Baterai LFP, dengan produsen utama China, terus membanjiri pasar global. Adapun Indonesia akan terus mendorong baterai berbasis nikel.
21 Okt 2025 11:07 WIB · Ekonomi & Bisnis
Ambisi Indonesia membangun ekosistem baterai kendaraan listrik dari hulu ke hilir kini berhadapan dengan pamor baterai lithium iron phosphate atau LFP yang semakin melejit. Meski begitu, baterai berbasis nikel, terutama jenis nickel cobalt manganese atau NCM, diyakini tetap akan memiliki daya tarik, terutama berkaitan dengan peluang daur ulang baterai yang lebih menjanjikan.
Hilirisasi atau peningkatan nilai tambah nikel, yang digenjot dalam beberapa tahun terakhir, salah satunya diarahkan untuk produksi baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Namun, rencana itu masih relatif panjang. Salah satunya karena rantai produksi baterai EV di Indonesia baru sampai tahap prekursor, itu pun masih pada fase awal.
Di tengah upaya membangun ekosistem baterai berbasis nikel, pamor baterai LFP justru melejit. Teknologi yang sama sekali tidak memerlukan nikel ini berkembang pesat berkat dominasi produsen asal China. Situasi itu turut menekan biaya produksi EV. Arus mobil listrik buatan China yang kian deras masuk ke Indonesia pun sebagian besar kini mengandalkan baterai LFP.
Sebagai informasi, baterai NMC memiliki densitas (kepadatan) energi lebih tinggi sehingga umumnya digunakan mobil listrik dengan jarak tempuh lebih panjang ketimbang baterai LFP. Namun, dari sisi biaya produksi dan harga, NMC lebih tinggi dari LFP. Dalam hal daur ulang, baterai NMC sering kali disebut lebih baik, salah satunya karena memiliki nilai ekonomis lebih tinggi dari LFP.
Dalam situasi tersebut, Pemerintah Indonesia tetap optimistis baterai berbasis nikel akan tetap berkembang. Sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, Indonesia akan terus mendorong pengembangan baterai NMC meskipun pada saat bersamaan EV dengan baterai LFP terus membanjiri pasar global.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/05/31/b294a1c8-c729-401b-adac-6405ada3362a_jpg.jpg)
Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Nurul Ichwan, di Jakarta, Kamis (2/10/2025), mengatakan, secara prinsip, pemerintah akan terus mempromosikan baterai NMC. Sebab, nikel merupakan kekuatan Indonesia sehingga peningkatan nilai tambahnya akan terus diupayakan.
Salah satu strateginya ialah tidak hanya fokus di baterai EV. ”Ke depan, karena NMC memiliki densitas energi lebih tinggi, akan ada diversifikasi. Bukan hanya untuk EV, melainkan juga untuk peruntukan lain (energi terbarukan),” ujar Nurul.
Pemerintah, kata Nurul, tengah menganalisis kemungkinan mengeluarkan regulasi khusus terkait baterai LFP. Sebab, menurut dia, hingga kini belum ada penelitian yang menyebut baterai LFP bisa didaur ulang 100 persen secara komersial dan skala besar. Pabrikan mobil listrik ke depan diarahkan untuk tidak lagi mengimpor lebih banyak LFP.
Idealnya, pabrikan mobil listrik di Indonesia akan diarahkan untuk menggunakan NMC. ”Kalau tidak, kita akan kehilangan momentum (baterai nikel) yang diperkirakan hanya sampai 2030 atau paling lama 2040 (setelah itu peran nikel akan menurun). Tetapi, sampai saat ini belum (ada kebijakan terkait hal tersebut),” katanya.
Berdasarkan data Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA), permintaan baterai di sektor energi, termasuk untuk EV, mencetak sejarah, yakni sebesar 1 terawatt-jam (TWh) pada 2024. Apabila dirata-ratakan, permintaan mingguan pada 2024 melampaui permintaan setahun penuh pada dekade sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut sebagian besar didorong oleh peningkatan penjualan EV. Hal tersebut membuat permintaan baterai EV mencapai lebih dari 950 gigawatt-jam (GWh) atau 25 persen lebih tinggi dari 2023.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/17/d65c4787-d2bf-48a9-a375-73bc778df0bb.jpg)
Analisis IEA menyebutkan, LFP, jenis utama yang digunakan di China, lebih murah hampir 30 persen per kilowatt-jam (kWh) dibandingkan NMC, yang menjadi jenis paling banyak digunakan di AS dan Eropa. Baterai NMC disebut masih unggul dalam hal kepadatan energi dibandingkan LFP. Namun, dalam beberapa tahun terakhir kesenjangan menyempit.
Pada 2024, baterai LFP menyumbang hampir separuh pasar baterai EV global, sekaligus menopang upaya produsen untuk menurunkan biaya produksi dan harga EV. Jenis baterai itu memenuhi hampir tiga perempat permintaan domestik China pada 2024. Pangsa pasarnya pun terus meningkat hingga mencapai 80 persen dari penjualan November dan Desember 2024.
Penetrasi pasar baterai LFP berlangsung cepat di Asia Tenggara, Brasil, dan India. Di Asia Tenggara dan Brasil, peningkatan ini didorong oleh impor dari China, terutama oleh BYD. Di India, pertumbuhan dipicu produksi dalam negeri, yang dipimpin Tata Motors.
Kendati demikian, pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Fahmy Radhi, menuturkan, ia tidak khawatir dengan semakin berkembangnya baterai LFP. Sebab, EV masih berpotensi terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan. Permintaan baterai pun tidak akan datang hanya dari LFP, tetapi juga baterai lain termasuk NMC.
”Tidak bisa hanya dipenuhi LFP atau nikel saja. Keduanya sangat dibutuhkan,” ujar Fahmy.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/23/bceae8598c533388f566446118a48cd6-20250723RZF05.JPG)
Menurut Fahmy, pengembangan baterai berbasis nikel pun harus dilakukan dengan matang. Perlu ada pengembangan produk, penguatan riset dan pengembangan (R&D), dan stimulus. Pemerintah pun perlu membuat kebijakan yang tepat dalam rangka mempercepat pengembangan baterai berbasis nikel.
”Perlu ada akselerasi. Tanpa menggunakan riset dan pengembangan yang kuat, kelebihan baterai nikel menjadi tidak termanfaatkan. Yang lain berkembang pesat, sedangkan nikel akan stagnan. Jangan sampai seperti itu,” tuturnya.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia optimistis Indonesia akan menjadi pionir dalam pembangunan ekosistem baterai EV dari hulu hingga hilir. Salah satu proyek yang diandalkan ialah kerja sama perusahaan asal China, Huayou, dengan PT Aneka Tambang Tbk atau Antam dan Indonesia Battery Corporation (IBC) dengan total investasi sekitar 8 miliar dollar AS.
”Ditargetkan pada akhir 2027 semua sudah jadi. Maka, Indonesia akan menjadi salah satu negara pertama yang membangun ekosistem baterai mobil yang terintegrasi dari hulu sampai hilir,” kata Bahlil, di Jakarta, Selasa (5/8/2025).
Proyek tersebut, imbuh Bahlil, sejalan dengan target nasional, yakni emisi nol bersih (NZE) pada 2060 serta hilirisasi dan percepatan pembangunan industri mobil listrik. Pemanfaatan energi baru dan terbarukan untuk kelistrikan juga menjadi prioritas yang akan membuka peluang bagi industri baterai dalam negeri.
Selain itu, dengan adanya ekosistem baterai untuk kendaraan listrik, Indonesia dapat menjadi tujuan utama investasi yang efisien karena bahan baku yang sudah tersedia. ”Tidak ada alasan untuk tidak melakukan investasi yang efisien di Indonesia. Pasarnya ada, bahan bakunya ada, ekosistemnya sudah ada, EBT-nya sudah ada,” tutur Bahlil.
Penulis:
Aditya Putra PerdanaEditor:
Aris PrasetyoPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra