OPEC+ Tambah Produksi Minyak di Tengah Perang Iran-Israel

Permintaan dan produksi minyak yang ditopang China dan Amerika Serikat masih tinggi dalam jangka pendek.

18 Jun 2025 14:03 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS - Perang Iran-Israel melonjakkan harga minyak mentah dunia. Konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah itu menimbulkan kekhawatiran adanya pembatasan distribusi minyak. Organisasi negara pengekspor minyak dan produsen dari negara lain atau OPEC+ diyakini dapat menjamin keamanan pasokan minyak jangka menengah untuk menekan kenaikan harga.

Indeks West Texas Intermediate (WTI) per Rabu (18/6/2025) mencatat harga minyak mentah adalah 75 dollar AS per barel. WTI adalah salah satu jenis minyak mentah yang digunakan sebagai patokan dalam penentuan harga minyak dunia.

Quote

Meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah mulai 13 Juni 2025 menambah ketidakpastian pada prospek pasar minyak tahun ini.

Sementara, harga minyak mentah jenis Brent adalah 76 dollar AS per barel. Posisi ini membawa harga minyak ke level tertingginya dalam empat bulan terakhir.

Laporan Oil 2025 yang dirilis Organisasi Energi Internasional (IEA), Selasa (17/6/2025), mencatat, meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah mulai 13 Juni 2025 menambah ketidakpastian pada prospek pasar minyak tahun ini.

Sebelumnya, IEA juga menimbang faktor ketegangan perdagangan yang belum terselesaikan dan perubahan kebijakan ekonomi dunia, yang berimplikasi pada permintaan minyak. Ekonom dunia pun memangkas prospek pertumbuhan ekonomi dunia pada 2025 sekitar setengah poin persentase menjadi sekitar 2,8 persen dan laju pertumbuhan di bawah tren sekitar 3 persen per tahun selama sisa dekade ini.

Grafik harga minyak Brent sepanjang 2025 hingga 18 Juni 2025.

Merespons dinamika mutakhir ini, kelompok produsen OPEC+, yang dipimpin oleh Arab Saudi memutuskan mulai mencabut pembatasan produksi minyak pada Mei 2025. Imbasnya, harga minyak mampu turun ke posisi terendah dalam empat tahun terakhir.

Harga terendah itu terjadi pada April dan awal Mei 2025. Harganya berkisar 65 dollar AS per barel sebelum kembali melonjak karena kondisi gepolitik mutakhir.

"Dengan ketidakpastian geopolitik dan ekonomi yang memengaruhi produsen dan konsumen minyak, keamanan pasokan minyak tetap menjadi prioritas utama dalam agenda kebijakan energi internasional," kata catatan eksekutif IEA dalam laporan terbaru mereka.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Tri Winarno, dalam siara pers, Selasa (17/6/2025), menjelaskan, penurunan harga sampai Mei 2025 membuat Menteri ESDM menetapkan harga rata-rata minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) per Mei 2025 adalah 62,75 dollar AS per barel.

Dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 208.K/MG.03/MEM.M/2025 tentang Harga Minyak Mentah Bulan Mei 2025, harga pada Mei turun 2,54 dollar AS per barel dari ICP April yang ditetapkan 65,29 dollar AS per barel. Surat ini ditandatangani pada 10 Juni 2025.

Tri mengatakan, penurunan harga bisa terjadi tidak hanya karena negara-negara OPEC+ telah sepakat untuk meningkatkan suplai sebanyak 410.000 barel per hari. Kartel itu juga bisa kembali meningkatkan produksi di Juli 2025 hingga 411.000 barel per hari.

Negara yang tergabung dalam Opec+ bersiap untuk menghadapi kemungkinan terus melonjaknya harga minyak usai Uni Eropa memutuskan menjatuhkan sanksi baru terhadap minyak Rusia. (AP Photo/Eric Gay, File)

Faktor lain yang menyebabkan penurunan harga minyak mentah di Mei 2025 adalah stok minyak mentah komersial Amerika Serikat di akhir Mei 2025 yang meningkat 2,8 juta barel bila dibandingkan akhir April 2025

"Untuk kawasan Asia Pasifik, penurunan harga minyak mentah selain disebabkan oleh faktor-faktor di atas, juga dipengaruhi oleh proyeksi penurunan permintaan minyak di kawasan Asia Pasifik yang berlanjut ke loading atau periode pengiriman di bulan Juli, karena kilang memasuki periode turn around atau berhenti operasi sementara waktu," kata Tri.

Sementara dalam jangka menengah, IEA memprediksi, minyak akan mengalami lonjakan permintaan sebesar 2,5 juta barel per hari (mb/d) selama periode 2024-2030 dan mencapai titik puncak pada 105,5 mb/d pada akhir dekade ini. Pada saat sama, kapasitas produksi minyak global diperkirakan akan meningkat lebih dari 5 mb/d menjadi 114,7 mb/d pada 2030.

Pertumbuhan ini akan didominasi oleh permintaan gas alam cair (NGL) dan cairan non-minyak mentah lainnya. Pergeseran strategis menuju kapasitas non-minyak mentah yang lebih tinggi didorong oleh permintaan global yang kuat untuk bahan baku petrokimia dan pengembangan sumber daya gas yang kaya cairan.

<p>Foto yang diambil 26 Agustus 2021 di lokasi kilang gas alam di Watford City, Dakota Utara, Amerika Serikat. Harga gas alam yang melonjak membuat sejumlah produsen listrik di Asia kembali beralih ke minyak dan membantu menopang kenaikan harga minyak mentah dunia. (AP Photo/Matthew Brown)</p>

Pergeseran pada pasar minyak mentah antara lain datang dari perubahan konsumsi energi di China. Negara itu semakin beralih ke penggunaan kendaraan listrik, penggunaan truk dengan bahan bakar gas alam cair (LNG), serta pertumbuhan tinggi dalam jaringan kereta api berkecepatan tinggi.

Ini berlangsung seiring dengan perubahan struktural dalam ekonominya. Padahal, selama dekade terakhir, permintaan minyak dari China menyumbang 60 persen dari peningkatan penggunaan minyak global.

Quote

Pergeseran pada pasar minyak mentah antara lain datang dari perubahan konsumsi energi di China.

Sementara itu, AS sebagai produsen besar minyak yang menyumbang 90 persen dari peningkatan pasokan global diprediksi akan memperlambat produksi. Sebab, perusahaan minyak mengurangi investasinya.

"Berdasarkan fundamental, pasar minyak tampaknya akan dipasok dengan baik di tahun-tahun mendatang, tetapi peristiwa terkini secara tajam menyoroti risiko geopolitik yang signifikan terhadap keamanan pasokan minyak. Dalam hal keamanan energi, tidak ada ruang untuk berpuas diri. IEA tetap berkomitmen untuk bekerja sama dengan produsen dan konsumen energi guna menjaga keamanan energi," kata Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

Lucia Dwi Puspita Sari