Pencarian korban tanah longsor di Majenang, Cilacap, dihentikan meski masih ada dua korban yang belum ditemukan. Di Banjarnegara, operasi diperpanjang tiga hari.
23 Nov 2025 21:39 WIB · Nasional
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
SEMARANG, KOMPAS — Operasi pencarian korban bencana tanah longsor di Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah diakhiri pada Sabtu (22/11/2025) meski masih ada dua korban yang belum ditemukan. Adapun masa operasi pencarian korban di Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, yang semestinya berakhir pada Sabtu diperpanjang tiga hari karena masih ada belasan orang yang belum ditemukan.
Bencana tanah longsor melanda wilayah Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, pada Kamis (13/11/2025) malam. Dalam peristiwa itu, sebanyak 23 orang tertimbun material longsoran.
Sejak hari pertama kejadian, operasi pencarian telah dilakukan. Ratusan orang dari berbagai instansi turut dalam pencarian korban. Sejumlah alat berat juga dikerahkan untuk memudahkan proses pencarian.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/20/99979d7e1ff32a8f49dd3e8ff07c31d7-WhatsApp_Image_2025_11_20_at_17.28.41_2.jpeg)
Hingga Sabtu (22/11/2025) atau hari ke-10 operasi pencarian, petugas gabungan berhasil mengevakuasi 21 jasad dari lokasi longsor. Dua korban lain belum ditemukan, yakni atas nama Maysarah Salsabila (14) dan Vani Hayati (12).
Meski masih ada dua orang yang belum ditemukan, pencarian yang sempat diperpanjang selama tiga hari itu dihentikan pada Sabtu. Menurut M Abdullah, SAR Mission Coordinator (SMC) Kantor SAR Cilacap, keputusan itu diambil setelah melalui koordinasi dan evaluasi mendalam dengan pihak keluarga korban dan pemerintah daerah.
"Meskipun kami sangat berharap dapat menemukan semua korban, tetapi sesuai prosedur dan mempertimbangkan batas waktu efektif pencarian, kami harus mengambil keputusan berat ini," kata Abdullah dalam keterangannya, Minggu (23/11/2025).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/23/3702ec0190e132d3392ef39d44e8b6f2-WhatsApp_Image_2025_11_23_at_21.02.54.jpeg)
Abdullah menyebut, secara spesifik, jangka waktu standar operasi pencarian korban dan penghentiannya diatur lebih lanjut, salah satunya dalam Peraturan Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas). Merujuk pada peraturan itu, operasi pencarian diselenggarakan paling lama tujuh hari. Namun, operasi dapat diperpanjang apabila ditemukan tanda-tanda atau petunjuk kuat adanya korban atau atas pertimbangan tim di lapangan.
"Tim SAR gabungan menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga korban yang belum ditemukan dan berterima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dalam operasi ini. Dengan ditutupnya operasi pencarian, seluruh unsur SAR dikembalikan ke kesatuan masing-masing," ujarnya.
Sebelum mengakhiri operasi pencarian, pemerintah daerah bersama keluarga korban melakukan tabur bunga. Kegiatan itu dilakukan pada pagi dan sore hari di dua sektor wilayah pencarian, yaitu work site A1 dan work site B1.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/20/9f25b44754721dac56409c83ddc9d0a3-WhatsApp_Image_2025_11_20_at_17.28.41.jpeg)
Bupati Cilacap, Syamsul Auliya Rachman mengatakan, pemerintah daerah beralih fokus pada penanganan pascabencana, terutama pembangunan hunian sementara. Lahan seluas 3,9 hektar telah disiapkan untuk sekitar 240 unit hunian sementara yang dirancang sebagai rumah yang dapat dikembangkan menjadi hunian tetap.
"Target kami bulan ini sudah mulai dibangun, minimal 50 unit terlebih dahulu. Setiap unit hunian sementara diperkirakan dapat diselesaikan dalam waktu sekitar satu minggu," ujar Syamsul.
Syamsul menambahkan, lokasi yang dipilih untuk membangun hunian sementara maupun hunian tetap itu bakal diteliti oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Setelah lokasinya dipastikan aman dan sesuai, pihaknya mengajukan permohonan pembangunan hunian tetap kepada Kementerian Keuangan melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/16/b274860f2ccde3badb856668a4aa70ed-20251116_DMS_Longsor_Desa_Cibeunying_mumed.png)
Sementara itu, di operasi pencarian korban bencana tanah longsor di Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, yang memasuki hari ketujuh pada Sabtu diputuskan untuk diperpanjang hingga tiga hari. Pada operasi pencarian korban hari kedelapan, Minggu (23/11/2025), tim berfokus pada tiga wilayah pencarian yang telah ditentukan, yakni sektor A,B, dan C.
"Untuk hari ini kami lebih fokus kepada titik-titik yang dicurigai sebagai lokasi keberadaan korban, berdasarkan hasil asesmen baik melalui informasi dari keluarga maupun dari petunjuk anjing pelacak," kata Kepala Kantor Basarnas Semarang Budiono, Minggu (23/11/2025).
Budiono mengatakan, ratusan personel gabungan turut dalam operasi pencarian. Hingga Minggu (23/11/2025), sebanyak 12 orang dievakuasi dalam kondisi meninggal dunia. Selain itu, tim juga mengevakuasi tiga bagian tubuh yang kini masih dalam proses identifikasi. Adapun 16 orang masih dalam pencarian.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/19/707a2b813aa9f72c41884f012302a0ad-20251119DRA064.JPG)
Pada Minggu, sebanyak 23 unit alat berat dikerahkan untuk mencari korban. Operasi pencarian, disebut Budiono, terkendala oleh ketidakpastian cuaca. Medan longsor juga cukup luas dan tanahnya masih labil.
"Seperti sebelumnya, pagi sebelum tim gabungan bergerak, kami telah mengirim tim aju dahulu, yakni tim K9 (anjing pelacak) dan drone untuk melakukan asesmen, memastikan keadaan aman untuk tim SAR gabungan bekerja dan agar pendeteksian K9 berjalan maksimal," ujarnya.
Hingga Minggu malam, upaya pencarian korban belum membuahkan hasil. Tak ada satu pun korban yang berhasil ditemukan sepanjang hari. Operasi pencarian pun dilanjutkan pada Senin (24/11/2025).
Penulis:
Kristi Dwi UtamiEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase