Obesitas pada Anak, Masalah Gizi yang Kurang Perhatian

Jumlah anak dengan obesitas semakin tinggi. Namun, keberpihakan pemerintah melalui regulasi yang tegas dalam menekan angka obesitas masih minim.

12 Nov 2024 16:19 WIB · Nasional

Oleh Deonisia Arlinta - [email protected]

JAKARTA, KOMPAS — Jumlah anak di Indonesia dengan berat badan berlebih semakin meningkat. Kondisi kelebihan berat badan atau obesitas pada anak merupakan masalah kompleks yang bisa mengancam sistem kesehatan nasional. Namun, persoalan ini dinilai belum menjadi perhatian serius pemerintah.

Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia 2023, angka anak balita yang mengalami berat badan berlebih atau overweight mencapai 4,2 persen. Jumlah ini meningkat dari tahun 2022 sebesar 3,5 persen.

Selain itu, angka berat badan berlebih dan obesitas lebih tinggi lagi ditemukan pada anak usia 5-12 tahun. Angka berat badan berlebih pada usia tersebut mencapai 11,9 persen dan angka obesitas mencapai 7,8 persen.

Ketua Umum Himpunan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dokter Indonesia (Hifdi) Zaenal Abidin, dihubungi di Jakarta, Selasa (12/11/2024), mengatakan, obesitas pada anak merupakan salah satu masalah kesehatan yang serius dan kompleks. Kondisi obesitas erat terkait dengan berbagai penyakit metabolik yang membutuhkan perawatan jangka panjang dan pembiayaan kesehatan yang besar.

”Tren obesitas anak banyak terjadi pada usia di atas lima tahun. Hal itu terjadi setelah anak secara independen dapat memilih makanan sendiri, sudah bisa jajan sendiri. Namun, yang menjadi masalah, menu jajanan yang tersedia di sekitar anak banyak yang tinggi kalori dan manis,” katanya.

Quote

Tren obesitas anak banyak terjadi pada usia di atas lima tahun.

Dokter spesialis gizi klinik Tirta Prawita Sari dalam dialog publik bertajuk ”Melawan Obesitas Anak Mewujudkan Generasi Sehat Menuju Indonesia Emas 2024” menuturkan, obesitas terjadi akibat adanya ketidakseimbangan energi pada tubuh. Obesitas disebabkan asupan energi yang masuk lebih besar dari energi yang dikeluarkan oleh tubuh yang terjadi dalam jangka waktu lama.

Ketidakseimbangan tersebut terjadi akibat konsumsi makanan dalam jumlah berlebihan (overeating), pengeluaran energi yang rendah (low energy expenditure), dan kurangnya aktivitas fisik (physical inactivity).

Menurut Tirta, masalah obesitas pada anak di Indonesia semakin berat dengan lingkungan yang tidak mendukung perilaku hidup sehat. Makanan yang tinggi kalori dan minuman manis lebih mudah diakses oleh anak-anak. Tingginya konsumsi pada makanan tinggi kalori itu pun tidak diimbangi dengan aktivitas fisik yang cukup.

Infografik Barometro Makanan Minim Gizi Masih Cenderung Disukai

”Minuman manis yang dijual dengan harga murah semakin menarik perhatian anak-anak. Strategi pemasaran yang agresif pun turut memengaruhi konsumsi anak-anak sehari-hari,” ucapnya.

Selain itu, sebagian besar anak-anak dan remaja di Indonesia juga kurang mengonsumsi sayur dan buah. Hampir 97 persen anak usia 5-19 tahun tidak mengonsumsi sayur dan buah dengan jumlah yang cukup. Hal itu berpotensi meningkatkan risiko obesitas dan masalah kesehatan lainnya.

Kebijakan lemah

Meski tren obesitas terus meningkat, Tirta menuturkan, perhatian masyarakat pada masalah gizi ini masih kurang. Obesitas sering kali tidak dianggap sebagai penyakit. Padahal, obesitas merupakan suatu penyakit yang penanganannya tidak mudah.

Selain itu, obesitas juga dinilai belum dianggap sebagai masalah yang serius bagi pemerintah. Kebijakan terkait obesitas masih lemah.

Di saat banyak negara sudah menerapkan intervensi yang efektif untuk menekan konsumsi gula pada anak-anak, Indonesia belum memiliki kebijakan yang spesifik. Cukai untuk minuman manis dalam kemasan pun belum diterapkan hingga saat ini.

Sejumlah anak mengambil makanan ringan di warung yang dibuat warga di Kampung Kutawetan, Desa Mangunkerta, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Minggu (4/12/2022). Warga membuat warung itu agar anak-anak bisa jajan secara gratis. Warga berharap, cara itu turut memulihkan perasaan anak-anak terdampak gempa. Kompas/Riza Fathoni (RZF) 04-12-2022

Sekalipun obesitas merupakan suatu penyakit, obesitas juga belum masuk sebagai salah satu penyakit yang dijamin dalam program Jaminan Kesehatan Nasional. Sejumlah pihak pun masih menganggap obesitas sekadar sebagai masalah estetika. Kondisi obesitas baru dianggap sebagai penyakit jika sudah menimbulkan komplikasi.

Hal tersebut justru memperburuk kondisi orang dengan obesitas. Penanganan obesitas tidak bisa dilakukan sejak dini sebelum komplikasi penyakit yang lebih buruk terjadi.

Jaminan kesehatan

Pakar jaminan sosial yang juga anggota kelompok kerja kesehatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Ahmad Ansyori menyampaikan, masalah obesitas seharusnya mendapatkan perhatian lebih bagi pemangku kebijakan di Indonesia. Obesitas yang semakin meningkat pada masyarakat, termasuk pada anak-anak menjadi peringatan pada keberlanjutan sistem kesehatan nasional.

Obesitas yang tidak tertangani memicu berbagai penyakit lainnya, seperti hipertensi dan diabetes yang bisa berujung pada gangguan jantung, stroke, gagal ginjal, dan kanker. Penyakit tidak menular tersebut membutuhkan perawatan jangka panjang dengan biaya yang tinggi.

Infografik Kontribusi JKN terhadap Ekonomi dan Rasio Klaim BPJS Kesehatan

Pada program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat, total biaya untuk penyakit katastropik, seperti jantung, stroke, kanker, dan gagal ginjal, mencapai Rp 12,7 triliun pada Januari-September 2020.

”Obesitas pada anak di Indonesia menjadi masalah kesehatan yang serius dan mendesak untuk ditangani. Kebijakan dan program yang lebih ambisius diperlukan untuk mengatasi masalah ini secara efektif. Obesitas pada anak berpengaruh besar pada biaya kesehatan yang semakin besar di Indonesia,” ujar Ansyori.


Kerabat Kerja

Penulis:

Deonisia Arlinta
 | 

Editor:

Ichwan Susanto