Nyaris Tak Bergerak di Tanjung Priok

Selama dua hari, kemacetan parah terjadi di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, seiring melonjaknya aktivitas bongkar muat peti kemas.

18 Apr 2025 18:30 WIB · Metro

Oleh Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany

Pengguna jalan mungkin sudah terbiasa dengan kemacetan Jakarta. Namun, situasi berbeda terjadi selama dua hari dan bikin kepala pening.

Sepanjang Kamis dan Jumat (17-18/4/2025), kemacetan panjang terjadi di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Kemacetan ini dipicu naiknya aktivitas bongkar muat di pelabuhan.

Jujun (23), karyawan swasta, melaju seperti biasa dari Bogor menuju Jakarta Utara pada Kamis malam. Lalu lintas yang awalnya ramai lancar tiba-tiba tersendat di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

”Biasanya dari Bogor ke Jakarta Utara paling lama dua jam. Ini sampai empat jam. Udah sif malam, kena macet parah. Pusing kepala, serasa jadi zombi,” kata Jujun pada Jumat.

Jujun terjebak kemacetan mulai dari Jalan Yos Sudarso, persisnya di dekat Astra Honda Motor di Sunter, Jakarta Utara. Sesekali sepeda motornya bisa melaju, tetapi harus menyempil dari pinggir.

Laju kendaraan benar-benar terhenti di jalan layang (flyover) Mall of Indonesia. Tidak ada ruang untuk menyempil karena ada banyak truk di lajur kiri.

”Ada 30 menitan di flyover. Akhirnya cari jalur lain, lewat Sunter terus ke Warakas-Papanggo. Baru bebas macet di dekat Polres Jakarta Utara karena arah ke Plumpang,” ujarnya.

Sammy (22) juga terjebak kemacetan dalam perjalanan pulang ke Cakung, Jakarta Timur. Bahkan, ia dan pengguna Transjakarta yang naik dari Halte Pulogadung terpaksa turun di tengah jalan dan berjalan kaki sampai Halte Cakung Cilincing.

”Dari Pulogadung sudah macet banget. Kami tunggu sekitar 45 menit baru bus datang. Di tengah jalan sudah macet, sampai kendaraan tidak bisa jalan,” kata Sammy.

Dari dalam bus, sepenglihatannya kemacetan terjadi sampai ke arah Pulo Mas, Jakarta Timur. Sementara dalam kurun waktu 1,5 jam, bus hanya bisa maju 200-300 meter.

Situasi itu membuat para penumpang turun. Mereka kemudian berjalan kaki sampai ke Halte Cakung Cilincing. Lalu lintas di kawasan ini ramai lancar.

”Jalan Raya Cakung Cilincing macet banget. Kami jalan mepet got supaya keluar dari macet,” kata Sammy.

PT Pelabuhan Indonesia atau Pelindo (Persero) Regional 2 Tanjung Priok dalam keterangannya menyampaikan bahwa salah satu titik kemacetan berada di Terminal New Priok Container Terminal One (NPCT 1). Kemacetan terjadi karena ada peningkatan arus barang peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok yang bersamaan dengan selesainya masa arus mudik Lebaran dan mengejar waktu sebelum libur Paskah.

Supir truk kontainer mematikan mesin dan membuka pintu saat terjebak kemacetan di Jalan Raya Sulawesi, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (18/4/2025). Kemacetan panjang menuju Pelabuhan Tanjung Priok yang berlangsung sejak Kamis (17/4/2025) mulai terurai sekitar pukul 12.00 WIB. Meski lalu lintas berangsur normal, masih terjadi antrean truk kontainer di ruas jalan mendekati pelabuhan. Menurut Pelindo, situasi ini terjadi karena adanya peningkatan arus barang peti kemas yang akan melakukan kegiatan penerimaan dan pengiriman peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok. KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA) 18-04-2025

Executive General Manager Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Adi Sugiri menyebut, peningkatan bongkar muat mencapai 100 persen dari rata–rata 2.500 truk setiap hari.

”Mencapai di atas 4.000 truk yang menuju NPCT 1. Kami pastikan juga sistem operasi yang ada di terminal dan di common area (area umum) pintu masuk menuju NPCT 1 normal tanpa kendala,” kata Adi.

Sebelumnya, banyak orang membanjiri kolom komentar media sosial Pelindo. Mereka meminta manajemen bertanggung jawab atas kemacetan yang terjadi. Salah satu dugaannya karena kendala sistem operasi.

Dugaan ini bukan tanpa alasan. Sebab, ratusan orang yang mengatasnamakan Keluarga Besar Sopir Indonesia (KSBI) pernah berunjuk rasa di depan NPCT 1 pada Selasa (11/2/2025).

Mereka tak hanya memprotes dugaan pungutan liar dan gate pass (gerbang masuk) yang terlalu dekat dengan jalan raya. Jumlah gate pass di NPCT 1 juga kurang dan kerap rusak sehingga terjadi antrean panjang dan memicu kemacetan.

Foto udara proyek pembangunan Jalan Tol Layang Harbour Road (HBR) II Ancol Timur-Pluit di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (10/1/2025). Tol layang yang akan menghubungkan Tol Akses Tanjung Priok dengan Tol Ir Sedyatmo ini telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) dan ditargetkan selesai pada 2025. Jalan Tol Harbour Road II yang membentang 9,6 kilometer tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya saing Pelabuhan Tanjung Priok dalam efisiensi jalur logistik. Perusahaan jalan tol milik Jusuf Hamka, yakni PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk, membangun Jalan Tol Layang Harbour Road II yang akan menghubungkan wilayah Ancol Timur dengan Pluit. KOMPAS/AGUS SUSANTO 10-1-2025

Penataan kawasan

Banyak pihak ingin integrasi dan penataan kawasan utara Jakarta dipercepat. Keinginan itu sudah dikemukakan dalam sejumlah diskusi. Salah satunya diskusi terpumpun Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) di auditorium PT Pelabuhan Indonesia Regional 2, Jakarta Utara, Selasa (27/6/2023).

Ketua DTKJ Haris Muhammadun mengatakan, integrasi dan penataan kawasan harus dipercepat melalui penguatan kerja sama semua pemangku kepentingan.

Penataan itu meliputi permukiman, lingkungan, kawasan ekonomi sekitar pelabuhan, industri pariwisata, kesejahteraan nelayan, dan pengendalian banjir rob. Kemudian, pengembangan sarana dan prasarana pengelolaan sampah.

”Progresnya (integrasi dan penataan) belum begitu mulus. Apalagi, konstruksi Jalan Tol Harbour Road II juga sedang dibangun. Semoga kemacetan ini jadi atensi gubernur baru (Pramono Anung) dan pimpinan lain,” kata Haris pada Jumat sore.

Jalan Tol Harbour Road II membentang sepanjang 9,6 kilometer. Tol layang ini akan menghubungkan Tol Akses Tanjung Priok dan Jalan Tol Ir Sedyatmo.

Proyek tersebut ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN). Pengerjaannya ditargetkan rampung pada tahun 2025 sehingga bisa meningkatkan daya saing Pelabuhan Tanjung Priok dalam efisiensi jalur logistik.

Menurut Haris, diperlukan satuan tugas untuk mempercepat integrasi dan penataan kawasan utara Jakarta. Kemacetan, misalnya, tidak bisa lagi diselesaikan hanya dengan satu instansi.

Dalam pertemuan lain antara Pramono, Rano Karno, dan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Simpang Susun Semanggi, Jakarta, Kamis (19/9/2024), dibahas skema pembangunan infrastruktur di tengah ancaman ketidakpastian ekonomi tahun depan.

Pertemuan itu berlangsung di tengah masa kampanye Pilkada Jakarta 2024. Ketiganya, antara lain, membicarakan sejumlah proyek yang belum diselesaikan pada masa kepemimpinan Ahok.

Salah satunya proyek area parkir Monumen Nasional (Monas) dan pembangunan New Tanjung Priok. Rencana pembangunan pulau reklamasi New Tanjung Priok, yaitu Pulau O, P, dan Q, berpotensi menambah pendapatan daerah hingga Rp 120 triliun.

Satu diskusi lain bertajuk ”Strategi Pengembangan Produktivitas Ekonomi Jakarta dalam Mewujudkan Visi Kota Global” berlangsung pada Kamis (21/12/2023). Pihak Jakarta International Container Terminal (JICT) di Tanjung Priok dalam paparannya tengah menghadapi tantangan produktivitas karena pelabuhan tak tumbuh.

Direktur Utama JICT Ade Hartono menyatakan, perusahaan menyalurkan 70-80 persen peti kemas dari Tanah Air ke luar negeri. Jumlah ini lebih tinggi dari pelabuhan lain di Indonesia.

Oleh sebab itu, perusahaan mengembangkan pelabuhan ke laut yang terhubung dengan jembatan di daratan. Kemudian, mengoneksikan kawasan industri dengan pelabuhan melalui Jalan Tol Cibitung-Cilincing dan memanfaatkan teknologi untuk memudahkan antrean pengiriman peti kemas.

Saat itu, Ade juga mengutarakan bahwa ini tantangan yang harus dihadapi. Namun, dibutuhkan kerja sama dengan semua pihak untuk menghadapinya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany
 | 

Editor:

Mukhamad Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti