Rencana pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping mau mundur. Trump paling sering mengancam membatalkan.
27 Okt 2025 11:15 WIB · Internasional
AP Photo/Andrew Harnik
KUALA LUMPUR, SENIN — Pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping semakin dekat. Kedua kepala negara akan mencapai kesepakatan perdagangan awal antara kedua negara. Sebaliknya, soal pertemuan Trump dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un belum ada kepastian.
Trump dan Xi akan bertemu di sela-sela perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) 2025. KTT digelar di Gyeongju, Korea Selatan, pada 30 Oktober 2025.
Pejabat AS-China berusaha keras agar pertemuan itu berjalan lancar. ”Tujuan pertemuan antara saya dan wakil perdana menteri China selama dua hari terakhir adalah untuk memastikan pertemuan yang sukses. Berdasarkan kerangka kerja substansial dari dua hari terakhir ini, saya pikir ini bisa menjadi pertemuan yang fantastis,” kata Menteri Keuangan AS Scott Bessent kepada ABC News, Minggu (26/10/2025), di Kuala Lumpur, Malaysia.
Bessent dan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer bertemu Wakil Perdana Menteri China He Lifeng bersama negosiator perdagangan, Li Chenggang. Pertemuan tersebut menjadi pertemuan tatap muka putaran kelima mereka sejak Mei.
Bessent mengantisipasi gencatan perang tarif AS-China bakal diperpanjang setelah 10 November 2025. Selain itu, AS juga batal memberlakukan tarif baru 100 persen pada November 2025.
Beijing juga akan menunda pembatasan ekspor logam tanah jarang (LTJ) selama setahun. China pun akan kembali membeli kedelai AS dalam jumlah besar.
”Para petani kedelai AS akan merasa sangat senang dengan apa yang terjadi baik untuk musim ini maupun musim-musim mendatang selama beberapa tahun setelah ketentuan kesepakatan diumumkan,” ujar Bessent.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/12/7708015b-7ef4-4adf-a957-5cd4890963fa_jpg.jpg)
Dalam program Fox News Monday, Greer menyampaikan, AS-China setuju untuk menghentikan beberapa kebijakan yang menghukum. ”Kedua pihak sepakat agar menemukan jalan ke depan di mana kami dapat memiliki lebih banyak akses ke logam tanah jarang dari China, dan dapat mencoba menyeimbangkan defisit perdagangan kami dengan penjualan dari AS,” ucapnya.
Di samping isu-isu tersebut, pejabat AS dan China juga membahas topik ekspansi perdagangan. Ada pula pembahasan isu penyelundupan fentanil ke AS serta biaya pelabuhan AS. Kedua pihak juga berbicara soal pengalihan kendali kepemilikan TikTok ke AS.
Pejabat China bersikap lebih hati-hati soal perincian. Chenggang mengatakan, kedua pihak telah mencapai ”konsensus awal”. Selanjutnya, konsensus itu akan melalui proses persetujuan internal masing-masing.
”Posisi AS selama ini tegas, sementara China selama ini teguh dalam membela kepentingan dan hak-haknya. Kami telah menjalani konsultasi yang sangat intensif dan terlibat dalam pertukaran yang konstruktif dalam mengeksplorasi solusi serta pengaturan untuk mengatasi masalah-masalah ini,” kata Li.
Gedung Putih telah resmi mengumumkan rencana pertemuan Trump dan Xi. Namun, China belum kunjung mengonfirmasi bahwa kedua pemimpin bakal bertemu.
Kunjungan Trump ke Korea Selatan merupakan bagian dari lawatannya ke Asia selama lima hari. Sebelum itu, dia mengunjungi Malaysia dan Jepang. Saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi KTT Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) di Malaysia, Trump memberikan nada positif.
”Kami sudah sepakat untuk bertemu. Kami akan bertemu mereka nanti di China dan Amerika Serikat, entah di Washington atau Mar-a-Lago (Florida),” kata Trump.
Trump juga menandatangani kerangka kerja ekonomi dengan Kamboja, Thailand, dan Malaysia. Kerja sama itu mencakup peningkatan perdagangan mineral penting. AS mulai ingin mengurangi ketergantungan kepada China.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/26/a2b250b3-0a33-401f-9ea2-299a6482d1b6_jpg.jpg)
China mengendalikan lebih dari 90 persen pasokan dunia untuk logam tanah jarang. LTJ sangat penting untuk industri berteknologi tinggi, mulai dari kendaraan listrik, semikonduktor, hingga rudal.
Selama ini, Trump kurang menjalin hubungan dengan negara-negara Asia Tenggara, kecuali Filipina. ASEAN merupakan kawasan yang memiliki ekonomi gabungan senilai 3,8 triliun dollar AS dengan 680 juta jiwa penduduk.
”Amerika Serikat 100 persen bersama Anda, dan kami bermaksud menjadi mitra dan sahabat yang kuat bagi banyak generasi mendatang,” ujar Trump sambil menggambarkan rekan-rekannya sebagai ”pemimpin yang spektakuler”.
Trump juga menambah spekulasi mungkin bertemu Kim Jong Un selama di Korsel. ”Saya terbuka untuk itu. Saya memiliki hubungan yang baik dengannya,” tuturnya.
Menteri Reunifikasi Korea Selatan Chung Dong-young juga mengatakan, ada kemungkinan besar bahwa Trump dan Kim akan bertemu. Namun, seorang pejabat senior Gedung Putih, kepada The New York Times, mengatakan, saat ini tidak ada rencana bagi kedua pemimpin untuk bertemu.
Trump dan Kim telah bertemu tiga kali. Pertemuan terakhir mereka terjadi pada tahun 2019 di Zona Demiliterisasi (DMZ), wilayah perbatasan yang memisahkan kedua Korea.
Bulan lalu, Kim mengatakan, pihaknya akan terbuka untuk bertemu. Syaratnya, Washington membatalkan tuntutan agar Pyongyang menyerahkan persenjataan nuklirnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, Kim telah memperluas persenjataan nuklir Korut serta mempererat hubungan dengan Rusia dan China. Dibandingkan pada 2019, Kim kini berpengaruh lebih besar.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/02/28/74205b5f-76b9-4416-b55f-3e1edf0ed643_jpg.jpg)
Ketika ditanya tentang tuntutan Kim, Trump menjawab, ”Saya pikir mereka semacam kekuatan nuklir. Mereka punya banyak senjata nuklir, begitulah yang saya katakan.”
Korea Herald melaporkan, Korut telah mengisyaratkan niat untuk lebih memprioritaskan hubungan dengan Rusia. Menteri Luar Negeri Korut Choe Son-hui berkunjung ke Rusia dan Belarus selama 26-28 Oktober 2025. Kunjungan ini tampaknya merupakan upaya untuk meredam ekspektasi yang meningkat.
”Fakta bahwa Korea Utara merilis berita perjalanan Choe ke Rusia sekaligus menegaskan kembali ’aliansi darah’ dengan Rusia menjadi pesan yang jelas kepada AS, yang menyiratkan penolakan kemungkinan pertemuan dengan Trump,” ujar Lim Eul-chul, profesor di Institute for Far Eastern Studies, Universitas Kyungnam.
Lim menjelaskan, Choe selama ini bertugas mengawasi diplomasi Korut terhadap AS. ”Jika Pyongyang mempertimbangkan kemungkinan akan pertemuan mendadak, masuk akal untuk berasumsi bahwa Choe dan semua pejabat tingkat kerja lainnya berada dalam siaga darurat,” tutupnya. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto