Netanyahu Ancam Cegah Iran Jadi Kekuatan Nuklir

Pembicaraan tentang program nuklir Iran aktif kembali. Israel akan menggunakan segala cara mencegah Iran mengembangkan persenjataan nuklir.

29 Nov 2024 17:07 WIB · Internasional

Oleh Mahdi Muhammad

TEL AVIV, JUMAT — Iran akan menggelar pembicaraan dengan Inggris, Perancis, dan Jerman tentang program nuklirnya di Geneva, Swiss, Jumat (29/11/2024). Menjelang pertemuan itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengancam bakal melakukan segala cara untuk menghentikan Iran mengembangkan persenjataan nuklir.

”Saya akan melakukan segalanya untuk mencegahnya (Iran) menjadi (kekuatan) nuklir. Saya akan menggunakan semua sumber daya yang dapat digunakan,” kata Netanyahu kepada stasiun televisi Israel Channel 14, Kamis (28/11/2024).

Pembicaraan tentang program nuklir Iran aktif kembali di tengah upaya Presiden Iran Masoud Pezeshkian membuka dialog dengan banyak negara, khususnya Uni Eropa dan Amerika Serikat. Pembahasan berlangsung dua bulan sebelum Donald Trump kembali ke Gedung Putih.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht-Ravanchi mewakili pemerintah dalam perundingan tersebut. Sehari sebelumnya, Takht-Ravanchi dan Wamenlu Urusan Hukum dan Internasional Kazem Gharibabadi telah bertemu Enrique Mora, Wakil Sekretaris Jenderal Urusan Luar Negeri Uni Eropa.

Mora, dalam unggahan di X, mengatakan, pertemuan itu pertukaran pendapat yang jujur tentang masalah nuklir Iran yang membutuhkan solusi diplomatik. Program nuklir Iran dinilai menjadi salah satu penyebab ketegangan di kawasan. Ia menambahkan, perlu solusi untuk menghindari eskalasi. Selain nuklir, mereka membahas dukungan militer Iran bagi Rusia.

Alat pengayaan

Ancaman Netanyahu diutarakan setelah Iran dilaporkan memberi tahu Badan Energi Atom Internasional (IAEA) akan memasang lebih banyak alat pengayaan uranium di dua fasilitas nuklir utamanya, Fordow dan Natanz. Laporan pada Kamis (28/11/2024) menyebutkan, Iran sudah selesai memasang dua kaskade sentrifugal IR-2m di Natanz.

Satu kelompok mesin terdiri dari 18 mesin sentrifugal dan Iran berencana mengaktifkan seluruhnya. Verifikasi IAEA pada 26 November mengungkapkan, tidak ada uranium yang dimasukkan ke dalamnya.

Iran juga berencana mengaktifkan kembali mesin yang baru-baru ini dipasang di kedua lokasi tersebut. Iran bermaksud memasang 18 kaskade sentrifugal IR-4 tambahan di Natanz tersebut, masing-masing dengan 166 mesin. Mereka juga akan memasang satu kaskade hingga 1.152 sentrifus IR-6 di pabrik percontohan tersebut, yang dapat menjadi kaskade terbesar sejauh ini di Iran.

Iran telah memiliki lebih dari 10.000 mesin sentrifugal yang beroperasi Natanz dan Fordow, termasuk yang berada di atas permukaan tanah. Program pengayaan itu membuat Iran memiliki 182,3 kilogram uranium yang tingkat pengayaannya telah mencapai 60 persen. Jumlahnya meningkat 17,6 kilogram dibanding laporan IAEA pada Agustus.

Dengan jumlah itu, Iran diyakini hanya selangkah lagi memiliki uranium dengan tingkat pengayaan hingga 90 persen yang bisa dimanfaatkan untuk persenjataan nuklir.

<p>infografik halaman 04 fasilitas nuklir iran</p>

Iran memutuskan tetap melanjutkan pengayaan nuklir setelah Dewan Pengawas IAEA mengeluarkan resolusi mengecam Iran karena gagal bekerja sama. Namun, pada saat terakhir Iran menawarkan pembatasan stok uranium yang diperkaya hingga 60 persen.

Resolusi itu dikhawatirkan akan digunakan AS dan sekutunya untuk mendorong Dewan Keamanan PBB mempertimbangkan sanksi lebih lanjut bagi Teheran.

Israel, sekutu utama AS di Timur Tengah, satu-satunya negara yang memiliki senjata nuklir di kawasan, meski tidak secara terbuka mengumumkannya. Tel Aviv telah lama mencegah negara mana pun di kawasan untuk memiliki kemampuan  mengembangkan teknologi nuklir, khususnya yang bisa untuk persenjataan.

Pernyataan Netanyahu pada Kamis melanjutkan pernyataan sebelumnya yang menyebutkan, gencatan senjata dengan Hizbullah memungkinkan Israel fokus pada Iran. Dia tidak merinci tindakan terhadap Iran yang menyerang Israel pada Oktober. Sebelumnya, pada April Iran juga menyerang Israel sebagai balasan terbunuhnya pemimpin Hamas, Hizbullah, dan sejumlah petinggi Garda Revolusi.

Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu speaks during the 79th Session of the United Nations General Assembly at the United Nations headquarters in New York City on September 27, 2024. Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu said at the UN Friday that operations against Hezbollah will continue, dampening hopes of a 21-day truce proposed by France and the United States this week. (Photo by Charly TRIBALLEAU / AFP)

Kembalinya Trump ke Gedung Putih mendorong berlanjutnya diskusi panjang mengenai program nuklir Iran. AS di bawah periode pertama Trump (2017-2021) memutuskan keluar dari perjanjian nuklir Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) yang ditandatangani pada 2015. Trump juga menjatuhkan sanksi lebih berat atas Iran.

Iran di bawah Pezeshkian yang lebih moderat berkeinginan membuka diri, termasuk berdiskusi dengan para pihak yang telah menjatuhkan sanksi dan menyebabkan perekonomian negara hancur. Dalam wawancara dengan media Inggris, The Guardian, Menlu Iran Abbas Aragchi memperingatkan rasa frustrasi melingkupi Teheran karena negara-negara Barat sering kali mengingkari komitmen.

”Kami tidak berniat melangkah lebih jauh dari 60 persen untuk saat ini. Itu tekad kami,” katanya.

Akan tetapi, saat ini terjadi perdebatan internal apakah mereka harus mengubah hal tersebut karena sejauh ini terbukti tidak memadai dalam praktiknya.

Meski ada tudingan program nuklir Iran akan berujung pada pengembangan dan produksi senjata nuklir, Teheran konsisten membantah. Apalagi fatwa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei menyatakan larangan pengembangan senjata atom.

Analis politik Iran, Mostafa Shirmohammadi, mengatakan, bagi Teheran tujuan pembicaraan dengan Inggris-Perancis-Jerman untuk menghindari risiko ganda, yakni tekanan baru dari Trump dan Uni Eropa. (AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Mahdi Muhammad
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase