Dari kerangka teori interaksi strategis, terdapat tiga opsi militer yang dapat dipertimbangkan ISF.
23 Feb 2026 14:00 WIB · Artikel Opini
Kompas/Supriyanto
Di bawah permukaan Jalur Gaza yang luasnya hanya 365 kilometer persegi—lebih kecil dari Kota Surabaya—terbentang labirin bawah tanah sepanjang 350-500 kilometer.
Jaringan terowongan ini, dengan kepadatan mencapai 1,37 kilometer terowongan per kilometer persegi wilayah permukaan, melampaui densitas sistem kereta bawah tanah kota-kota besar dunia. Dibangun selama 10-20 tahun dengan biaya estimasi 30 juta-90 juta dolar AS. Panjang totalnya setara jarak Jakarta ke Semarang, tetapi seluruhnya terpendam pada kedalaman 10-40 meter di bawah salah satu wilayah terpadat di muka bumi.
Terowongan Gaza bukan infrastruktur tunggal yang homogen. Jaringan ini terbagi dalam empat kategori dengan fungsi berbeda. Pertama, terowongan penyelundupan lintas batas di perbatasan Mesir-Gaza yang pernah berjumlah lebih dari 1.000 unit. Kedua, terowongan tempur di sepanjang perbatasan Israel yang dibangun dari beton bertulang pada kedalaman 20-40 meter, dilengkapi rel kereta, listrik, dan sistem komunikasi—dan digunakan dalam serangan 7 Oktober 2023.
Ketiga, terowongan strategis dan komando yang merupakan jaringan paling canggih, mencakup pusat komando, depot senjata, bungker kepemimpinan, hingga lorong yang dapat dilalui kendaraan. Keempat, terowongan sipil yang semula dibangun untuk mengatasi blokade, tetapi sebagian telah dikonversi untuk kepentingan militer. Titik masuk dan keluarnya terintegrasi ke dalam rumah tinggal, masjid, sekolah, dan rumah sakit—sebuah penyamaran yang menjadikan operasi netralisasi sangat rumit secara hukum dan kemanusiaan.
Jaringan terowongan ini merupakan manifestasi fisik dari logika perang asimetris yang membalikkan seluruh asumsi perang konvensional. Dalam perang simetris, kekuatan militer superior mencapai kemenangan definitif melalui penghancuran kapasitas tempur lawan. Perang asimetris membalikkan logika ini: pihak lemah tidak perlu menang, mereka hanya perlu bertahan. Henry Kissinger merumuskan paradoks ini—gerilyawan menang jika mereka tidak kalah, pasukan konvensional kalah jika mereka tidak menang. Hamas mewujudkan prinsip ini. Bahkan setelah operasi militer yang menghancurkan 85 persen bangunan Gaza, logika organisasional dan basis rekrutmen tetap utuh karena akar konflik bersifat politik—pendudukan, ketiadaan negara, blokade—bukan militer.
Tiga dinamika struktural menjadikan pendekatan militer konvensional bersifat kontraproduktif di Gaza. Pertama, problem regenerasi: kehancuran infrastruktur dan korban sipil justru memicu rekrutmen ke organisasi militan. Kedua, asimetri biaya: terowongan dibangun dengan biaya puluhan juta dolar AS, sementara netralisasinya melalui pengerahan International Stabilization Force (ISF) berkekuatan 32.000 personel dan rekonstruksi senilai lebih dari 30 miliar dolar AS memakan biaya ratusan kali lipat. Ketiga, teorema ketidaklengkapan: kepastian absolut bahwa seluruh terowongan telah dinetralisasi tidak dapat dicapai. Bahkan jika 5 persen jaringan saja lolos dari deteksi, remiliterisasi tetap mungkin.
Namun, pernyataan bahwa tidak ada solusi militer dalam perang asimetris adalah simplifikasi yang berbahaya. Ivan Arreguín-Toft dalam karyanya, How the Weak Win Wars (2005), menunjukkan bahwa interaksi strategis antara aktor kuat dan lemah menentukan hasil perang. Ketika kedua pihak menggunakan pendekatan sejenis, aktor kuat menang. Ketika terjadi ketidakcocokan strategi, yakni konvensional melawan gerilya, aktor lemah menang. Implikasi bagi ISF sangat jelas: pasukan multinasional ini harus menghindari jebakan merespons perang gerilya bawah tanah dengan operasi konvensional semata, dan sebaliknya mengadopsi strategi yang memaksa pertarungan ke medan di mana keunggulan ISF berlaku penuh.
Dari kerangka teori interaksi strategis ini, terdapat tiga opsi militer yang dapat dipertimbangkan ISF. Opsi pertama adalah population-centric counterinsurgency, sebagaimana dikodifikasi dalam manual FM 3-24 Angkatan Darat AS dan dipraktikkan selama operasi Surge di Irak pada 2007. Doktrin ini menjadikan populasi—bukan musuh—sebagai pusat gravitasi operasi, memisahkan insurgen dari rakyat melalui perlindungan warga sipil, penyediaan layanan dasar, dan pembangunan legitimasi pemerintahan lokal. Dalam konteks Gaza, ISF menyebar ke seluruh lima sektor, membangun keamanan zona per zona, dan secara gradual mengeringkan dukungan sosial bagi militan.
Kekuatan pendekatan ini terletak pada kemampuannya memecahkan problem ketergantungan intelijen: ketika populasi merasa aman dan memiliki kepentingan ekonomi dalam perdamaian, aliran informasi tentang lokasi terowongan mengalir secara organik. Kelemahannya adalah waktu—counterinsurgency membutuhkan kesabaran bertahun-tahun yang mungkin melampaui toleransi politik negara-negara kontributor.
Opsi kedua adalah enemy-centric network dismantlement. Alih-alih mencoba memenangkan hati seluruh populasi, pendekatan ini fokus pada pembongkaran struktur komando, logistik, dan finansial organisasi militan melalui operasi intelijen presisi tinggi—sebagaimana Phoenix Program di Vietnam dan operasi pasukan khusus gabungan di Irak pasca-2005.
Dalam konteks Gaza, ISF menggunakan intelijen dari kombatan yang ditangkap, insinyur Palestina yang kooperatif, dan sensor teknis untuk memetakan bukan hanya terowongan fisik, tetapi jaringan organisasi di baliknya. Operasi ini, dikombinasikan dengan program reintegrasi kombatan Dewan Perdamaian, secara sistematis menghilangkan kapasitas organisasional untuk remiliterisasi. Kelebihannya adalah efisiensi sumber daya dan kecepatan efek. Kelemahannya adalah risiko hydra effect—memotong satu kepala dan dua tumbuh menggantikan—jika jaringan rekrutmen yang berbasis keluhan politik tetap utuh.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/21/5da56d909ca14e8111bb6a10da982b32-20250821_Opini_Pendudukan_Penuh_Israel_atas_Gaza.jpg)
Opsi ketiga adalah forced conventional engagement—memaksa lawan ke pertempuran terbuka. Berdasarkan logika Arreguín-Toft bahwa kecocokan pendekatan strategis menguntungkan aktor kuat, ISF dapat mendesain operasi yang memaksa elemen militan keluar dari terowongan ke permukaan melalui pengepungan sistematis dan pemutusan jalur suplai bawah tanah. Pendekatan ini yang dilakukan Amerika Serikat di Afghanistan pada 2001 hingga 2002 ketika Taliban dipaksa bertempur secara konvensional dan dikalahkan dalam hitungan bulan. Namun, opsi ini menghadapi keterbatasan fundamental di Gaza: Hamas membangun terowongan justru untuk menghindari jenis pertempuran semacam ini, dan lingkungan urban yang hancur menyediakan puing-puing sebagai alternatif persembunyian di permukaan.
Strategi optimal untuk ISF di Gaza bukanlah salah satu dari tiga opsi di atas secara terpisah, melainkan kombinasi simultan ketiganya dalam kerangka operasional tiga fase. Fase pertama selama bulan pertama hingga keenam didominasi opsi kedua: pengumpulan intelijen dan pembongkaran jaringan secara presisi. Fase kedua dari bulan ketujuh hingga kedelapan belas menggeser titik berat ke opsi pertama: operasi pengamanan berbasis populasi di sektor-sektor yang telah dibersihkan, membangun layanan dasar dan insentif ekonomi yang menjadikan populasi sebagai mitra intelijen organik. Di sinilah program mikro-kredit, pelatihan vokasional, dan platform ekonomi digital Dewan Perdamaian berfungsi sebagai senjata kontra insurgensi. Fase ketiga dari bulan kesembilan belas dan selanjutnya mentransisikan tanggung jawab keamanan kepada otoritas Palestina yang telah terlatih.
Bagi Indonesia, arsitektur militer ini memiliki implikasi yang melampaui sekadar kontribusi pasukan. Posisi Wakil Komandan ISF memberikan otoritas untuk mengoordinasikan ketiga opsi militer secara lintas sektor—sebuah fungsi esensial mengingat jaringan terowongan tidak mengenal batas administratif. Indonesia sebagai negara Muslim terbesar dan demokratis memiliki legitimasi kultural unik untuk menjalankan operasi counterinsurgency berbasis populasi di Gaza yang tidak dimiliki aktor Barat mana pun.
Clausewitz mengajarkan bahwa perang adalah kelanjutan politik dengan cara lain. Dalam perang asimetris, kebenaran ini berlaku lebih tajam. Setiap opsi militer hanya menciptakan kondisi bagi penyelesaian politik, tidak menggantikannya. ISF yang menghancurkan terowongan tanpa membangun legitimasi politik hanya menunda konflik berikutnya. Namun, ISF yang membangun legitimasi tanpa menetralisasi terowongan meninggalkan infrastruktur untuk remiliterisasi cepat. Kombinasi kontra insurgensi berbasis populasi, pembongkaran jejaring kerja musuh, dan tekanan konvensional yang dijalankan secara bertahap oleh ISF merupakan formula militer terbaik yang tersedia.
Andi Widjajanto, Penasihat Senior Laboratorium Indonesia 2045
Penulis:
Andi WidjajantoEditor:
Yohanes Krisnawan, Johanes Waskita UtamaPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan