Identitas sepak bola khas Jerman terwakili oleh Hansi Flick dan Pellegrino Matarazzo. Namun, keduanya punya pendekatan terhadap taktik yang sangat bertolak belakang.
17 Jan 2026 12:37 WIB · Olahraga
AP
SAN SEBASTIAN, SABTU — Barcelona berambisi memperlebar jarak dari Real Madrid yang tengah menjalani masa transisi. Misi memperlebar jarak itu dimulai saat menantang Real Sociedad di Stadion Anoeta, San Sebastian, Senin (19/1/2026) pukul 03.00 WIB. Laga tersebut jadi medan pertandingan dua pelatih dengan karakter sepak bola Jerman yang pekat.
Meski lahir dan tumbuh di Amerika Serikat, karier kepelatihan Pellegrino Matarazzo dibangun dalam kultur sepak bola Jerman. Saat masih aktif bermain, Matarazzo juga menghabiskan mayoritas waktunya di Jerman. Setelah gantung sepatu, ia memutuskan mengambil lisensi kepelatihan di Jerman dan berkesempatan menangani tim cadangan Nuernberg sebagai asisten pelatih.
Matarazzo bersahabat dengan pelatih timnas Jerman Julian Nagelsmann. Mereka pernah satu kamar saat mengikuti kursus kepelatihan. Persahabatan dengan Nagelsmann juga yang membuat karier kepelatihan Matarazzo makin berkembang. Saat Nagelsmann ditunjuk sebagai pelatih Hoffenheim, ia turut membawa serta Matarazzo sebagai asisten.
Lama terhubung satu sama lain, ide-ide kepelatihan Matarazzo pun tidak jauh berbeda dengan Nagelsmann. Mereka sama-sama penganut gaya bermain menekan ala Jerman, rumah di mana gegenpressing berasal. Gaya sepak bola menekan adalah konsep umum. Setiap pelatih yang dibesarkan dalam kultur sepak bola Jerman memiliki interpretasinya masing-masing terhadap konsep tersebut.
Latar belakang Jerman ini jadi menarik saat Sociedad menjamu Barca yang dilatih Hansi Flick. Sebagaimana Nagelsmann dan Matarazzo, Flick juga penganut ide sepak bola menekan. Konsep besar itu Flick terjemahkan secara taktis dengan menerapkan garis pertahanan tinggi.
Kami sudah tahu kualitas Barcelona. Jika kami ingin menang, kami perlu tampil sebaik mungkin di setiap fase permainan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/17/2a4beeaf9eba8a832741ea692d22a5e1-Spain_Copa_del_Rey_Soccer_135306774.jpg)
Berbeda dengan Flick yang kaku dengan metodenya, Matarazzo lebih fleksibel. Dia tidak menjadikan gaya sepak bola menekan sebagai harga mati yang harus dijalankan. Sadar materi pemainnya belum sepenuhnya mendukung konsep atau ide menekan, Matarazzo membuka ruang-ruang penyesuaian. Sociedad tetap bisa bermain menekan, tetapi menghadapi lawan yang secara kualitas berada di bawah mereka.
Saat menghadapi lawan yang jauh lebih kuat, Matarazzo tidak menerapkan gaya sepak bola menekan secara membabi buta. Dia menginstruksikan para pemainnya untuk pandai-pandai membaca momentum. Oleh karena itu, Matarazzo juga dikenal sebagai pelatih yang piawai mempersembahkan kemenangan kepada timnya lewat skema serangan balik kilat sekaligus tajam.
”Kami sudah tahu kualitas Barcelona. Jika kami ingin menang, kami perlu tampil sebaik mungkin di setiap fase permainan. Bagaimana cara kami bertahan, di mana kami bertahan, apa kekuatan mereka, apakah mereka menggunakan tekanan tinggi atau garis pertahanan rendah. Apa yang harus kami lakukan hanyalah tetap fokus dan bermain dengan kualitas terbaik,” kata Matarazzo dalam konferensi pers menjelang laga dikutip dari Diario AS.
Kelihaian menempatkan diri serta membaca momentum itu cukup berhasil. Matarazzo baru berkesempatan memimpin Sociedad dalam tiga laga. Dalam tiga laga itu belum sekali pun Matarazzo menelan kekalahan. Pada laga sebelumnya, Sociedad sukses mengatasi perlawanan Osasuna dalam laga babak 16 besar Piala Raja Spanyol.
Namun, awal impresif Matarazzo kemungkinan besar akan terhalang tren buruk setiap kali Sociedad bermain di markas sendiri. Musim ini dari sembilan laga kandang di Liga Spanyol, ”La Real” menelan empat kekalahan, dua kali imbang, dan hanya tiga kali menang di Stadion Anoeta. Laga debut Matarazzo di Anoeta melawan Atletico pun berakhir imbang 1-1. Tertinggal dari gol Alexander Sorloth, Sociedad harus bersusah payah menyamakan kedudukan melalui Goncalo Guedes.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/17/ea6e8bf32cd582b12c10d7dbb89d22b7-FBL_ESP_LIGA_REAL_SOCIEDAD_ATLETICO_MADRID_135063135.jpg)
Catatan buruk di markas sendiri besar kemungkinan akan berlanjut mengingat Barca yang sedang berada pada puncak performa. Setelah kalah dari Chelsea di Liga Champions Eropa, performa Barca meningkat pesat dengan meraih 11 kemenangan beruntun di semua kompetisi. ”Blaugrana” mengincar kemenangan ke-12 secara beruntun di Anoeta.
Kecemerlangan Raphinha menginspirasi kebangkitan Barca. Selain itu, sosok Joan Garcia telah membawa ketenangan di lini pertahanan. Mantan kiper Espanyol itu mencatatkan enam nirbobol dalam tujuh laga terakhirnya. Ia berada di posisi kedua kiper dengan nirbobol terbanyak dengan tujuh kali, kalah dari kiper Real Madrid Thibaut Courtois yang mencatatkan delapan kali nirbobol.
Pada laga sebelumnya melawan Racing Santander, Garcia membukukan tiga penyelamatan penting yang menjaga kemenangan 2-0 Barca. ”Laga berjalan lebih terbuka pada akhirnya. Beruntung kami memiliki Joan Garcia yang melakukan banyak penyelamatan,” kata penyerang Barca Ferran Torres.
Barca wajib mewaspadai skema transisi kilat Sociedad di bawah Matarazzo. Dengan mengandalkan pemain cepat seperti Takefusa Kubo, Sociedad bisa saja menghadirkan mimpi buruk bagi Barca.
Apalagi Matarazzo tengah menikmati kemewahan di lini tengah seiring meningkatnya performa para pemain lini tengahnya, seperti Jon Gorrotxategi, Benat Turrientes, dan Carlos Soler.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/17/0ec5e2285dc22a7a79459b047233ff16-FBL_ESP_LIGA_REAL_SOCIEDAD_ATLETICO_MADRID_135059538.jpg)
Pada laga nanti, Matarazzo harus memilih dua dari tiga gelandang itu untuk diturunkan sejak awal. Matarazzo sangat mungkin mempertahankan duet Turrientes dan Soler mengingat kinerja mereka yang mampu membawa kestabilan di lini tengah.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Nur Adji