Otoritas Bursa Antisipasi Kaburnya Dana Asing Pascapelantikan Trump

Aksi investor yang keluar dari pasar saham untuk beralih ke aset investasi lain diproyeksikan akan meningkat pascapelantikan Presiden AS terpilih, Donald Trump.

20 Jan 2025 20:33 WIB · Ekonomi

Oleh Dimas Waraditya Nugraha

JAKARTA, KOMPAS - Bursa Efek Indonesia telah mengantisipasi tren keluarnya dana asing dari pasar saham dalam negeri yang berpotensi terjadi setidaknya hingga triwulan II-2025. Tren keluarnya dana asing didorong oleh sentimen resminya Donald Trump menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat.

Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan dilantik sebagai Presiden ke-47 AS dalam upacara di ruangan Rotunda atau aula bundar di bawah kubah gedung Kongres, Senin waktu setempat.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota BEI, Irvan Susandy, mengantisipasi aksi investor keluar dari pasar saham dan beralih ke aset lain selama periode pelantikan Trump. Tren tersebut dinilainya wajar sebagai upaya investor melakukan diversifikasi aset.

Quote

BEI mencatat sejak pembukaan perdagangan awal tahun hingga penutupan perdagangan Senin, akumulasi dana investor asing yang keluar dari pasar modal sudah mencapai Rp 2,96 triliun.

“Diversifikasi portofolio itu wajar, tapi kita harus tetap optimistis. Pasar modal Indonesia masih punya potensi besar untuk terus berkembang,” ujarnya kepada awak media saat ditemui di gedung BEI, Jakarta, Senin (20/1/25).

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin ditutup menguat 0,22 persen dari perdagangan Jumat akhir pekan lalu, ke level 7.170,73. Kendati pasar modal tengah dalam tren penguatan, BEI mencatat sejak awal tahun hingga penutupan perdagangan Senin, dana asing yang keluar dari pasar modal mencapai Rp 2,96 triliun.

Terkait aliran keluar dana asing dari pasar saham, Irvan memproyeksi tren itu masih akan terjadi setidaknya hingga triwulan II-2025. Hal ini dikarenakan pasar masih menanti kebijakan dari pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Trump. Untungnya dari dalam negeri, terdapat sentimen positif dari kebijakan pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).

BI mencatat aliran modal asing sebesar Rp 9,57 triliun keluar dari pasar keuangan lokal sepanjang pekan ketiga Januari 2025. Berdasarkan data transaksi periode 13-16 Januari 2025 yang dihimpun BI, aliran modal asing keluar dari Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Sementara itu pada periode sama, aliran modal asing tercatat masuk ke pasar keuangan dari pasar saham.

Terlalu dini

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar mengatakan, pelantikan Trump tidak akan berpengaruh besar terhadap ekonomi Indonesia. “Perekonomian secara domestik masih kuat. Kita perkuat fokus untuk bisa menggerakan perekonomian di dalam negeri,” ujarnya.

Menurut dia, masih terlalu cepat untuk memperkirakan dampak ekonomi secara internasional usai pelantikan Trump. Hal yang diharapkan terjadi adalah para pimpinan negara besar dan berpengaruh di dunia, termasuk Trump, memiliki orientasi pada kesejahteraan penduduk dunia secara menyeluruh.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar dalam peluncuran perdagangan bursa karbon internasional di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (20/1/2025).

Hal tersebut diperlukan karena tantangan perekonomian domestik dan global masih berlangsung. Termasuk, dari sisi peningkatan kerja sama perdagangan dan investasi internasional. “Diharapkan (kondisi tersebut) tidak semakin memburuk, walaupun masih ada tantangan global yang tidak mudah,” ujarnya.

Dalam keterangan tertulis, Senior Economist PT Samuel Sekuritas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi Kebijakan fiskal ekspansif Trump, yang sering diasosiasikan dengan peningkatan inflasi, akan mendorong bank sentral AS atau The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama daripada yang diperkirakan sebelumnya.

“Hal itu akan menyedot kembali arus modal dari emerging markets ke AS, menciptakan tekanan pada nilai tukar rupiah, serta likuiditas di pasar saham dan obligasi,” tulis Fithra.

Akan tetapi, dalam jangka menengah dan panjang, dinamika ini juga bisa mengarah pada konvergensi yang lebih baik. Jika dimainkan dengan strategi yang tepat, lanjut dia, maka negara berkembang seperti Indonesia dapat menyesuaikan diri, membangun kemitraan bilateral yang lebih menguntungkan.

“Kemitraan bilateral yang saling menguntungkan juga dapat turut menarik investasi asing yang sebelumnya terkonsentrasi di negara-negara tradisional pengangkut investasi,” sebut Fithra dalam tulisannya.

Kajiannya Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas menulis IHSG dan bursa regional Asia mayoritas menguat sejalan dengan kenaikan bursa AS yang tengah menopang sentimen positif di saat pasar fokus menanti pelantikan Donald Trump sebagai Presiden AS.

Statistik pergerakan pasar saham sejak awal Januari 2025 hingga Senin (20/1/2025).

Sementara, berbicara tentang potensi pergerakan pasar pada periode 20-24 Januari 2025, Community Lead Indo Premier Sekuritas, Angga Septianus, menyebutkan dua sentimen yang wajib diperhatikan para trader, yakni pelantikan resmi Donald Trump dan pergerakan nilai tukar Rupiah.

Pelantikan Donald Trump yang resmi dilakukan pada Senin 20 Januari 2025 waktu setempat, akan menjadi katalis utama minggu ini dan kedepannya kebijakan tarif Trump akan menjadi fokus utama di 2025.

“Meski begitu, penurunan suku bunga BI justru menjadi sentimen positif pasar saham domestik dan mengundang asing yang mulai masuk di tiga hari terakhir perdagangan bursa pada saham-saham berkapitalisasi jumbo,” ujar Angga.


Kerabat Kerja

Penulis:

Dimas Waraditya Nugraha
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase