”Open House” Era SBY, dari Minta Nama Anak sampai Berharap Amplop (6)

Beragam kisah wong cilik tersaji selama ”open house” yang diadakan oleh Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY.

30 Mar 2025 19:30 WIB · Politik & Hukum

Oleh Nino Citra Anugrahanto, Nina Susilo, Cyprianus Anto Saptowalyono

Selama dua periode memimpin, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono menjadikan open house atau buka pintu Istana Kepresidenan, Jakarta, saat Lebaran sebagai gelaran rutin. Di ajang kepala negara bertemu rakyatnya ini, muncul beragam kisah unik, mulai dari minta nama anak, berkeluh kesah, sampai mengharap amplop dari orang nomor satu di republik ini.

Momen open house perdana sosok yang populer dengan nama SBY itu terjadi pada 14 November 2004. Kalangan elite yang terdiri dari menteri, anggota DPR dan DPD, duta besar, purnawirawan jenderal, sampai mantan pejabat diberi kesempatan pagi hingga siang hari. Sore hingga malam, giliran kalangan wong cilik beroleh kesempatan berjabat tangan langsung dengan kepala negaranya. 

Seperti yang dilaporkan Kompas (17/11/2004), semakin petang antrean warga semakin panjang. Ribuan warga terlihat antusias meskipun harus berdesak-desakan sewaktu mengantre. Keinginan mereka seakan tak surut meski baju baru yang mereka kenakan dibasahi keringat gegara panas matahari. Itu semua rela dilakoni karena rasa penasaran warga terhadap kepala negara yang rasa-rasanya begitu jauh dari jangkauan tangan mereka.

”Saya ingin bersalaman langsung dengan Pak SBY. Selama ini, saya hanya melihat di TV. Pak SBY kelihatannya baik sama rakyat,” ujar Aisyah (37), warga Manggarai, Jakarta, yang datang bersama delapan anggota keluarganya.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan keterangan pers sehubungan dengan jatuhnya nilai tukar rupaih dan saham yang terjadi belakangan ini, hari Selasa (30/8-2005) di Kantor Presiden. Kompas/Julian Sihombing (JS) 30/8/05

Di antara ribuan warga itu, ada sebagian warga yang tidak ingin sebatas berjabat tangan. Rika (21), warga Bekasi, membawa tujuan lain pada kedatangannya kali itu. Ia ingin menagih janji kepada Kristiani Herawati, istri SBY, yang menjanjikannya nama untuk anaknya yang baru lahir sepulang memberikan suara bagi SBY pada Pemilu 2004, yang diadakan 20 September 2004.

”Saya ke Istana mau minta nama buat anak. Tadi, waktu ketemu di Masjid Istiqlal, Ibu SBY janji mau ngasih nama buat anak saya yang lahir sepulang nyoblos Pak SBY, 20 September,” sebut Rika. 

Sebenarnya, kala itu, anak Rika yang masih merah itu telah diberi nama Muhammad Sakti Irawan. Namun, ia tak keberatan mengganti nama pemberiannya jika memang Ibu Negara memberikan nama baru. 

”Ibu SBY bilang nama anak saya sudah bagus. Tetapi, kalau diberi nama baru, saya akan mengganti nama anak saya,” kata Rika.

Presiden Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono dan Ny Ani Yudhoyono halal bihalal menyambut Hari Raya Idul Fitri bersama penyandang disabilitas di Istana Negara, Jakarta, Minggu 20 September 2009. Kompas/Alif Ichwan (AIC) 20-09-2009 *** Local Caption *** Halal bi Halal - Penyandang tuna netra yang berhalal bi halal dengan Presiden Susilo Bambang dan Ny Ani Yudhoyono di Istana Negara, Jakarta, Minggu (20/9). Sebelumnya warga yang ingin berhalal bi halal dengan Presiden, harus antri masuk terlebih dahulu dengan menunjukkan kartu antri. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengadakan acara "Open House" untuk menyambut hari raya Idul Fitri di Istana Negara bagi para pejabat negara, tokoh masyarakat, duta besar negara sahabat, warga DKI Jakarta dan sekitarnya. Kompas/Alif Ichwan (AIC)

Bukan cuma meminta nama anak, Dihran (74), pedagang kaki lima di Pasar Senen, mendatangi open house Presiden sekadar untuk mengucapkan selamat hari raya. Berhubung orang yang akan ditemuinya punya kuasa besar, sejatinya ia juga berniat menyampaikan keluh kesahnya. Momen itu terjadi sewaktu perayaan Lebaran pada 24 Oktober 2006.

Kepada SBY, Dihran ingin menanyakan soal operasi penertiban pedagang kaki lima yang ketika itu sedang sering diadakan pemerintah. Kesempatannya bertatap muka langsung baru datang setelah sekitar tiga jam mengantre. Namun, sayang, ia tak bisa banyak bicara. Ia mencoba memahami betapa lelahnya SBY sudah menjumpai begitu banyak orang sedari pagi dalam momen silaturahmi tahunan itu. 

”Sudah menunggu tiga jam, hanya salaman saja. Hanya ketemu SBY beberapa detik. Pas kami ngomong, dia hanya balas senyum atau bilang terima kasih,” ujar Dihran (Kompas, 26/10/2006).

Tak cuma mengulurkan tangan untuk dijabat rakyat, SBY juga menganggarkan sejumlah uang untuk dibagikan kepada sebagian warga sebagai ”bonus” Lebaran. Besaran nominalnya bermacam-macam. Jumlahnya terentang dari Rp 200.000, Rp 250.000, hingga Rp 500.000 per orang.

Biasanya, uang yang terbungkus dalam amplop itu diberikan kepada para penyandang disabilitas. Oleh karena itu, selalu saja ada sebagian warga yang mendatangi acara open house dengan harapan akan memperoleh bonus itu. Pemberiannya dilakukan sewaktu acara tersebut diadakan baik di Istana Negara maupun kediaman pribadi SBY di Cikeas.

”Itu hanya tanda kasih sebagai bentuk perhatian keluarga Pak SBY kepada mereka. Jadi, tolong, ini jangan dilihat nominalnya,” kata Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha, saat itu.

Sejumlah masyarakat luas menggunakan kesempatan untuk dapat bersilaturahmi dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ny Ani Yudhoyono beserta menantu Annisa Pohan dan putra bungsu Edhie Baskoro di Istana Negara, Jakarta, Sabtu (13/10/2007). Sebelumnya Presiden juga menerima ucapan selamat hari raya Idul Fitri dari  Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Kabinet Indonesia Bersatu dan pejabat.Kompas/Alif Ichwan

Sayangnya, niatan apik SBY tak selalu berujung baik. Sekali waktu, gelaran open house itu justru berujung petaka saat Lebaran pada 10 September 2010. Kejadian tragis itu menimpa seorang tunanetra bernama Joni Malela. Ia mengembuskan napas terakhirnya setelah ikut mengantre dan berdesakan untuk halalbihalal dengan SBY di Istana Negara.

Kebetulan Lebaran tahun itu jatuh pada hari Jumat. Hari itu, Joni mendatangi Istana Negara, bersama istrinya, Euis, dengan harapan akan memperoleh uang saku dari sang kepala negara seperti setahun sebelumnya.

Sepasang suami istri itu tiba di Istana Negara sejak pukul 09.30 WIB. Ternyata, hingga pukul 15.00 WIB, keduanya masih berdiri berdesakan dalam terik, lapar, dan dahaga bersama ratusan tunanetra lainnya. Keadaan itu mengakibatkan Joni dan sejumlah warga lainnya terjatuh.

Ribuan oramg membentuk anrtean panjang di halaman gedung Sekretariar Negara untuk masuk ke Istana Negara untuk bersalaman dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada acara open house, Kamis (3/11/2005).

Berdiri tak jauh dari pintu gerbang, Joni awalnya ingin mundur ke barisan belakang, tetapi ia malah terjatuh. Tak hanya itu, ia terdorong ke sana kemari sebelum diselamatkan petugas. Sebenarnya, Joni sempat dibantu dengan tabung oksigen. Namun, jiwanya tak tertolong. 

”Jujur saja, harapan kami ke Istana karena kepengen dapet Rp 250.000 seperti tahun lalu,” kata Larima, rekan Joni sesama pemijat tunanetra (Kompas, 13/9/2010).


Kerabat Kerja

Penulis:

Nino Citra Anugrahanto, Nina Susilo, Cyprianus Anto Saptowalyono
 | 

Editor:

A. Ponco Anggoro