Aprizal meraih perak alat gelang-gelang SEA Games Thailand. Pada usia kepala tiga, dia akhirnya menyudahi penantian medali selama sewindu sejak edisi 2017.
11 Des 2025 20:03 WIB · Olahraga
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
BANGKOK, KOMPAS — Setelah delapan tahun menanti, pesenam putra Indonesia, Muhammad Aprizal, akhirnya meraih medali pertamanya di SEA Games. Atlet 30 tahun itu sekaligus menyudahi lara tim senam Indonesia yang sempat kehilangan medali berturut-turut di dua nomor final sebelumnya.
Aprizal meraih perak setelah tampil begitu dewasa dalam final alat gelang-gelang di Stadion Gymnasium 4 Universitas Thammasat Rangsit, Bangkok, Thailand, Kamis (11/12/2025). Dia finis di peringkat kedua dari lima peserta final dengan nilai 12,900, hanya kalah dari wakil Vietnam Nguyen Van Kanh (13,767).
Pesenam asal Riau itu tak mampu menahan kesedihan seusai lomba selesai. Dia menangis di pelukan pelatihnya, Ferrous One Willyodac. ”Ini medali pertama setelah SEA Games ketiga saya. Makanya agak emosional. Saya mikir-nya tadi kalau enggak dapat, ya, sudahlah. Ternyata ini rezeki saya,” tuturnya.
Aprizal sudah mengikuti dua edisi SEA Games terdahulu, di Kuala Lumpur 2017 dan Manila 2019, tetapi tidak pernah beruntung. Setelah itu, dia sempat vakum membela tim nasional karena faktor usia ataupun performa. Sampai akhirnya, dia dipanggil lagi ke pemusatan latihan nasional pada tahun ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/11/906a4a12c02281054f25fb9e93500790-FAK_9988.jpg)
Rekan-rekannya di pelatnas dulu sudah banyak yang pensiun. Agus Prayoko, misalnya. Meskipun begitu, Aprizal enggan menyerah dengan senam, olahraga yang ditekuni berkat ajakan sang paman ketika masih kecil. Dia menunjukkan kebangkitannya di PON Aceh Medan 2024 dengan raihan dua perak.
Saat ditanya untuk siapa medali itu dipersembahkan, dia menjawab, dirinya sendiri terlebih dulu. ”Karena ini perjuangan luar biasa. Akhirnya bisa dapat kesempatan lagi. Terima kasih ke PB (Federasi Gimmastik Indonesia). Juga para pelatih dengan sekian banyak drama saya di latihan. Karena usia juga kan,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Bakat Aprizal sudah terlihat sejak lama, terutama di alat gelang-gelang. Namun, bakat itu tidak dimaksimalkan dengan baik dalam setahun terakhir. Di pelatnas kali ini, dia menjalani banyak program berguna. Mulai dari pemusatan latihan di Rusia dan Jepang sampai uji coba di Hongaria.
Dua pekan menjelang SEA Games, tim putra masih menjalani kamp di Jepang. Para pesenam mendapatkan banyak ilmu karena dibantu langsung juri internasional untuk penilaian gerakan selama kamp. ”Anak ini berbakat, tetapi ya gitu. Dia baru mendapatkan medali pada usia 30 karena dimanfaatkan dengan benar,” kata Ferrous.
Aprizal sebenarnya masuk daftar untuk tampil di Kejuaraan Dunia Senam Artistik Jakarta 2025, Oktober lalu. Namun, dia mengalami demam tepat sebelum lomba. Alhasil, sang pesenam terpaksa mundur dari kompetisi. Baginya, momen pahit itu menjadi motivasi untuk tampil lebih lapar di Thailand.
Setelah meraih medali pertama di ajang dua tahunan itu, Aprizal masih belum mengetahui masa depan kariernya. Dia belum mempertimbangkan pensiun walaupun sudah masuk usia kepala tiga. ”Jujur, saya masih belum tahu. Kalau saya mengalir saja karena kan secara umur sudah senior. Jadi mengalir saja,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/11/8508d7926250b7017c717065b2a435d2-FAK_9844.jpg)
Adapun Aprizal sekaligus mengobati kekecewaan tim senam di dua nomor sebelumnya. Di final alat lantai putra, Abiyu Rafi (12,267) hanya berhasil menempati peringkat keempat dari enam peserta. Pesenam putri Salsabilla Hadi (12,533) juga finis di luar tiga besar dalam final meja lompat.
Tingkat kesulitan gerakan dan eksekusi Salsabilla masih di bawah pesaingnya, antara Aleah Finnegan (Filipina) dan Nguyen Thi Quynh Nhu (Vietnam). Pelatih tim putri Eva Novalina Butar Butar berkata, perlu ada kesalahan cukup fatal dari lawan untuk bisa naik podium. ”Kita memang masih di bawah. Harus ditingkatin gerakannya,” ujar Eva.
Sementara itu, Abiyu masih belum mampu mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Eksekusi gerakannya sangat ”kotor”. Banyak gerakan tambahan saat mendarat. Dia bahkan sempat terpeleset dan nyaris terjatuh. Abiyu tidak banyak berkomentar setelah lomba. ”Bisa, bisa (bangkit),” katanya soal final alat tunggal pada Jumat.
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase