Orangutan Tapanuli Ditemukan Mati Tertimbun Gelondongan Kayu

Orangutan tapanuli ditemukan mati akibat banjir bandang di Sungai Garoga, Tapanuli Tengah. Satwa itu berjumlah kurang dari 800 ekor dan berstatus terancam punah.

13 Des 2025 11:37 WIB · Lingkungan

NIKSON SINAGA

Oleh Pandu Wiyoga, Margaretha Puteri Rosalina

BATANG TORU, KOMPAS — Tim pencari dan penyelamat atau SAR gabungan menemukan bangkai seekor orangutan tapanuli ketika menyisir Sungai Garoga di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada 3 Desember 2025. Aparat penegak hukum sedang melacak pelaku yang menggunduli hutan di sekitar Daerah Aliran Sungai Garoga.

Salah seorang sukarelawan dalam tim SAR gabungan yang menemukan bangkai orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) itu adalah Decky Chandrawan (37) dari Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Tapanuli Selatan. Ia mengatakan awalnya mendapat laporan dari warga yang menduga ada temuan jenazah manusia di hilir Sungai Garoga, Desa Pulau Pakkat, Kecamatan Sukabangun, Tapanuli Tengah.

”Setelah kami sampai lokasi, yang keliatan (telapak) tangan saja, menyembul dari tumpukan gelondongan kayu yang terbawa banjir bandang. Wajar kalau awalnya warga mengira itu jasad manusia,” kata Decky saat ditemui, Jumat (12/12/2025) malam.

Tim SAR Gabungan menggunakan potongan kayu yang terbawa banjir bandang untuk membuat jembatan darurat di Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Rabu (10/12/2025). Bencana mengakibatkan 47 orang tewas dan 22 hilang di desa itu.

Tim SAR gabungan lalu mengangkat tumpukan kayu dan melihat bangkai orangutan tapanuli itu sudah mulai membusuk. Menurut Decky, di punggung hewan itu masih tersisa bulu warna oranye yang membuat tim SAR amat yakin itu adalah satwa langka orangutan tapanuli yang kini jumlahnya kurang dari 800 ekor dan berstatus terancam punah (critically endangered).

”Saya menduga, bukan satu (orangutan) ini saja korbannya. Pasti lebih dari satu karena di hulu itu hutannya masih lebat dan memang itu habitatnya orangutan,” ujarnya.

Setelah tim SAR gabungan yakin itu bukan jenazah manusia, mereka langsung meninggalkan lokasi tersebut untuk melanjutkan pencarian korban. Mereka harus segera beranjak karena ada informasi temuan lain diduga jenazah manusia tak jauh dari lokasi ditemukannya bangkai orangutan tersebut.

Tim SAR gabungan menemukan bangkai orangutan tapanuli (”Pongo tapanuliensis”) di hilir Sungai Garoga di Desa Pulau Pakkat, Kecamatan Sukabangun, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada 3 Desember 2025.

”Temuan bangkai orangutan ini sempat kami rahasiakan dari publik agar semua pihak fokus lebih dulu ke pencarian (manusia) yang menjadi korban jiwa akibat banjir bandang,” ucap Decky.

Banjir bandang akibat meluapnya Sungai Garoga menyebabkan 47 orang tewas di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan. Sukarelawan seperti Decky dan Badan SAR Nasional hingga saat ini masih berupaya menyisir Sungai Garoga ke arah hilir untuk mencari 27 korban lain yang belum ditemukan.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumut Rianda Purba, Senin (8/12/2025), mengatakan, wilayah ekosistem Hutan Batang Toru terdiri dari blok barat dan timur. Blok barat merupakan habitat orangutan tapanuli dan harimau sumatera serta merupakan wilayah hulu sejumlah sungai yang meluap dan mengakibatkan banjir bandang.

”Namun, blok barat ekosistem Batang Toru justru paling banyak diintervensi. Sekitar 60.000 hektar hutan di sana berkurang karena tambang emas, perkebunan sawit, pembangkit listrik tenaga air, dan kebun eukaliptus (tumbuhan untuk bahan baku membuat kertas),” kata Rianda.

Alat berat memindahkan kayu yang menyumbat aliran Sungai Garoga di Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Kamis (11/12/2025).

Hutan menghilang

Pada 10 Desember lalu, Kepala Subdirektorat Perencanaan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Direktorat Perencanaan dan Pengawasan Pengelolaan DAS Kemenhut Catur Basuki Setyawan mengatakan, ada 92 lokasi banjir dari 13 DAS di 11 kabupaten/kota di Sumut. Dibandingkan tahun 2019, tutupan lahan di 13 DAS di Sumut itu berkurang 9.424 hektar.

Menurut Catur, lahan kritis atau lahan tanpa tutupan hutan di DAS Garoga memiliki luas 7.921 hektar atau 17,8 persen dari total luas DAS 44.610 hektar. Tak jauh dari Sungai Garoga, ada pula DAS Batang Toru dengan lahan kritis yang kini telah mencapai 10,2 persen dari luas total atau 35.092 hektar.

Ia menyebut, DAS Garoga termasuk sungai pendek karena panjangnya dari hulu sampai ke laut hanya 58 kilometer. Selain itu, DAS Garoga juga terletak di sekitar lereng-lereng bukit yang amat curam.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri Brigadir Jenderal (Pol) Mohammad Irhamni di Batang Toru mengatakan, tumpukan gelondongan kayu menutup dua jembatan di kedua aliran Sungai Garoga sehingga air meluap ke Desa Garoga dan sekitarnya.

Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Mohammad Irhamni saat memberikan keterangan pers terkait penyebab banjir bandang di Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Rabu (10/12/2025). Bencana mengakibatkan 47 orang tewas dan 22 hilang di desa itu.

”Dampaknya sangat fatal, banjir menyapu seluruh perumahan yang diapit kedua sungai serta permukiman di kiri dan kanan sungai,” kata Irhamni.

Berdasarkan citra satelit, ada 110 lokasi pembukaan lahan di DAS Garoga. Tim telah mendatangi empat lokasi dan menemukan pembukaan lahan seluas 6-30 hektar. Empat lokasi itu berada di lereng bukit yang amat curam sehingga ketika hujan lebat material lumpur dan kayu langsung terbawa aliran air ke badan sungai.

”Di kilometer 8, kami menemukan alat berat, dua ekskavator dan satu buldoser. Kami sudah menemukan dua alat bukti adanya pidana. Maka, ini akan kami formalkan menjadi penyidikan untuk mencari siapa pelaku yang harus bertanggung jawab,” tuturnya.

Ia menyebut, pembukaan lahan di empat lokasi di DAS Garoga dilakukan perusahaan sawit PT TBS. Ia menegaskan, aparat tidak akan berhenti untuk mengusut 106 lokasi penggundulan lahan yang lain sesuai pantauan lewat citra satelit.

Kondisi bangunan SD Negeri Garoga di Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Selasa (9/12/2025). Bangunan sekolah itu hancur diterjang banjir bandang pada 25 November lalu.

Kepala Tim Humas Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam (BBKSDA) Sumut Rezki Indah Siregar membenarkan ada temuan bangkai orangutan tapanuli di Desa Pulau Pakkat. Ia menyebut, tim sudah mengevaluasi tulang belulang dan rambut orangutan itu pada 11 Desember.

Manajer Area Sumatera Centre for Orangutan Protection (COP) Ramadhani mengatakan, habitat orangutan tapanuli di ekosistem Batang Toru kini terkotak-kotak. Perkebunan, tambang emas, dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) mempersempit wilayah jelajah orangutan tapanuli.

"Orangutan tidak bisa mengubah rute jelajah, Misalnya dia tahu di bibir sungai banyak makanan, maka dia akan ke situ terus. Maka, akan menjadi masalah jika ternyata lokasi itu sudah diubah lanskapnya oleh perusahaan," kata Ramadhani.

Campaign Manager Satya Bumi Sayyidatiihayaa Afra menilai, temuan bangkai orangutan tapanuli itu mengindikasikan kerusakan tutupan hutan di Batang Toru sudah mencapai wilayah tutupan primer. Oleh karena itu, ia mendesak agar pemerintah segera menghentikan aktivitas perusahaan-perusahaan yang di kawasan hulu sungai yang bermuara di ekosistem Batang Toru.

Sahrul Nasution (60) memungut sisa-sisa logam dari rumah kakaknya yang hancur diterjang banjir bandang di Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Kamis (11/12/2025).

Satya Bumi menemukan pembukaan hutan tidak hanya terjadi di DAS Garoga oleh PT TBS seperti yang diungkap Polri dan Kemenhut. Satya Bumi juga menemukan pembukaan hutan di sekitar DAS Batang Toru. Berdasarkan citra satelit, terlihat tumpukan gelondongan kayu di Sungai Batang Toru sebelum bencana banjir bandang.

Pantauan Kompas, daerah paling parah terdampak banjir bandang akibat luapan Sungai Batang Toru ada di Desa Muara Huta Raja, Kecamatan Muara Batang Toru. Seluruh warga desa, sebanyak 485 keluarga atau 1.680 jiwa, harus mengungsi akibat bencana.


Kerabat Kerja

Penulis:

Pandu Wiyoga, Margaretha Puteri Rosalina
 | 

Editor:

Rini Kustiasih
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti