Obligasi Lebih Diminati daripada Investasi Saham pada 2025

Obligasi dipilih sebagai penahan volatilitas portofolio investasi di pasar modal. ”Outflow” di pasar saham itu masih bisa ditahan dengan ”inflow” di pasar obligasi.

15 Jul 2025 17:19 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Tahun ini dinilai sebagai tahunnya obligasi. Pasalnya, minat investor yang menghindari risiko volatilitas tinggi pada aset saham di pasar modal lebih melirik investasi pada aset surat utang.

Rully Arya Wisnubroto, Head of Research and Chief Economist Mirae Asset, dalam acara Media Day di Jakarta, Selasa (15/7/2025), menerangkan, volatilitas tinggi pada aset saham di pasar modal RI terlihat dari besarnya investasi asing yang keluar (outflow) daripada masuk ke pasar saham.

Nilai bersih outflow atau dana asing yang keluar dari pasar saham dalam sebulan terakhir hingga Senin (14/7/2025) mencapai Rp 10,4 triliun dan mencapai total Rp 59 triliun sejak awal tahun.

Di sisi lain, tren harga obligasi masih menunjukkan kenaikan sejalan dengan dana masuk (inflow) investor asing yang cukup besar. Sejak awal Juli hingga awal pekan ketiga, tercatat nilai bersih investasi asing Rp 17,2 triliun. Adapun sejak awal tahun, nilai bersih investasi asing yang masuk mencapai Rp 70 triliun.

”Jadi, memang outflow di pasar saham itu masih bisa ditahan dengan inflow di pasar obligasi. Oleh sebab itu, saya menyatakan bahwa tahun ini lebih ke tahun obligasi dibandingkan dengan tahun saham,” katanya.

Ekonom Senior Mirae Asset Sekuritas Rully Wisnubroto dalam acara Media Day di Kantor Pusat Mirae Asset Sekuritas di Jakarta, Rabu (27/3/2024).

Terkait masih tingginya penjualan aset oleh investor pasar saham, Rully menjelaskan, kondisi ini terjadi karena investor menghindari ketidakpastian di pasar saham akibat kebijakan ekonomi yang cepat berubah dan tren perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Sentimen kebijakan perdagangan Presiden AS Donald Trump, yang bisa berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi banyak negara, menjadi salah satu sumber kekhawatiran investor.

Adapun pasar obligasi menjadi lebih menarik karena berisiko lebih rendah dan memiliki prospek keuntungan yang lebih baik karena potensi penurunan suku bunga. Potensi penurunan suku bunga yang berimbas pada penurunan imbal hasil obligasi secara bertolak belakang akan mendorong kenaikan harga obligasi.

Proyeksi penurunan suku bunga, antara lain, terjadi di AS. Meski masih diwarnai ketidakpastian ekonomi di AS, bank sentral AS The Federal Reserve, The Fed Fund Rate (FFR), menurut Rully, dibaca investor akan terjadi pada semester dua 2025. Sebelumnya, pada semester pertama, The Fed memilih menahan suku bunga di posisi 4,5 persen. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun pun sudah turun 13,6 basis poin ke level 4,43 persen sejak awal tahun.

”Ekspektasi bahwa The Fed masih membuka peluang untuk menurunkan suku bunga sebanyak dua kali, yang sudah berimbas ke imbal hasil pasar obligasi, itu mungkin akan dilakukan pertama kalinya pada September, kemudian dilanjutkan pada Desember,” kata Rully.

Grafik yang menunjukkan peningkatam ketidakpastian ekonomi di 2025.

Imbal hasil obligasi di dalam negeri juga sudah turun. Imbal hasil surat berharga negara (SBN) rupiah tenor 10 tahun sudah turun 40,8 basis poin sejak awal tahun ke nilai 6,59 persen pada Senin (14/7/2025). Penurunan imbal hasil obligasi dalam negeri mayoritas terjadi pada surat utang dengan tenor jangka pendek pada kisaran dua tahun.

Turunnya imbal hasil obligasi dalam negeri dipengaruhi pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebanyak dua kali hingga total 50 basis poin pada semester pertama 2025. Adapun pada semester ini, Rully menilai, BI masih akan menahan suku bunga di level 5,5 persen hingga akhir tahun.

Proyeksi ini menunggu penyesuaian penurunan suku bunga kredit perbankan yang terjadi lebih lambat dari penurunan suku bunga acuan BI. Lambatnya penurunan suku bunga kredit bank juga terjadi karena bank masih menjaga likuiditas atau ketersediaan dana.

Sebaliknya, Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Dimas Ardhinugraha membaca bahwa potensi penurunan suku bunga BI hingga akhir tahun masih ada, kendati likuiditas pasar masih relatif ketat dipengaruhi oleh ekonomi domestik yang lemah.

”Konsensus pasar memperkirakan pada paruh kedua 2025 ini, BI akan kembali menurunkan BI Rate di kisaran 50 basis poin. Pandangan kami pun cukup sejalan, kami perkirakan sampai akhir tahun nanti BI Rate akan berada di kisaran 5,00 persen-5,25 persen,” kata Dimas dalam rilis analisis pasar Juli 2025.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (ketiga dari kiri) didampingi jajarannya saat memberikan keterangan kepada wartawan terkait hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia di Jakarta, Rabu (18/9/2024). Bank Indonesia memutuskan menurunkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 6 persen.

Selain potensi penurunan suku bunga, pasar obligasi domestik, menurut dia, masih potensial, ditopang oleh potensi stabilitas rupiah seiring berlalunya periode pembayaran dividen di triwulan dua 2025 dan ekspektasi dollar AS yang masih lemah. Minat investor global masuk ke pasar negara berkembang untuk mencari imbal hasil menarik pun tinggi, selain permintaan dari investor domestik yang diperkirakan menguat seiring dengan turunnya imbal hasil produk BI, SRBI.

”Dengan ini, ada potensi reinvestasi atau peralihan investasi ke obligasi negara, SBN. Suplai obligasi ini pun diperkirakan tetap terjaga walau defisit APBN 2025 melebar, didukung oleh penggunaan SAL (Saldo Anggaran Lebih) oleh pemerintah yang berpotensi mengurangi kebutuhan penerbitan obligasi,” katanya.

Di tengah dinamika pasar keuangan ke depan, ia menyarankan investor untuk melakukan diversifikasi di kedua kelas aset, baik obligasi maupun aset berisiko tinggi seperti saham.

”Obligasi dapat dipilih sebagai penahan volatilitas portofolio sambil menantikan perkembangan negosiasi tarif kondisi geopolitik, dan pada saat yang sama tetap menangkap potensi dari ekspektasi pemangkasan suku bunga lebih lanjut. Sementara itu, saham bisa dimanfaatkan untuk menangkap peluang investasi jangka panjang, dengan alokasi yang disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan investasi investor,” pesannya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

Budi Suwarna
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul