NTT Masih Berkutat dengan Baca Tulis

Dulu, NTT mengirim guru-guru ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan sampai ke Malaysia.

02 Mei 2025 12:13 WIB · Nusantara

Oleh Fransiskus Pati Herin

KUPANG, KOMPAS — Sudah 80 tahun Indonesia merdeka, banyak peserta didik bahkan hingga jenjang sekolah menengah atas di Nusa Tenggara Timur berkutat dengan baca dan tulis. Ada kemunduran kualitas sumber daya manusia. Perlu gerakan bersama untuk memajukan pendidikan NTT.

Refleksi pendidikan itu disampaikan Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat NTT Polikarpus Do dalam momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional pada Jumat (2/5/2025). Polikarpus menilik dari sisi indeks literasi dan numerasi di NTT.

Ia mengungkapkan, indeks literasi untuk tingkat sekolah menengah atas di NTT tahun 2024. Pada kategori baik hanya 24,7 persen, kategori sedang 25,80 persen, kategori kurang 25,36 persen, dan kategori paling rendah dari semua kategori 24,15 persen.

Untuk indeks numerasi, kategori baik hanya 15,81 persen, kategori sedang 33,81 persen, kategori kurang 26,23 persen, dan kategori paling rendah dari semua kategori itu sebesar 24,15 persen.

Anak sekolah menunggu kedatangan Presiden Joko Widodo di Bendungan Temef, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur pada Rabu (2/10/2024).

Jika dilihat per kabupaten/kota, indeks literasi tertinggi untuk kategori baik, posisi pertama Kabupaten Nagekeo, yakni 66,67 persen, sedangkan paling rendah Kabupaten Sumba Barat, yakni 15,79 persen. 

Adapun indeks numerasi posisi pertama Kabupaten Nagekeo pada angka 21,05 persen, sedangkan posisi terakhir Kabupaten Malaka yang tidak mencapai 1 persen. Ini dihitung berdasarkan kategori baik.

”Angka-angka itu sangat memprihatikan. Dulu guru-guru dari NTT dikirim ke sejumlah daerah di Indonesia, bahkan sampai ke Malaysia. Sekarang kualitas pendidikan NTT terpuruk,” katanya.

Menurut Polikarpus, sejumlah alasan melatarbelakangi antara lain kualitas pembelajaran. ”Bagaimana kinerja guru kita sekarang, bagaimana proses pembelajaran. Apakah tugas guru lebih banyak administratif atau substansi,” katanya.

Polikarpus Do

Polikarpus mengajak berbagai pihak merefleksikan kondisi hari ini seraya mengajak bergerak bersama. Seperti yang dilakukan Forum Taman Bacaan Masyarakat hingga kini membuka ribuan taman bacaan di NTT.

Quote

Dulu guru-guru dari NTT dikirim ke sejumlah daerah di Indonesia, bahkan sampai ke Malaysia. Sekarang kualitas pendidikan NTT terpuruk.

Tak bisa baca tulis 

Seorang guru di SMA di Kabupaten Malaka menuturkan, banyak siswa di sekolahnya belum lancar membaca dan menulis.
”Bagaimana mereka memahami isi bacaan kalau mereka tidak lancar membaca dan menulis,” katanya.

Guru tersebut mempertanyakan kualitas pendidikan di jenjang sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Murid yang belum lancar membaca dan menulis seharusnya tidak diluluskan ke jenjang yang lebih tinggi.

Menurut dia, banyak sekolah terpaksa meluluskan siswa demi menjaga nama baik sekolah. Terlebih ketika pemberlakuan Kurikulum Merdeka Belajar, guru seolah-olah dipaksa meluluskan murid yang tidak tuntas.

Anak sekolah naik ke atap bus yang melintasi di Wewawa, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur pada Senin (17/3/2025).

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT Ambrosius Kodo mengatakan, berbagai upaya terus dilakukan pemerintah demi meningkatkan kualitas pendidikan di NTT. Dalam hal literasi, pemerintah kini gencar melakukan program Gerakan NTT Membaca dan Menulis.

Menurut dia, kemampuan baca tulis dan hitung sudah harus tuntas di jenjang sekolah dasar. Secara regulasi, sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransiskus Pati Herin
 | 

Editor:

Siwi Yunita Cahyaningrum
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari