Newcastle United Vs Arsenal, Buah Manis Perubahan Berani Eddie Howe

Arsenal termakan strategi baru Eddi Howe. Manajer Newcastle United itu selangkah lagi membawa timnya menjadi legenda.

06 Feb 2025 10:35 WIB · Olahraga

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

NEWCASTLE, KAMIS — Menjamu Arsenal dalam kondisi unggul dua gol pada pertemuan pertama tidak menggoda Eddi Howe untuk bermain aman dalam pertemuan kedua semifinal Piala Liga Inggris. Sebaliknya, manajer Newcastle United itu justru berani mencoba pendekatan baru.

Keberanian Howe berbuah manis dengan kemenangan 2-0 atas ”Meriam London” di Stadion St James Park, Kamis (6/2/2025) dini hari WIB. Berkat hasil ini, Newcastle berpeluang besar mengakhiri paceklik trofi selama 56 tahun.

Newcastle hanya perlu meraih hasil imbang untuk mencapai final berkat kemenangan 2-0 di markas Arsenal pada pertemuan pertama. Namun, Howe menolak bermain bertahan demi mempertahankan keunggulan. Ia justru menggunakan laga semifinal ini sebagai ajang mencoba pendekatan baru.

Howe dikenal sebagai manajer yang gemar menggunakan formasi 4-3-3. Kali ini, ia mengubah pendekatannya dengan memainkan tiga bek dalam formasi 3-4-3. Sejak menangani Newcastle, Howe tercatat hanya enam kali memainkan formasi ini.

Dalam formasi tiga bek, Dan Burn, Fabian Schar, dan Sven Botman dipercaya sebagai palang pintu terakhir. Adapun Kieran Trippier dan Lewis Hall diinstruksikan naik ke lini tengah. Naiknya Trippier dan Hall turut mendorong posisi dua gelandang, Anthony Gordon dan Jacob Murphy, lebih maju mendampingi Alexander Isak di lini serang.

Gelandang Newcastle United Anthony Gordon merayakan gol yang dicetaknya ke gawang Arsenal pada laga kedua semifinal Piala Liga Inggris di Stadion St James' Park, Newcastle, Kamis (6/2/2025) dini hari WIB. Newcastle lolos ke final setelah menang 2-0.

Saat sedang tidak menguasai bola, Trippier dan Hall dengan cepat mundur membantu tiga bek di belakang. Pergerakan itu diikuti juga oleh Gordon dan Murphy yang ikut turun ke lini tengah sehingga bentuk formasi Newcastle berubah menjadi 5-4-1. Ide utama dari perubahan pendekatan formasi Howe adalah untuk mencegah Arsenal menghasilkan peluang dari bola-bola udara.

”Kami melakukan perubahan dan penyempurnaan tergantung pada lawan. Anda dapat melihat hari ini ada banyak perubahan dalam performa kami, tetapi kami merasa membutuhkan lebih banyak kekuatan dalam tim. Kami menginginkan soliditas nyata di lini belakang. Jadi, kami merasa harus berubah untuk memenangi pertandingan dan itu terwujud hari ini,” tutur Howe seusai pertandingan, dikutip dari Sky Sports.

Berkat keberanian Howe mengubah formasi, Arsenal hanya menciptakan tiga tembakan tepat sasaran. Padahal, ”Meriam London” mendominasi penguasaan bola dengan persentase mencapai 69 persen.

Selain itu, jumlah operan akurat Arsenal juga tergolong tinggi, yaitu 351 kali, lebih tinggi dari Newcastle yang melepaskan 127 operan akurat. Meski mendominasi, nyatanya nilai harapan gol (expected goal/xG) Arsenal hanya 0,94, sedangkan Newcastle mencapai 1,71.

Tidak hanya piawai dalam bertahan, Newcastle juga tahu cara membongkar pertahanan padu Arsenal. Howe mengandalkan permainan bola-bola langsung (direct), tahu kapan momentum untuk menekan (pressing), dan penyelesaian akhir (finishing) yang klinis.

Britain Soccer League Cup

Dua gol Newcastle yang dicetak Murphy pada menit ke-20 dan Gordon pada menit ke-52 menjadi buktinya. ”The Magpies” selalu bisa menyulitkan pertahanan Arsenal yang digalang William Saliba dan Gabriel dengan bola-bola langsung ditambah pergerakan Isak yang sulit dihentikan.

Isak sempat membawa Newcastle unggul saat laga baru berjalan empat menit. Namun, lewat tinjauan video pembantu wasit (VAR), wasit Simon Hooper membatalkan gol tersebut karena Isak telah lebih dulu berada pada posisi offside sebelum menerima bola.

“Kesalahan adalah bagian dari sepak bola, kami biasanya sangat konsisten dan tenang. Tetapi hari ini kami memberi mereka harapan. Kami membiarkan mereka berlari dan kami rentan. Mereka adalah tim yang berbahaya jika mereka bisa melakukan itu,” ujar Manajer Arsenal Mikel Arteta.

Kekalahan ini membuat Arsenal selalu gagal mencetak gol dalam tiga pertandingan kontra Newcastle di Stadion St James Park. Setelah tersingkir di semifinal Piala Liga Inggris, kesempatan Meriam London untuk memenangkan trofi musim ini pun tersisa di Liga Inggris dan Liga Champions Eropa.

Di sisi lain, kesuksesan Newcastle dalam meredam Arsenal menjadikan mereka lolos ke final Piala Liga Inggris untuk kedua kalinya dalam tiga tahun terakhir. Pada dua musim lalu, Newcastle gagal menjadi juara usai kalah 0-2 dari Manchester United. Dengan hasil ini, Howe pun kian dekat menjadikan tim besutannya sebagai legenda.

Britain Soccer League Cup

Piala FA menjadi trofi domestik terakhir yang pernah dimenangkan Newcastle pada 1955. Sementara itu, Newcastle terakhir kali mendapatkan trofi pada 1969 saat menjuarai Piala Inter-Cities Fairs, kompetisi yang kini bernama Liga Europa. Ini berarti, sudah 56 tahun lamanya Newcastle mengalami paceklik trofi.

Kesempatan untuk mengakhiri penantian panjang gelar juara itu terbuka pada final Piala Liga Inggris di Stadion Wembley. Berbeda dengan semifinal, laga final hanya berlangsung satu kali, tidak menerapkan sistem kandang-tandang. Newcastle kini sedang menunggu calon lawan pada laga puncak.

Pada laga semifinal lainnya, Tottenham Hotspur dan Liverpool akan bertarung memperebutkan tempat di final, Jumat (7/2/2025) dini hari WIB. Siapa pun lawan pada final nanti, Newcastle wajib berjuang mati-matian untuk meraih gelar juara. Jika terwujud, tim besutan Howe ini akan dikenang sebagai legenda Kota Newcastle karena berhasil mengakhiri penantian panjang kota tersebut akan gelar juara.


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji