AS Akan Berunding Langsung dengan Iran soal Nuklir, Teheran Pilih Sebaliknya

Trump menekankan bahwa jika pembicaraan itu gagal, Iran akan berada dalam bahaya besar. Iran memilih model perundingan tidak langsung.

08 Apr 2025 17:42 WIB · Internasional

Oleh Mahdi Muhammad

WASHINGTON, SELASA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan akan berunding di Oman dengan Iran soal program nuklir Iran. Trump mengklaim AS dan Iran akan berunding secara langsung tanpa fasilitator. Sebaliknya, Iran menolak perundingan langsung dan memilih model perundingan tidak langsung seperti dilaksanakan selama ini.

“Kami berunding langsung dengan Iran. Itu akan berlangsung Sabtu. Kita lihat apa yang bisa terjadi,” kata Trump di Gedung Putih, Senin (7/4/2025) waktu setempat atau Selasa waktu Indonesia. Trump mengungkapkan hal itu di sela pertemuannya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Tidak ada penjelasan apakah rencana perundingan itu bagian dari pembicaraan Trum dengan Netanyahu atau tidak.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (tiga dari kiri) berjabat tangan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump (tiga dari kanan) saat keduanya bertemu di Gedung Putih, Washington DC, Senin (8/4/2025).

Trump tidak memberikan penjelasan detail tentang substansi yang akan dibicarakan dengan Teheran. Trump hanya menekankan bahwa jika pembicaraan itu gagal, Iran akan berada dalam bahaya besar.

"Saya tidak suka mengatakannya karena mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir," katanya, dilansir media Inggris The Guardian.

Menurut Trump, Iran salah satu dari sekian banyak negara yang seharusnya tidak memiliki kemampuan nuklir. Trump tidak menjelaskan mengapa Iran tidak boleh memilikinya sementara yang lain boleh. Teheran mengklaim kepemilikan nuklir untuk tujuan sipil dan damai, bukan untuk persenjataan atau tujuan militer lainnya.

"Bukan rumus yang rumit. Iran tidak dapat memiliki senjata nuklir. Saat ini ada negara-negara yang memiliki tenaga nuklir yang seharusnya tidak memilikinya,” kata Trump.

"Dan, jika pembicaraan tidak berhasil, saya benar-benar berpikir itu akan menjadi hari yang sangat buruk bagi Iran,” tambahnya.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara pada jurnalis di Ruang Oval, Gedung Putih, Washington, Senin (7/4/2025), soal rencana perundingan nuklir dengan Iran.

Perundingan ini kelanjutan perundingan pada masa pemerintahan mantan Presiden Joe Biden. Akan tetapi, tidak ada hasil yang memuaskan dalam masa perundingan tidak langsung tersebut.

Setelah itu, sejumlah negara Eropa, dimotori Inggris, Perancis dan Jerman, mendorong pembicaraan mengenai program nuklir Iran pada November 2024. Sama seperti pembicaraan sebelumnya, tidak ada kejelasan soal hasil perundingan.

Perundingan langsung AS dan Iran pernah terjadi di masa pemerintahan mantan Presiden Barack Obama yang berujung pada kesepakatan nuklir Iran atau JCPOA di tahun 2015. Kesepakatan itu menawarkan keringanan sanksi Iran sebagai imbalan atas pembatasan aktivitas pengayaan uraniumnya.

Akan tetapi, saat Trump berkuasa, AS secara sepihak meninggalkan kesepakatan itu. Sebagai gantinya, Trump mengeluarkan kebijakan “tekanan maksimum” yang memperketat embargo ekonomi terhadap Iran.

Menurut rencana, dalam pertemuan di Oman delegasi Iran akan dipimpin Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi. Sementara AS dipimpin Utusan Presiden AS Steve Witkoff. Pemerintah Oman sebagai tuan rumah disebut-sebut akan menjadi fasilitator pertemuan. Namun, menurut kantor berita Iran, IRNA, Pemerintah Rusia menawarkan diri menjadi fasilitator dialog.

Model Libya

Sejak awal, tujuan utama AS dan sejumlah negara Barat serta sekutu mereka, yakni Israel, adalah melucuti kemampuan nuklir Iran. AS tidak menginginkan ada negara selain Israel di kawasan Timur Tengah memiliki kemampuan nuklir. Pada awal Maret, Trump mengirim surat pada Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang isinya menyarankan perundingan ketimbang konfrontasi bersenjata.

Netanyahu yang duduk di samping Trump selama dialog di Ruang Oval dengan para jurnalis, tidak banyak berbicara mengenai rencana perundingan itu. Dia hanya mengatakan, jika diplomasi bisa mencegah Teheran memiliki kemampuan persenjataan nuklir secara penuh seperti yang dilakukan di Libya, akan lebih baik.

Foto yang dirilis kantor Angkatan Darat Iran pada Rabu (13/10/2021), menunjukkan senjata anti pesawat yang turut digunakan dalam latihan gabungan antara tentara Iran dan Garda Revolusi Islam (IRGC) pada hari kedua di sebuah tempat yang tidak disebutkan. Sejauh ini, Presiden Iran Embrahim Raisi tidak menunjukkan tanda-tanda berminat kembali ke perjanjian nuklir tahun 2015 yang dikenal dengan Rencana Aksi Komprehensif Bersama atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). (Photo by - / Iranian Army office / AFP) *** Local Caption *** This handout photo made available by the Iranian Army office on October 12, 2021, shows a view of an anti-aircraft missile launcher during a joint military exercise between the Iranian army and the Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). (Photo by - / Iranian Army office / AFP) / === RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / HO / IRANIAN ARMY OFFICE" - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS ===

Model Libya adalah model pelucutan kemampuan nuklir secara penuh dengan mengirimkan seluruh mesin dan peralatan yang dimiliki ke luar negeri agar tidak bisa dipergunakan lagi. Cara ini pernah diterapkan di Libya pada era 2000-an. Akan tetapi, setelah kemampuan nuklir Libya dilucuti, sebagian besar peralatan pengayaan nuklir Libya belum pernah dikeluarkan dari negara itu sampai saat ini.

Seperti halnya Trump, Netanyahu juga tidak secara gamblang mengatakan, apakah model Libya yang dimaksud juga termasuk dalam penggulingan pemerintahannya, seperti yang terjadi pada Moammar Khadafi.

<p>Situs nuklir Iran Infografik</p>

Beberapa jam sebelum pengumuman Trump, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei mengatakan, Iran tengah menunggu tanggapan AS atas usulan Teheran untuk negosiasi tidak langsung. Ia mengatakan, Teheran yakin telah memberikan tawaran yang murah hati, bertanggung jawab, dan terhormat.

Nournews Iran, yang berafiliasi dengan badan keamanan tertinggi negara itu, menggambarkan pernyataan Trump tentang rencana pertemuan langsung tidak lain sebagai kedok. Langkah itu disebut sebagai operasi psikologis yang bertujuan memengaruhi opini publik domestik dan internasional.

Seorang pejabat Iran, yang berbicara dengan syarat anonim mengatakan, kemungkinan ada waktu sekitar dua bulan untuk mencapai kesepakatan. Dia mengungkapkan kekhawatiran bahwa musuh lama Iran, Israel, mungkin akan melancarkan serangan jika pembicaraan berlangsung lebih lama. (AP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Mahdi Muhammad
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati