Tenda putih dan ratusan ikat mawar putih dari Pasar Bunga Rawa Belong, Jakarta, menghiasi pelantikan kepala daerah serentak pertama dalam sejarah Indonesia.
20 Feb 2025 07:42 WIB · Politik & Hukum
Matahari sudah hampir terbenam tatkala beberapa orang menurunkan ratusan ikat mawar putih dari mobil pikap di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (19/2/2025) petang. Bunga-bunga berwarna putih yang didatangkan dari Pasar Bunga Rawa Belong, Jakarta Barat, itu lantas dibawa ke halaman tengah Istana.
Sebagian pekerja lain lantas menata bunga-bunga itu untuk dekorasi di tenda putih besar bercorak biru. Beberapa pekerja lainnya juga sibuk menata kursi untuk memenuhi tenda yang berkapasitas sekitar kebih dari 1.000 orang.
”Semua putih, iya. Bapak sama Pak Mayor mintanya begitu,” ujar salah satu petugas dekorasi.
Para pekerja itu berkejaran dengan waktu untuk mempersiapkan lokasi yang akan digunakan untuk pelantikan kepala daerah hasil Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024. Mereka dijadwalkan akan dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto pada Kamis (20/2/2025) pukul 10.00.
Semua putih, iya. Bapak sama Pak Mayor mintanya begitu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/19/c4e5f2fa-2b3c-4da3-bc64-1ecc20c66cf0_jpeg.jpg)
Pelantikan serentak dengan jumlah ratusan kepala daerah itu merupakan pertama kali dalam sejarah pilkada di Indonesia. Semua kepala daerah datang ke Istana untuk dilantik oleh Presiden secara langsung.
Mereka bahkan telah melaksanakan dua kali gladi untuk pelantikan. Gladi kotor dilaksanakan pada Selasa (18/2/2025), sedangkan gladi bersih pada Rabu (19/2/2025) atau sehari sebelum pelantikan.
Rangkaian pelantikan akan dimulai dari kawasan Monumen Nasional. Para kepala daerah akan berjalan menuju halaman tengah Istana pukul 09.45 WIB. Acara pelantikan dijadwalkan dimulai pukul 10.00 WIB. Kepala daerah itu bahkan sudah diajak baris-berbaris agar kompak ketika berjalan menuju Istana.
Sebuah tenda raksasa pun sudah berdiri di halaman tengah di antara Istana Merdeka dan Istana Negara untuk menyambut para kepala daerah. Tenda putih dengan langit-langit perpaduan kain warna putih dan biru muda menjadi penaung bagi semua kepala daerah yang akan dilantik, para menteri yang hadir, Presiden dan Wakil Presiden, serta wartawan peliput.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/19/c9d5999e-b859-41ad-9aa8-7024917963be_jpeg.jpg)
Tenda itu setidaknya sudah berdiri kokoh sejak awal pekan ini. Tenda putih dengan nuansa biru itu akan digunakan menjadi tempat pelantikan 481 pasangan kepala daerah hasil Pilkada 2024.
Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto mengatakan, Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan akan melantik langsung 481 pasangan kepala daerah tersebut. Pelantikan serentak ini menjadi yang pertama kali dalam sejarah mengingat biasanya Presiden hanya melantik gubernur/wakil gubernur di Istana Kepresidenan. Adapun bupati/wakil bupati dan wali kota/wakil wali kota dilantik oleh gubernur di ibu kota provinsi masing-masing.
Ia melanjutkan, seluruh kepala daerah dan wakil kepala daerah yang akan dilantik akan menggunakan pakaian dinas upacara besar (PDUB). Pakaian putih tersebut biasanya juga digunakan saat pelantikan kepala daerah dan selaras dengan dekorasi tempat pelantikan di Istana.
Bima mengatakan, pelantikan serentak itu juga akan dihadiri 24 pasangan kepala daerah se-Aceh yang telah dilantik sebelumnya. Mereka akan hadir untuk menyaksikan, bukan untuk dilantik karena pelantikan sudah dilakukan beberapa pekan lalu sesuai dengan status keistimewaan Aceh. Pelantikan gubernur/wakil gubernur Aceh sudah dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian di Aceh. Sementara bupati/wakil bupati dan wali kota/wakil wali kota se-Aceh dilantik oleh Gubernur Aceh.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/19/2ce48313-f3d7-4861-9ce5-e255b25d1400_jpeg.jpg)
”Ketua DPRD seluruh daerah juga kami undang untuk menyaksikan pelantikan kepala daerah serentak di Istana,” ujar Bima Arya.
Pelantikan hampir 500 kepala daerah secara serentak menjadi sejarah. Sebab, pelantikan serentak ini berarti juga menghadirkan ribuan orang dalam Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, mirip dengan perayaan 17 Agustus yang kerap digelar.
Dalam perhitungan, tamu yang akan hadir di Istana akan berkisar 2.400 orang. Jumlah ini terdiri dari 481 kepala daerah, 481 wakil kepala daerah, seorang perwakilan DPRD dari 481 daerah, serta para undangan, seperti para menteri dan kepala lembaga. Setiap kepala dan wakil kepala daerah pun bisa didampingi seorang pasangannya.
Karena melibatkan ribuan tamu, Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) pun tak main-main. Ring satu tetap harus dijaga sebaik-baiknya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/19/ecd376b1-1f36-4b91-81ed-70c6f861e36b_jpeg.jpg)
”Saya mengerahkan 300 personel. Anggota semua grup di Paspampres dikerahkan sebab banyak titik harus diamankan, termasuk di Monas,” tutur Komandan Paspampres Mayor Jenderal Achiruddin.
Identifikasi semua tamu dilakukan sedini mungkin. Setiap kepala/wakil kepala dan pasangannya diperiksa saat tiba di Monas. Setelah menanti di ruang tunggu, verifikasi kembali dilakukan untuk para kepala dan wakil kepala daerah yang akan kirab menuju Istana.
Di Istana, para kepala daerah tidak hanya dilantik. Mereka juga akan mendengarkan amanat yang disampaikan langsung oleh Presiden. ”(Rangkaian pelantikan di Istana) ini menandai babak baru dalam tata kelola pemerintahan daerah,” kata Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media, Sekretariat Presiden, Yusuf Permana.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/19/597dff25-14c4-415e-a1a3-5547d8c4c12f_jpg.jpg)
Momen ini pun, menurut Yusuf, merupakan wujud komitmen pemerintah pusat dalam menciptakan pemerintahan daerah yang lebih efektif, efisien, transparan, dan berorientasi pada pelayanan publik.
Semoga komitmen itu tidak berhenti jadi sekadar seremoni besar yang bersejarah. Tetapi, juga mewujud dalam kerja-kerja pembangunan daerah.
Penulis:
Kurnia Yunita Rahayu, Iqbal Basyari, Nina SusiloEditor:
A. Ponco AnggoroPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .