Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un kembali menggertak. Bagi Pyongyang, nuklir bukan semata-mata alat tawar-menawar.
11 Feb 2025 10:11 WIB · Opini
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un kembali menggertak. Gertakan itu karena Korut gerah dengan kemitraan Korea Selatan, Jepang, dan Amerika Serikat.
Sebagaimana biasanya, Pyongyang lantas mengeluarkan ancaman, yaitu akan memacu pengembangan senjata nuklir mereka. Bahkan, untuk menegaskan sikap itu, kantor berita Korut, KCNA, mengutip Kim Jong Un, mengatakan, nuklir yang mereka miliki adalah kekuatan aktif yang diarahkan untuk menghilangkan semua musuh negara. Bagi Pyongyang, nuklir bukan semata-mata alat tawar-menawar.
Meskipun gertakan semacam itu telah berulang kali dinyatakan—sebelumnya dengan menggelar uji peluncuran rudal jarak jauh—dunia tetap perlu memberi perhatian.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/24/8dce3595-c335-45dd-b9d4-029d59e4e3a5_jpg.jpg)
Bila merujuk sejarah, diawali untuk tujuan sipil, Pyongyang mengarahkan program nuklir mereka menjadi negara pemilik senjata nuklir. Selain buah dari Perang Dingin, perubahan itu tidak bisa dilepaskan dari rasa frustrasi Pyongyang.
Beragam janji yang pernah diberikan oleh negara-negara adidaya untuk mencukupi energi bagi Korut gagal terpenuhi. Salah satu kesepakatan yang pernah dicapai adalah Agreed Framework pada 1994, oleh mantan Presiden AS Jimmy Carter dan Pemimpin Korut kala itu, Kim Il Sung.
Merujuk sejumlah sumber di antaranya, Britannica, Arms Control Association, dan BBC (When Carter met Kim-and stopped a nuclear war, 11 Januari 2025), kesepakatan itu, antara lain berisi kesediaan AS untuk menyediakan 500.000 ton bahan bakar setiap tahun dan pembangunan dua reaktor air ringan untuk Korut. Kompensasinya, Pyongyang membekukan semua aktivitas di fasilitas nuklir Yongbyon dan memberi akses kepada pemantau dari International Atomic Energy Agency (IAEA) melakukan tugasnya di Korut.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/02/28/74205b5f-76b9-4416-b55f-3e1edf0ed643_jpg.jpg)
Entah apa penyebabnya, kesepakatan itu tidak berjalan mulus, bahkan berubah menjadi krisis AS-Korut. Hingga akhirnya pada 2003 Pyongyang memutuskan menarik diri dari Traktat Non-Proliferasi Nuklir. Traktat yang lahir pada tahun 1970 itu merupakan instrumen global untuk ”menghambat” penyebaran dan pelucutan senjata nuklir.
Sejak itu pula, demi menjaga eksistensi rezim dan Korut, Pyongyang menggenjot produksi hulu ledak nuklir. Saat ini Korut diperkirakan memiliki sekitar 50 hulu ledak aktif dan sekitar 70 bahan fisil yang bisa dimurnikan hingga menjadi hulu ledak nuklir. Selain itu, Pyongyang juga telah menguasai teknologi rudal jarak jauh, bahkan antarbenua yang bisa ditembakkan dari platform darat ataupun kapal selam.
Dalam konteks stabilitas dan keamanan global, pencapaian itu bisa dilihat sebagai ancaman. Sanksi ternyata tidak mampu menghentikan ambisi nuklir Pyongyang. Akan tetapi, bila melihat sejarah program nuklir Korut, ada jejak di mana ada peluang untuk ”menurunkan” ego Pyongyang. Mungkin dunia perlu sesekali memberi ruang bagi Pyongyang untuk berbicara. Atau sejatinya mereka telah berbicara, hanya dunia belum benar-benar mendengarkan.
Penulis:
RedaksiEditor:
Marcellus Hernowo, Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .