Netanyahu Tak Mau Ada Kesepakatan Nuklir Iran

Berulang kali, PM Israel Benjamin Netanyahu berusaha menggagalkan kesepakatan nuklir Iran. Ia menuntut lebih dari soal pelucutan nuklir Iran.

12 Feb 2026 12:00 WIB · Internasional

AFP

Oleh Irene Sarwindaningrum

WASHINGTON, KAMIS — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali meminta Amerika Serikat agar pembicaraan dengan Iran tidak berhenti pada isu nuklir. Dari Teheran, pejabat tinggi Iran menolak agenda di luar nuklir dan menyebut Israel mencari celah untuk merusak proses negosiasi.

Kunjungan Netanyahu ke Washington semula dijadwalkan pada 18 Februari 2026. Kunjungan itu mendadak dimajukan menjadi Rabu (11/2/2026). Ia datang selepas pertemuan AS-Iran di Muscat, Oman, Jumat pekan lalu, yang dinyatakan berjalan baik.

Sehari sebelum pertemuan, Netanyahu menyebut prioritas utama pembicaraannya dengan Presiden AS Donald Trump adalah negosiasi dengan Iran. Ia juga mau AS bertindak keras soal rudal Iran.

Trump dan Netanyahu berbicara lebih dari 2,5 jam. ”Tidak ada sesuatu yang definitif yang dicapai selain saya menegaskan bahwa negosiasi dengan Iran terus berlanjut untuk melihat apakah sebuah kesepakatan dapat diwujudkan,” kata Trump dalam unggahan media sosial setelah pertemuan dengan Netanyahu.

Trump menyebut pertemuan itu sangat baik meski tidak ada keputusan besar yang dibuat. Ia juga tidak menyatakan menerima permintaan Netanyahu.

”Jika bisa, saya memberi tahu Perdana Menteri bahwa itu akan menjadi preferensi. Jika tidak, kita harus melihat bagaimana hasil akhirnya,” ujar Trump menambahkan.

Pertemuan tersebut merupakan yang ketujuh sejak Trump kembali menjabat hampir 13 bulan lalu. Kunjungan Netanyahu kali ini terkesan diam-diam.

Keduanya hanya terlihat berjabat tangan dalam foto yang dirilis Kedutaan Besar Israel. Hal ini tidak seperti kunjungan Netanyahu sebelumnya bersama Trump yang terbuka untuk media.

A person wearing a mask impersonating Israel Prime Minister Benjamin Netanyahu protest near the White House against the visit to the US of Netanyahu in Washington, DC, on February 11, 2026. Netanyahu said February 10 the top priority in his talks with Trump would be the ongoing negotiations with Iran, as he presses for a tougher US approach to Tehran's ballistic missile programme. (Photo by Brendan SMIALOWSKI / AFP)

Kecemasan Israel

Fokus pernyataan Trump belakangan yang hanya menyoroti isu nuklir dinilai memantik kecemasan Israel. Trump tak menyebut hal lain, di antaranya persediaan rudal atau dukungan senjata Iran kepada Hamas dan Hezbollah.

Dalam wawancara yang disiarkan Fox Business, Trump menyebut kesepakatan yang baik dengan Iran berarti tidak ada senjata nuklir, tidak ada rudal.

Trump mengatakan bahwa memasukkan program nuklir Iran dalam kesepakatan adalah sesuatu yang jelas. Adapun kemungkinan membahas persediaan rudal Iran dinilainya mungkin saja.

Israeli reporters file reports outside of the West Wing of the White House in Washington, DC, February 11, 2026, ahead of a visit by Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu. Netanyahu said February 10 the top priority in his talks with Trump would be the ongoing negotiations with Iran, as he presses for a tougher US approach to Tehran's ballistic missile programme. (Photo by SAUL LOEB / AFP)

Sikap ini memunculkan kekhawatiran di Israel bahwa Washington dapat menerima kesepakatan yang berfokus pada nuklir saja. AS tidak sepenuhnya memasukkan isu rudal balistik atau jaringan proksi Iran. Selama ini, kedua hal itu dianggap Israel sebagai ancaman keamanan utama.

Di sisi lain, Trump telah mengancam serangan terhadap Iran apabila kesepakatan gagal. Saat ini, kapal induk AS sudah mendekati Iran.

Teheran menyatakan akan membalas menyerang pangkalan militer AS di kawasan jika AS menyerang. Situasi ini memicu kekhawatiran perang, seiring AS menambah kekuatan militernya di Timur Tengah.

”Perdana Menteri menekankan kebutuhan keamanan negara Israel dalam konteks negosiasi dan kedua pihak sepakat untuk melanjutkan koordinasi erat serta kontak yang rapat,” demikian pernyataan kantor Netanyahu selepas pertemuan Netanyahu-Trump.

Infografik Instalasi nuklir di Iran

Iran menolak

Iran menolak tuntutan itu. Pertemuan di Oman hanya berfokus pada isu nuklir. Teheran menyebut siap membahas pembatasan program nuklirnya sebagai imbalan pencabutan sanksi.

Iran menolak mengaitkan isu itu dengan rudal. ”Kemampuan rudal Republik Islam tidak dapat dinegosiasikan,” kata Ali Shamkhani, penasihat pemimpin tertinggi Iran.

Dalam wawancara dengan PBS News, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengatakan Iran siap membahas rincian teknis. Hal itu antara lain tingkat pengayaan uranium dan besaran stok persediaan. Syaratnya, hak Iran diakui dan dihormati dalam kerangka perjanjian internasional.

(COMBO) This combination of handout satellite images courtesy of Vantor, created on February 10, 2026, shows Iran's Isfahan nuclear facility site on November 11, 2024 (top) and the same site on February 10, 2026. (Photo by Satellite image �2026 Vantor / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO/ SATELLITE IMAGE �2026 Vantor" - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS - THE WATERMARK MAY NOT BE REMOVED/CROPPED

Baqaei juga menyatakan, senjata nuklir tidak masuk doktrin pertahanan Iran. Ia menolak klaim Israel bahwa Iran berada di ambang memproduksi senjata nuklir.

”Itu kebohongan besar,” kata Baqaei, seraya menegaskan bahwa pengayaan uranium merupakan bagian dari program nuklir damai Iran. ”Hak kami, yang diakui dalam perjanjian internasional, harus dihormati,” katanya.

Posisi Iran, katanya, berdasarkan aturan mapan hukum internasional. Ia merujuk pada keanggotaan Iran dalam Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Ia mengklaim bahwa program nuklirnya untuk tujuan damai.

Baqaei menyatakan, senjata nuklir bukan doktrin pertahanan Teheran. ”Senjata nuklir tidak punya tempat dalam doktrin pertahanan kami,” ucapnya.

Sementara itu, dikutip dari kantor berita Iran, IRNA, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani menegaskan bahwa pembicaraan dengan AS tidak mencakup isu di luar nuklir. Teheran juga belum menerima proposal konkret dari Washington.

Sejauh ini, kata Larijani, relasi Teheran dengan Washington hanya berupa pertukaran pesan untuk pertemuan di Muscat, Oman. Larijani juga menekankan ada titik temu dengan AS mengenai ketiadaan senjata nuklir.

Namun, Iran menolak konsep ”nol pengayaan”. Sebab, pengayaan uranium diperlukan Iran untuk sektor energi dan produksi obat. ”Tidak ada negosiasi yang berlangsung mengenai subyek apa pun selain program nuklir,” kata Larijani.

Ia sekaligus menuduh Israel berupaya mengganggu jalannya diplomasi. ”Israel mencari alasan untuk menyalakan perang dan tidak hanya menargetkan Iran, tetapi juga stabilitas seluruh kawasan,” ujarnya.

Israel cemas

Kunjungan mendadak Netanyahu ke Washington dinilai mencerminkan kecemasan dan mencari kesempatan untuk berupaya memengaruhi arah pembicaraan. Dalam tulisannya berjudul ”Why Netanyahu raced to Washington over Iran” di situs Institute for National Security Studies, analis Danny Citrinowicz menilai Netanyahu cemas pembicaraan AS-Iran justru memperkuat posisi Teheran.

”Perjalanan mendadak Netanyahu ke Washington bukan diplomasi rutin. Itu mencerminkan kekhawatiran mendalam bahwa pembicaraan AS-Iran yang kembali digelar bisa melenceng ke kesepakatan nuklir saja yang akan menstabilkan Teheran alih-alih mengonfrontasinya,” tulisnya.

Citrinowicz menilai Netanyahu khawatir tekanan politik di AS akan mendorong kesepakatan yang hanya membatasi pengayaan uranium saja. AS tidak menyentuh program rudal balistik, jaringan proksi regional, ataupun postur strategis Iran secara lebih luas.

Dalam kalkulasi Israel, hasil seperti itu bukan melemahkan Iran, melainkan justru membuatnya lebih stabil. Menurut Citrinowicz, Netanyahu melihat momen ini sebagai kesempatan strategis karena Iran dinilai sedang menghadapi tekanan ekonomi, ketegangan internal, serta dampak konfrontasi kawasan.

Selain Iran, agenda pertemuan dengan Netanyahu mencakup Gaza. Trump ingin mendorong kelanjutan kesepakatan gencatan senjata. Namun, kemajuan rencana 20 poin untuk mengakhiri perang dan membangun kembali wilayah itu disebut tersendat. ”Kami membahas kemajuan besar yang sedang dibuat di Gaza dan kawasan secara umum,” kata Trump.

(Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Irene Sarwindaningrum
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra