Nyepi dan Kesadaran Penyelamatan Lingkungan

Nyepi mengajarkan pentingnya refleksi dan introspeksi tentang dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan, yang dapat diadopsi dalam program pendidikan lingkungan.

28 Mar 2025 07:30 WIB · Opini

Oleh I Gusti Ngurah Atmaja

Derai air mata Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi tidak bisa dibendung ketika menyaksikan betapa alam di Puncak Bogor telah rusak oleh keserakahan manusia tanpa memperhitungkan dampak lingkungan yang sangat luas. Kesadaran Kang Dedi untuk menjaga gunung sebagai ibu dari alam ini tidak terlepas dari ajaran leluhur bahwa gunung adalah sumber kehidupan.

Kitab suci Weda sebagaimana disebutkan dalam Atharvaveda 12.1.12, menyatakan: Bumi diibaratkan sebagai ibu yang memberikan kehidupan, makanan, dan tempat tinggal, sementara manusia adalah anak yang harus menghormati, merawat, dan melindungi ibunya. Sloka ini mengajarkan bahwa manusia tidak boleh merusak atau mengeksploitasi alam secara berlebihan karena hal itu sama saja dengan merusak ibu sendiri.

Walaupun bukan satu-satunya penyebab, bencana banjir bandang di wilayah Bekasi yang mengakibatkan ribuan rumah terendam, aktivitas warga terganggu, dan kerugian material yang tidak sedikit. Kejadian ini bukanlah yang pertama kali terjadi; banjir di Bekasi seolah menjadi siklus bencana banjir yang terjadwal terulang yang semakin membesar. Fenomena ini telah menjadi rutinitas yang semakin parah akibat perubahan iklim, alih fungsi lahan, dan buruknya sistem drainase. Banjir tersebut mengingatkan kita akan pentingnya kesadaran kolektif untuk menjaga ibu dari alam dan lingkungan dan mengurangi dampak aktivitas manusia yang merusak alam.

Banjir di Bekasi, seperti halnya bencana lingkungan lainnya, adalah akibat dari hilangnya kesadaran manusia akan pentingnya menjaga lingkungan. Nenek moyang Nusantara ini telah mengajarkan kepada kita tentang Tri Hita Karana (THK), menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan-nya, keseimbangan hubungan manusia dengan manusia lainnya, dan keseimbangan manusia dengan lingkungannya.

Tulisan ini mengajak pembaca untuk istirahat sejenak merenungkan kembali apa yang telah kita perbuat untuk menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan lingkungan atau alam sekitarnya sehingga terjadi bencana lingkungan, tidak hanya di Bekasi, tetapi di hampir seluruh wilayah Jawa Barat dan Nusantara, dengan waktu dan tingkat bencana yang berbeda, tetapi dampaknya sama, penderitaan terhadap manusia dan lingkungannya.

Iring-iringan umat Hindu di lokasi upacara Melasti di Kawasan Wisata Bahari Tlocor, Sidoarjo, Minggu (23/3/2025). Untuk pertama kali umat Hindu dari semua Pura di Sidoarjo menyelenggarakan upacara Melasti bersama. Biasanya mereka mengikuti Upacara Melasti di Kenjeran, Surabaya, atau di Pentirtaan Jolotundo, Kabupaten Mojokerto. Melasti sendiri adalah ritual adat Hindu yang dilakukan untuk menyucikan diri dan alam menjelang Hari Raya Nyepi. Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

Nyepi sumber inspirasi

Nyepi sebagai salah satu  kearifan lokal yang masih diterapkan di Pulau Bali dan di beberapa bagian wilayah di Nusantara ini bisa menjadi sumber inspirasi untuk menciptakan kesadaran penyelamatan lingkungan yang di balut dengan tradisi keagamaan yang adi luhung. Nyepi memiliki nilai-nilai ekologis yang sangat kental, yang menjadi inspirasi dari silent day secara global.

Nyepi, hari raya umat Hindu di Bali, adalah contoh nyata bagaimana tradisi keagamaan dapat berkontribusi pada penyelamatan lingkungan. Selama Nyepi, seluruh aktivitas manusia dihentikan selama 24 jam. Empat aturan utama (Catur Brata), yang meliputi: Amati Geni (tidak menyalakan api atau listrik), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian), dan Amati Lelanguan (tidak mencari hiburan). Praktik ini tidak hanya memiliki makna spiritual sebagai momen refleksi dan introspeksi, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan. Pelaksanaan Nyepi sangat terkait dengan ajaran THK.

Quote

Kembalikanlah keharmonisan alam pada kodratnya, merawat dan menanam demi kehidupan yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Kembali pada peristiwa banjir di Bekasi, maka pelaksanaan Nyepi dengan pelaksanaan aspek Palemahan dari THK menjadi sangat penting untuk inspirasi dalam penyelamatan lingkungan. Aspek ”Palemahan” dalam ajaran THK menekankan pentingnya hubungan harmonis antara manusia dengan alam dan lingkungan. Dalam Nyepi, aspek ini diwujudkan dalam sejumlah aktivitas.

Pertama, penghentian aktivitas manusia yang merusak lingkungan. Selama Nyepi, seluruh aktivitas manusia yang dapat merusak lingkungan dihentikan selama 24 jam. Contoh: a). Penghentian Penggunaan Kendaraan Bermotor. Dengan tidak menggunakan kendaraan bermotor, emisi gas buang, seperti karbon dioksida (CO2) dan polutan lainnya berkurang secara signifikan. b) Penghentian Penggunaan Listrik: Penghentian penggunaan listrik selama Nyepi membantu mengurangi beban pada pembangkit listrik, yang sebagian besar masih menggunakan bahan bakar fosil. c) Penghentian Aktivitas Pariwisata. Aktivitas industri pariwisata yang biasanya menghasilkan limbah dan polusi udara dihentikan sementara, memberikan waktu bagi alam untuk ”bernapas”. 

Sejumlah umat Hindu menampilkan salah satu tarian tradisional khas Bali sebelum upacara Tawur Agung Kesanga di Pura Aditya Jaya, Rawamangun, Jakarta, Minggu (10/3/2024). Upacara yang merupakan prosesi sehari sebelum Hari Raya Nyepi tersebut memiliki makna bagi umat Hindu untuk mengusir keburukan dari lingkungan sekitar. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/rwa.

Dampak langsung terkait dengan hal ini, pernah dilakukan studi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada tahun 2019 menunjukkan bahwa selama Nyepi, tingkat polusi udara di Bali menurun secara signifikan, emisi karbon berkurang, dan konsumsi energi listrik turun drastis. Polusi udara turun sebesar 60 persen selama hari Nyepi. Hal ini membuktikan bahwa penghentian sementara aktivitas manusia dapat memberikan dampak positif yang nyata terhadap lingkungan.

Kedua, memberikan waktu pemulihan bagi alam. Nyepi dapat dilihat sebagai bentuk ”istirahat ekologis” bagi alam. Selama satu hari penuh, alam diberikan kesempatan untuk memulihkan diri dari eksploitasi manusia yang terjadi sehari-hari. Contoh: a) Pemulihan Kualitas Udara. Dengan berkurangnya polusi udara, kualitas udara menjadi lebih bersih dan sehat. b) Pengurangan Kebisingan. Penghentian aktivitas transportasi dan industri mengurangi polusi suara, yang berdampak positif pada ekosistem dan satwa liar. c) Pengurangan Sampah, dengan penghentian aktivitas, secara otomatis sampah juga tidak diproduksi sehingga saat malam di hari Nyepi, di keheningan malam, maka kita akan mendengarkan merdunya suara alam, suara sang Illahi yang maha agung, suara yang begitu lembut dan menenangkan dalam kesunyian.

Ketiga, meningkatkan kesadaran ekologis. Nyepi tidak hanya memberikan dampak langsung terhadap lingkungan, tetapi juga meningkatkan kesadaran ekologis masyarakat. Contoh: a) Hidup Sederhana. Dengan menghentikan aktivitas konsumtif selama Nyepi, masyarakat diajak untuk merenungkan pentingnya hidup sederhana dan tidak berlebihan. b) Keterhubungan dengan Alam. Nyepi mengajarkan bahwa manusia adalah bagian dari alam, bukan penguasa yang dapat mengeksploitasi sumber daya tanpa batas. c) Tanggung Jawab terhadap Lingkungan. Praktik Nyepi mengingatkan kita akan tanggung jawab untuk menjaga kelestarian alam bagi generasi mendatang.

Keempat, inspirasi untuk gerakan penyelamatan lingkungan global. Nilai-nilai ekologis yang terkandung dalam Nyepi dapat menjadi inspirasi bagi gerakan lingkungan global. Contoh: a) Hari Bebas Kendaraan Bermotor. Konsep penghentian penggunaan kendaraan bermotor selama Nyepi dapat diadopsi dalam kampanye hari bebas kendaraan bermotor di kota-kota besar. b) Penghematan Energi. Praktik penghentian penggunaan listrik selama Nyepi dapat menjadi model untuk kampanye penghematan energi skala global. c) Refleksi Ekologis. Nyepi mengajarkan pentingnya refleksi dan introspeksi tentang dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan, yang dapat diadopsi dalam program pendidikan lingkungan. 

Mari kita jaga dan selamatkan alam beserta lingkungan sekitar dari segala bentuk eksploitasi yang merusak. Kembalikanlah keharmonisan alam pada kodratnya, merawat dan menanam demi kehidupan yang lebih baik bagi generasi mendatang. Dengan demikian, sang Ibu Pertiwi akan tetap tersenyum, mengalirkan air kehidupan dengan berlimpah, sesuai dengan takaran yang kita butuhkan untuk kelangsungan hidup yang berkelanjutan. Selamat hari raya Nyepi, Tahun Baru Saka 1947. Keheningan untuk keberlanjutan demi hidup yang lebih baik.

I Gusti Ngurah Atmaja Mahasiswa S3 Ilmu Agama, Universitas Hindu Negeri IGB Sugriwa, Denpasar

 


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Ngurah Atmaja
 | 

Editor:

Yohanes Krisnawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .