Nilai Uang Gorila Uganda

Manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat mengubah kebiasaan berburu menjadi konservasionis.

26 Sep 2025 08:22 WIB · Internasional

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Sebuah survei pada tahun 2018 yang menyatakan bahwa populasi gorila gunung di Uganda telah melampaui angka 1.000 ekor membahagiakan masyarakat yang tinggal di sekitar Kongo, Rwanda, dan Uganda. Ini merupakan kebangkitan yang luar biasa bagi spesies yang terancam punah pada abad lalu.

Kelompok Internasional untuk Konservasi Alam, yang memiliki daftar spesies terancam punah, menggolongkan gorila gunung sebagai spesies yang terancam punah. Status ini meningkat dari sebelumnya, yakni sangat terancam punah. Sekitar setengah dari jumlah gorila ini hidup di Uganda.

Dua gorila gunung bermain di hutan Taman Nasional Bwindi Impenetrable di barat daya Uganda, Rabu, (17/9/2025).

Selain Bwindi, satu-satunya taman nasional di Uganda tempat gorila dapat dilacak di alam liar adalah Taman Nasional Gorila Mgahinga. Namun, kawasan lindung tersebut hanya memiliki satu keluarga gorila. Sementara Bwindi memiliki 27 kelompok yang dapat dilihat dari dekat oleh pengunjung.

Primata-primata itu dilacak setiap hari. Joyleen Tugume, pemandu sekaligus penjaga hutan, mengatakan, dirinya bekerja bahkan pada Hari Natal, seperti yang ia ceritakan saat memimpin sekelompok kecil wisatawan ke dalam hutan baru-baru ini. Sambil mengayunkan sabit untuk membersihkan jalan, ia bercerita tentang kelembutan yang ia lihat pada gorila.

Ia menceritakan tentang gorila jantan muda yang akan berjuang mengambil alih kepemimpinan kelompok untuk mendapatkan hak kawin. Proses itu biasa dilakukan dengan menantang pemimpin kelompok sebelumnya. Pemimpin kelompok mempunyai hak penuh untuk kawin dengan betina yang ada dikelompoknya, tambahnya. 

Peter Tumwesigye, nmantan pemburu di dekat Taman Nasional Bwindi Impenetrable di barat daya Uganda, Selasa, (16/9/2025).

Minat yang tinggi dalam melindungi gorila gunung juga datang dari mereka yang mendapatkan manfaat ekonomi pariwisata. Banyak pemuda yang dulunya pemburu liar sekarang menjadi konservasonis, sukarelawan yang melakukan tindakan konservasi.

Tugume mengatakan, perburuan liar di taman tersebut semakin jarang terjadi. Kini semua bekerja sama untuk memastikan konservasi berjalan dengan baik karena mereka banyak mendapatkan manfaat. Taman Nasional Bwindi Impenetrable merupakan rumah bagi banyak kelompok gorila yang sudah terbiasa dengan kehadiran manusia.

Kabar tentang gorila gunung yang sakit atau terluka dapat meresahkan penduduk setempat. Hal ini sebagian disebabkan oleh fakta bahwa sebagian besar gorila telah diberi nama, yang memungkinkan penjaga hutan dan pihak lain untuk memanusiakan penderitaan hewan tersebut. Penduduk akan mencari tahu tentang kondisi gorila dan berusaha membantunya.

Philemon Mujuni, mantan pemburu yang menjadi konservasionis, berjalan menaiki bukit ke rumahnya di kaki bukit Taman Nasional Bwindi Impenetrable di barat daya Uganda, Selasa (16/9/2025).
Seekor gorila gunung memakan daun di hutan Taman Nasional Bwindi Impenetrable di barat daya Uganda, Rabu (17/9/2025).
Seekor gorila gunung di hutan Taman Nasional Bwindi Impenetrable di barat daya Uganda, Rabu, (17/9/2025).
Seekor gorila gunung memakan daun di hutan Taman Nasional Bwindi Impenetrable di barat daya Uganda, Rabu (17/9/2025).

Manfaat ekonomi yang dirasakan penduduk sekitar taman nasional juga menjadi pendorong perilaku konservasionis penduduk yang tadinya pemburu dan menjadi musuh nomor satu kepunahan gorila gunung.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Yuniadhi Agung
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto