Nyaring Gemerincing Prestasi Panjat Tebing

Panjat tebing jaga konsistensi sebagai cabor berprestasi internasional. Kisah kebangkitan dan pembuktian di Spanyol jadi bekal menutup kegemilangan tahun ini.

25 Okt 2024 07:44 WIB · Olahraga

Oleh Rebiyyah Salasah - [email protected]

Format baru perlombaan panjat tebing disiplin speed akan diterapkan di IFSC 4 Speed Madrid di Spanyol, 19-20 Oktober 2024. Dalam satu dinding panjat, akan ada empat jalur pemanjat.

Gemerincing medali-medali dari panjat tebing kian nyaring. Hanya dari satu kompetisi saja, Veddriq Leonardo dan kawan-kawan membawa pulang delapan medali yang empat di antaranya adalah emas. Prestasi yang juga diwarnai cerita kebangkitan dan pembuktian ini ialah bekal untuk menutup tahun 2024 dengan manis di Arab Saudi, November mendatang.

Delapan medali itu dipersembahkan tim panjat tebing disiplin kecepatan Indonesia di IFSC 4 Speed di Madrid, Spanyol, 19-20 Oktober 2024. Ajang yang melombakan nomor kecepatan perorangan format empat jalur, kecepatan perorangan dua jalur, dan estafet kecepatan ini merupakan satu dari dua kompetisi penutup tahun bagi Indonesia.

Dalam ajang ini, beberapa pemanjat unggulan memang tidak hadir. Peraih medali emas nomor speed putri di Olimpiade Paris 2024, Aleksandra ”Ola” Miroslaw (Polandia), misalnya, absen. Begitu pula dengan pemegang rekor dunia panjat tebing nomor speed putra, Samuel Watson (Amerika Serikat).

Walakin, kesuksesan Indonesia membawa pulang banyak medali tetap merupakan sesuatu yang patut diapresiasi. Panjat tebing Indonesia menunjukkan konsistensinya sebagai cabor berprestasi di kancah internasional.

Pemanjat tebing disiplin "speed" Indonesia, Rajiah Sallsabillah (kiri) dan Desak Made Rita Kusuma Dewi (dua dari kiri), bertarung pada babak final nomor "speed" empat jalur IFSC 4 Speed di Madrid, Spanyol, 19 Oktober 2024. Desak keluar sebagai juara.

Tahun 2024 saja, panjat tebing selalu membawa pulang medali dari setiap kompetisi yang diikuti. Dimulai dari medali perak di seri Piala Dunia Wujiang, China, lalu satu medali emas dan satu medali perak dari seri Kualifikasi Olimpiade di Shanghai, China.

Setelah itu, panjat tebing juga menyumbang satu medali perak dan satu medali perunggu di seri kualifikasi Olimpiade di Budapest, Hongaria. Puncaknya ialah medali emas Olimpiade Paris 2024.

”Kami percaya sistem pelatihan yang sistematis dan berkelanjutan akan berbuah prestasi yang konsisten. Target kami tidak selesai di Olimpiade saja, tetapi juga kejuaraan-kejuaraan internasional lain,” ucap Kepala Bidang Pembinaan Prestasi Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (PP FPTI) M Rizali Umarella.

Prestasi di Madrid juga menunjukkan bahwa para pemanjat Indonesia mampu mengatasi tantangan format baru dan memanfaatkan absennya lawan berat. Hal paling penting, mereka juga mampu ”mengalahkan” diri sendiri.

Prestasi panjang tebing Indonesia di kancah internasional sepanjang 2024.
Pemanjat tebing Indonesia, Veddriq Leonardo (kanan), meraih medali perunggu dalam perlombaan panjat tebing disiplin speed dengan format baru di IFSC 4 Speed yang digelar di Explanada Puente de Rey, Madrid, Spanyol, Sabtu (19/10/2024) malam waktu setempat atau Minggu dini hari WIB.
Pemanjat tebing Indonesia, Desak Made Rita Kusuma Dewi (tengah) meraih gelar juara IFSC 4 Speed di Madrid, Spanyol, Minggu (20/10/2024) dini hari WIB. Adapun Rajiah Sallsabillah (kanan) meraih medali perunggu setelah finis pada urutan ketiga.
Pemanjat tebing Indonesia disiplin speed, Kiromal Katibin (kanan) meraih medali perunggu pada seri Piala Dunia di Seoul, Korea Selatan, Jumat (4/10/2024).
Pemanjat tebing Indonesia disiplin speed, Rajiah Sallsabillah, meraih medali perak pada seri Piala Dunia di Seoul, Korea Selatan, Jumat (4/10/2024).
(Dari kiri ke kanan) Pemanjat tebing Amerika Serikat, Samuel Watson; pemanjat China, Peng Wu; dan pemanjat Indonesia, Kiromal Katibin, berpose setelah meraih medali di seri pertama Piala Dunia Panjat Tebing 2024 di Wujiang, China, Sabtu (13/4/2024). Peng Wu meraih medali emas, Watson perak, dan Katibin perunggu.
Gold medallist Indonesia's Veddriq Leonardo celebrates on the podium of the men's sport climbing speed event during the Paris 2024 Olympic Games at Le Bourget Sport Climbing Venue in Le Bourget on August 8, 2024. (Photo by Jonathan NACKSTRAND / AFP)

Veddriq, contohnya, dia menyumbangkan dua medali emas dan satu medali perunggu. Medali emas itu diraih dari nomor speed individu dua jalur dan nomor estafet atau beregu bersama Kiromal Katibin. Adapun perunggu dari nomor speed individu empat jalur.

Bagi Veddriq, ini merupakan prestasi pertamanya setelah kesuksesan meraih medali emas Olimpiade Paris 2024. Setelah meraih prestasi tertinggi itu, Veddriq berjuang untuk kembali ke performa terbaiknya.

Di PON Aceh-Sumut 2024, ajang pertama yang diikuti Veddriq selepas Olimpiade Paris 2024, dia hanya membawa pulang satu medali perunggu pada nomor beregu. Pemanjat asal Pontianak, Kalimantan Barat, ini gagal naik podium pada nomor individu.

Veddriq mengalami nasib serupa di seri Piala Dunia Panjat Tebing di Seoul, Korea Selatan, yang hanya melombakan nomor individu. Pada kompetisi internasional pertama yang diikuti Indonesia setelah Olimpiade Paris 2024, langkah Veddriq hanya sebatas perempat final.

Kebangkitan Desak

Lain Veddriq, lain dengan Desak Made Rita Kusuma Dewi. Di Olimpiade Paris 2024, pemanjat putri asal Buleleng, Bali, ini terpaksa pulang dengan kekecewaan setelah gagal menembus semifinal karena kekalahan dramatis. Desak kalah cepat 0,006 detik dari Deng Lijuan (China) yang menekan tombol finis dalam waktu 6,363 detik.

IFSC 4 Speed menjadi awal kebangkitan Desak. Setelah menjadi yang tercepat saat babak kualifikasi nomor speed individu empat jalur, Desak juga menjadi juara. Satu emas kembali diraih Desak saat turun pada nomor beregu bersama Rajiah Sallsabillah.

”Kalau dibilang puas, pastinya belum. Namun, Desak tetap bersyukur karena di kompetisi ini bisa mengontrol diri dan berdiri di podium,” tutur Desak.

Bagi Desak, prestasi di Madrid menjadi modal bagus untuk menutup tahun 2024. Kebangkitan di Madrid juga melecut dirinya untuk terus meningkatkan performa dan mempertajam catatan waktu. ”Ini demi mimpi besar ke Olimpiade Los Angeles 2028,” ujar Desak.

Adapun bagi Rahmad Adi Mulyono, yang gagal menembus putaran final di Olimpiade Paris 2024 dan seri Piala Dunia Seoul, Madrid adalah medan pembuktiannya. Adi membuktikan diri bahwa dirinya layak diperhitungkan di kancah dunia dengan menembus babak final pada nomor speed individu dua jalur.

Bersama Veddriq, Adi menciptakan all Indonesian final alias final sesama Indonesia pada nomor tersebut. Dia pun meraih perak setelah kalah dari Veddriq.

Kisah manis juga diukir Nurul Iqamah, pemanjat putri veteran Indonesia. Nurul, yang akan pensiun sebagai atlet mulai awal tahun depan, berhasil membuat ”salam perpisahan” yang indah dengan menyabet perunggu pada nomor individu dua jalur.

”Senang juga karena saya bisa mencatatkan waktu personal terbaik,” tutur Nurul yang menorehkan 6,83 detik saat babak semifinal.

Prestasi di Madrid menjadi bekal positif untuk menatap kompetisi terakhir bagi Indonesia pada 2024, yakni NEOM IFSC Masters 2024 di Arab Saudi, 10-13 November. Pemanjat putra Indonesia, Kiromal Katibin, tak sabar ingin menunjukkan performa terbaik di ajang itu. Apalagi, pada edisi 2024, Kiromal terhenti pada perempat final.

”Di Madrid, saya kurang perform. Masih banyak yang harus dibenahi, seperti ketenangan dan fokus. Itu PR yang akan saya kerjakan agar bisa tampil lebih baik di NEOM,” ujarnya.

Dalam satu tahun, medali-medali dari panjat tebing bak bergerincing seiring banyaknya prestasi yang ditorehkan. Kisah manis itu menunggu ditutup dengan manis pula di kompetisi terakhir.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra