TEL AVIV, MINGGU — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akhirnya meminta pengampunan kepada Presiden Israel Isaac Herzog. Permintaan itu bagian dari upaya menghentikan persidangan kasus korupsi yang membelit Netanyahu serta keluarga dan kroninya.
Dalam pernyataan pada Minggu (30/11/2025), Kantor Kepresidenan Israel membenarkan baru menerima surat bertanggal 27 November 2025 itu. Pengacara Netanyahu, Amit Hadad, menyerahkan surat ke Bagian Hukum Kantor Kepresidenan. Lalu, surat itu diteruskan ke Kementerian Kehakiman untuk ditelaah.
Kantor Kepresidenan Israel menyebut surat itu tidak lazim dan ada dampak signifikannya. Herzog disebut akan mempertimbangkan berbagai masukan secara saksama.
Pada awal November 2025, Kantor Kepresidenan Israel menerima surat dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Isinya, agar Herzog mengampuni dan menghapus kasus Netanyahu. Menurut Trump, sidang terhadap Netanyahu mengganggu kepemimpinan Israel.
Sementara pada Oktober, sejumlah menteri dan anggota parlemen dari Partai Likud mengirimkan surat senada kepada Herzog. Likud merupakan partai Netanyahu.
Memang, tak semua politisi Likud menyokong permintaan itu. Tally Gotliv mengaku malu dengan permohonan itu. Anggota parlemen dari Partai Likud itu mengatakan, seharusnya biar pengadilan yang menentukan ujung persidangan.
Tidak mengaku
Netanyahu juga mengedarkan video singkat terkait permohonan itu. Meski minta ampun, ia tak mau mengaku bersalah dalam kasus yang membelitnya itu. Ia berkilah, permintaan itu demi kepentingan nasional.
Pengadilan terhadap kasus itu telah berlangsung enam tahun. Sidang berulang kali ditunda atas permintaan Netanyahu.
Sejak Israel menyerang Gaza pada Oktober 2023, Netanyahu kerap menggelar sidang kabinet dadakan bertepatan dengan jadwal sidang. Dengan demikian, ia tak perlu hadir dan memberi keterangan tersumpah.
Dalam videonya, ia mengatakan, persidangan itu telah memecah belah Israel. Padahal, Israel butuh persatuan untuk menghadapi aneka tantangan.
Ia mengeluhkan jadwal sidang sampai tiga kali sepekan. Menurut dia, permintaan itu sulit dipenuhi. Sebagai PM, akan sulit baginya untuk bekerja kalau harus terus menghadiri sidang.
Ia balik menyebut penyelidikan dan persidangan terhadap dirinya merupakan kejahatan. Oleh karena itu, ia meminta ampun kepada Presiden dan berharap persidangannya dihentikan.
Di sejumlah negara, pengampunan biasanya diberikan kepada orang yang mengaku atau ditetapkan bersalah oleh pengadilan. Dalam permohonan Netanyahu, ia tak mau mengaku bersalah atas berbagai dakwaan korupsi dan kolusi. Ia hanya menyesal karena persidangannya memicu ”keriuhan yang tidak perlu”. Hal itu dianggapnya masalah etika.
Sekutu Netanyahu yang juga Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, menyokong permintaan Netanyahu. Baginya, pengampunan Netanyahu penting untuk keamanan nasional Israel.
Pengampunan dan penghentian sidang Netanyahu dipandangnya sebagai bagian dari perubahan sistem peradilan. Seperti Netanyahu, ia menuding persidangan kasus korupsi PM Israel itu penuh rekayasa. ”Waktunya membebaskan Israel dari drama persidangan Netanyahu,” kata politisi ekstrem kanan Israel itu. (AP/AFP)
TEL AVIV, MINGGU — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akhirnya meminta pengampunan kepada Presiden Israel Isaac Herzog. Permintaan itu bagian dari upaya menghentikan persidangan kasus korupsi yang membelit Netanyahu serta keluarga dan kroninya.
Dalam pernyataan pada Minggu (30/11/2025), Kantor Kepresidenan Israel membenarkan baru menerima surat bertanggal 27 November 2025 itu. Pengacara Netanyahu, Amit Hadad, menyerahkan surat ke Bagian Hukum Kantor Kepresidenan. Lalu, surat itu diteruskan ke Kementerian Kehakiman untuk ditelaah.
Serial Artikel
Netanyahu Resmi Didakwa Korupsi
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, didakwa melakukan korupsi setelah ia menarik permohonan untuk mendapatkan kekebalan dari tuntutan hukum.
Kantor Kepresidenan Israel menyebut surat itu tidak lazim dan ada dampak signifikannya. Herzog disebut akan mempertimbangkan berbagai masukan secara saksama.
Pada awal November 2025, Kantor Kepresidenan Israel menerima surat dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Isinya, agar Herzog mengampuni dan menghapus kasus Netanyahu. Menurut Trump, sidang terhadap Netanyahu mengganggu kepemimpinan Israel.
Sementara pada Oktober, sejumlah menteri dan anggota parlemen dari Partai Likud mengirimkan surat senada kepada Herzog. Likud merupakan partai Netanyahu.
Memang, tak semua politisi Likud menyokong permintaan itu. Tally Gotliv mengaku malu dengan permohonan itu. Anggota parlemen dari Partai Likud itu mengatakan, seharusnya biar pengadilan yang menentukan ujung persidangan.
Tidak mengaku
Netanyahu juga mengedarkan video singkat terkait permohonan itu. Meski minta ampun, ia tak mau mengaku bersalah dalam kasus yang membelitnya itu. Ia berkilah, permintaan itu demi kepentingan nasional.
Pengadilan terhadap kasus itu telah berlangsung enam tahun. Sidang berulang kali ditunda atas permintaan Netanyahu.
Sejak Israel menyerang Gaza pada Oktober 2023, Netanyahu kerap menggelar sidang kabinet dadakan bertepatan dengan jadwal sidang. Dengan demikian, ia tak perlu hadir dan memberi keterangan tersumpah.
Dalam videonya, ia mengatakan, persidangan itu telah memecah belah Israel. Padahal, Israel butuh persatuan untuk menghadapi aneka tantangan.
Ia mengeluhkan jadwal sidang sampai tiga kali sepekan. Menurut dia, permintaan itu sulit dipenuhi. Sebagai PM, akan sulit baginya untuk bekerja kalau harus terus menghadiri sidang.
Serial Artikel
Hakim Perintahkan Netanyahu Hadiri Sidang Kasus Korupsinya
Netanyahu menjadi PM Israel pertama yang dibawa ke persidangan kala masih menjabat. Kasusnya sudah diselidiki berbulan-bulan dan jaksa mengumumkan Netanyahu sebagai tersangka pada November 2019.
Ia balik menyebut penyelidikan dan persidangan terhadap dirinya merupakan kejahatan. Oleh karena itu, ia meminta ampun kepada Presiden dan berharap persidangannya dihentikan.
Di sejumlah negara, pengampunan biasanya diberikan kepada orang yang mengaku atau ditetapkan bersalah oleh pengadilan. Dalam permohonan Netanyahu, ia tak mau mengaku bersalah atas berbagai dakwaan korupsi dan kolusi. Ia hanya menyesal karena persidangannya memicu ”keriuhan yang tidak perlu”. Hal itu dianggapnya masalah etika.
Sekutu Netanyahu yang juga Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, menyokong permintaan Netanyahu. Baginya, pengampunan Netanyahu penting untuk keamanan nasional Israel.
Pengampunan dan penghentian sidang Netanyahu dipandangnya sebagai bagian dari perubahan sistem peradilan. Seperti Netanyahu, ia menuding persidangan kasus korupsi PM Israel itu penuh rekayasa. ”Waktunya membebaskan Israel dari drama persidangan Netanyahu,” kata politisi ekstrem kanan Israel itu. (AP/AFP)