyesuaian.

Survei S&P Global juga memaparkan, tingkat keyakinan atau optimisme pelaku usaha untuk 12 bulan ke depan melonjak ke level tertinggi dalam enam bulan terakhir, diikuti oleh laju kenaikan harga bahan baku yang melambat ke titik terendah dalam empat bulan.

Febri menilai, tren pemulihan ini semakin diperkuat oleh dua kebijakan strategis pemerintah yang menjadi penopang utama kepastian iklim usaha dan efisiensi biaya produksi industri nasional. Pertama, kepastian kebijakan harga gas bumi tertentu (HGBT).

Kebijakan itu, kata Febri, memberikan dampak positif bagi industri pengguna gas bumi. Kepastian pasokan dan harga energi yang terjangkau berhasil menjaga daya saing sektor industri manufaktur vital seperti pupuk, petrokimia, keramik, kaca, baja, sarung tangan karet, dan oleokimia.

Pekerja memantau keramik yang didinginkan usai keluar dari mesin kiln atau tungku pembakaran keramik di PT Arwana Citramulia Plant 2, Cikande, Serang, Banten, Rabu (8/4/2026). Industri manufaktur keramik Indonesia menghadapi tantangan akibat terjadinya gangguan pasokan gas domestik serta konflik Timur Tengah. Komponen gas yang menjadi sumber utama pembakaran keramik naik mencapai 36-38 persen dari total biaya produksi. Penurunan alokasi gas industri tertentu (AGIT), serta kenaikan surcharge (biaya tambahan) gas menjadi faktor pendorong kenaikan harga energi yang signifikan bagi pelaku industri. Kombinasi gangguan pasokan, penurunan alokasi gas, dan kenaikan harga energi telah menggerus daya saing industri keramik nasional secara berkelanjutan. Sementara itu, konflik Timur Tengah juga berisiko memicu banjir produk impor dari negara-negara yang mengalihkan barang ekspor dari Timur Tengah ke Indonesia.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
08-04-2026

Kedua, berlakunya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Relaksasi Bea Masuk Bahan Baku Plastik. Kebijakan itu menjadi angin segar yang sangat dinantikan oleh industri kemasan, makanan-minuman, otomotif, hingga elektronika.

Relaksasi bea masuk ini secara langsung menekan beban inflasi biaya input yang selama beberapa bulan terakhir sempat membengkak akibat gejolak mata uang dan pasokan global.

”Langkah konkret (dari kedua kebijakan itu) terbukti langsung meredam tekanan biaya input (input cost inflation) yang melambat ke level terendah dalam empat bulan terakhir sekaligus memacu optimisme pelaku industri,” ujar Febri.

Meskipun indikator makro manufaktur menunjukkan pemulihan solid, Kemenperin mengingatkan seluruh pemangku kepentingan untuk tetap waspada terhadap dinamika rantai pasok global dan fluktuasi nilai tukar.


Kerabat Kerja

Penulis:

Aguido Adri
 | 

Editor:

Agnes Theodora
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan