ENERGI

OPEC+ Naikkan Produksi, Harga Minyak Berpeluang Rendah sampai Tahun Depan

OPEC+ menaikkan kuota produksi saat ekspor lewat Selat Hormuz mulai pulih. Harga minyak berpeluang tetap rendah hingga 2027.

06 Jul 2026 12:01 WIB · Internasional

AP Photo/Amirhosein Khorgooi

Oleh Irene Sarwindaningrum

NEW YORK, SENIN — Kenaikan kuota produksi OPEC+ berpotensi mempercepat penurunan harga minyak dunia setelah ekspor lewat Selat Hormuz mulai pulih. Tanpa konflik baru, harga minyak berpeluang bertahan di level rendah hingga tahun 2027 karena pasar mengantisipasi pemulihan pasokan dan risiko surplus.

Tujuh anggota utama OPEC+ pada Minggu (5/7/2026) waktu New York atau Senin (6/7/2026) waktu Jakarta sepakat menaikkan kuota produksi minyak sebesar 188.000 barel per hari mulai Agustus 2026. Ketujuh negara itu adalah Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman.

Keputusan tersebut menjadikan kenaikan kuota produksi minyak kelima secara beruntun. Sejak April hingga Juli, tujuh negara itu telah menaikkan kuota hampir 800.000 barel per hari. Namun, kenaikan produksi baru di atas kertas. Pasalnya, jalur Selat Hormuz sempat ditutup untuk sebagian besar tanker minyak akibat perang Iran melawan Amerika Serikat-Israel.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur minyak terpenting dunia. Sebelum perang, sekitar seperlima minyak dunia melewati jalur itu. Saat perang, ekspor minyak negara-negara Teluk terganggu. Arab Saudi, Irak, dan Kuwait termasuk negara yang terdampak.

A group of people stands in shallow water as a cargo ship appears anchored in the Strait of Hormuz off Bandar Abbas, Iran, Tuesday, June 30, 2026. (Amirhosein Khorgooi/ISNA via AP)

Data OPEC menunjukkan, produksi gabungan Arab Saudi, Irak, dan Kuwait turun sekitar 6 juta barel per hari antara kuartal I-2026 dan Mei 2026. Akibatnya, produksi OPEC+ turun dari 42,77 juta barel per hari pada Februari menjadi 33,13 juta barel per hari pada Mei 2026.

Produksi mulai pulih pada Juni, tetapi masih berada di bawah level sebelum perang. ”Untuk saat ini, produksi kemungkinan masih berada di bawah target OPEC+,” kata analis komoditas UBS, Giovanni Staunovo.

Ekspor minyak mulai pulih setelah Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman damai sementara pada 17 Juni 2026. Dalam kesepakatan itu, Teheran dan Washington berkomitmen melancarkan lalu lintas maritim di Selat Hormuz selama perundingan berlangsung.

Sejak itu, pergerakan kapal komersial di kawasan Teluk mulai meningkat. Dikutip dari Bloomberg, seorang pejabat AS menyebut pasokan minyak melalui Selat Hormuz kemungkinan telah melebihi 10 juta barel per hari. Namun, lalu lintas kapal belum kembali ke level sebelum perang.

Quote

Untuk saat ini, produksi kemungkinan masih berada di bawah target OPEC+.

Ketegangan juga belum sepenuhnya reda. Dunia masih menunggu hasil perundingan kesepakatan damai permanen AS-Iran yang menurut rencana selesai Agustus 2026.

Iran berencana mengenakan tarif bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz setelah kesepakatan damai permanen tercapai. Pekan lalu, komando militer gabungan Iran memperingatkan semua tanker minyak yang melewati Selat Hormuz agar menggunakan rute yang disetujui Iran. Jika tidak, mereka bisa menghadapi respons keras dari Iran.

FILE - Storage tanks are seen at the North Jiddah bulk plant, an Aramco oil facility, in Jiddah, Saudi Arabia, on March 21, 2021. (AP Photo/Amr Nabil, File)
FILE--Reservoirs seen at Priobskoye oil field near Nefteyugansk, in western Siberia, April 5, 2006. (AP Photo/Misha Japaridze, File)

Analis Saxo Bank, Ole Hansen, mengatakan, saat ini sebagian minyak yang keluar dari Selat Hormuz masih berasal dari tanker atau fasilitas penyimpanan. Pasalnya, produksi sempat dihentikan selama serangan AS dan Israel ke Iran. Perlu waktu untuk memulai kembali produksi minyak.

”Dengan asumsi pengapalan terus menuju normal, Juli akan menunjukkan perbaikan dan Agustus kemungkinan menjadi bulan ketika peningkatan itu mulai berakselerasi,” kata Hansen.

Harga minyak sudah turun lebih cepat daripada penambahan produksi riil. Brent diperdagangkan di sekitar 72 dolar AS per barel pada Jumat (3/7/2026), turun dari puncak harga 120 dolar AS per barel saat perang. Harga saat ini mendekati level sebelum AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026.

(FILES) The logo of the Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) is seen at its headquarters in Vienna on June 3, 2023. OPEC+ ministers decided on July 5, 2026 to increase oil quotas by a total of 188,000 barrels per day for August, a similar increase to others agreed in recent months, the organisation announced. Ministers from Saudi Arabia, Russia, Iraq, Kuwait, Kazakhstan, Algeria, and Oman held virtual talks and "decided to implement a production adjustment of 188 thousand barrels per day," an OPEC statement said, adding that "this adjustment will be implemented in August 2026". (Photo by JOE KLAMAR / AFP)

Penurunan harga juga dipengaruhi permintaan China yang melemah, kenaikan ekspor dari produsen minyak di luar Timur Tengah, serta pelepasan cadangan minyak strategis global yang dikoordinasikan Badan Energi Internasional (IEA).

”Fokus jangka pendek akan tetap pada berapa banyak tanker yang dapat melintasi Selat Hormuz dan seberapa cepat permintaan serta impor minyak mentah China pulih,” kata Staunovo.

Perlu waktu

Meski ekspor mulai pulih, normalisasi produksi diperkirakan memerlukan waktu panjang. Lembaga data dan analisis energi S&P Global Energy memperkirakan produksi minyak Teluk belum pulih sepenuhnya setidaknya hingga kuartal I-2027.

Jika ekspor Teluk terus membaik, pasar minyak berpotensi menghadapi pasokan berlebih tahun depan. ”Untuk tahun depan, semua orang mengantisipasi surplus,” kata analis Rystad Energy, Jorge Leon.

Pada tahap awal, tambahan pasokan dapat diserap untuk mengisi kembali cadangan minyak yang digunakan selama perang. Namun, setelah itu, harga minyak bisa bertahan di level rendah, dengan catatan tak ada konflik global baru.

Commercial vessels are seen in the Strait of Hormuz off Bandar Abbas, Iran, Tuesday, June 30, 2026. (Amirhosein Khorgooi/ISNA via AP)
Infografik riset Volume Minyak Mentah dan Cairan Petroleum yang Diangkut Melalui Titik Strategis Dunia (Choke points).

Di sisi lain, keluarnya Uni Emirat Arab (UEA) membuat kemampuan OPEC+ melemah dalam mengendalikan pasokan dan harga minyak dunia. UEA keluar dari kelompok itu efektif per 1 Mei 2026 setelah gagal meminta kenaikan kuota sesuai dengan kapasitas produksinya.

UEA merupakan salah satu produsen besar di aliansi itu. Sebelum keluar, UEA menyumbang sekitar 9 persen produksi minyak mentah OPEC+. Tanpa UEA, pangsa OPEC+ dalam produksi minyak mentah dunia turun dari 46 persen menjadi 42 persen.

Irak juga meminta kenaikan kuota untuk mengganti kehilangan produksi selama perang. Namun, kebutuhan kenaikan kuota Irak dinilai belum mendesak karena produksi masih jauh dari level sebelum konflik. ”Permintaan Irak dapat menjadi bagian dari kajian kapasitas 2027, ketika basis dasar produksi akan diperiksa,” kata Hansen.

FILE - A Kuwaiti oil worker talks on his radio at Mina Abdulah Oil Refinery, 50 Km South of Kuwait City in this file photo taken April 2005. (AP Photo/Gustavo Ferrari, File)

OPEC+ dijadwalkan menilai ulang kuota produksi minyak anggota pada akhir tahun berdasarkan kemampuan produksi masing-masing. Proses itu dapat menjadi sumber gesekan baru, terutama jika harga minyak terus melemah, sementara sejumlah anggota mendesak produksi lebih tinggi.

Penambahan kuota pada Agustus 2026 akan menaikkan target produksi tujuh anggota utama OPEC+ mendekati level sebelum pembatasan produksi pada 2023. Pada Mei 2023, OPEC+ mulai memangkas produksi secara sukarela.

Setelah kenaikan terbaru, selisih target produksi dari level sebelum pembatasan tinggal sekitar 379.000 barel per hari. Jika OPEC+ kembali menaikkan kuota dalam jumlah serupa untuk September, pembatasan produksi 1,65 juta barel per hari yang dimulai pada 2023 praktis terhapus. (REUTERS/AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Irene Sarwindaningrum
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji