Ousmane Dembele, Penerjemah Ulang Ballon d’Or

Di tangan Ousmane Dembele, Ballon d’Or bukan lagi soal jumlah pencapaian gol atau piala. Dia mengembalikan esensi paling penting dalam sepak bola dan kehidupan.

24 Sep 2025 06:00 WIB · Tokoh

Oleh Kelvin Hianusa

Berbicara turbulensi kehidupan, jangan bersaing dengan Dembele. Dia pernah menjadi pesepak bola termahal kedua sedunia pada usia 20 tahun dan digadang-gadang sebagai suksesor Lionel Messi di Barcelona. Namun, semua itu hanyalah awal dari periode terjun bebas dalam kariernya.

”Bocah ajaib” paling berbakat pada masanya itu tenggelam di Barca. Dia dicap gagal karena tubuh yang sangat ringkih. Setelah sembuh cedera, datang cedera lain. Butuh enam tahun, 2017-2023, sampai akhirnya Barca menyerah. Dia dilepas dengan mahar lebih rendah tiga kali lipat dari harga beli.

Beberapa tahun berselang, tepatnya Selasa (23/9/2025) dini hari WIB, Dembele memegang trofi ”bola emas” dalam malam penghargaan Ballon d’Or 2025 di Teater Chatelet, Paris, Perancis. Pada usia 28 tahun saat ini, dia terpilih menjadi pesepak bola terbaik sedunia dalam setahun terakhir.

Dembele kesulitan memproses raihan dalam penghargaan individu paling bergengsi itu. Dia memulai pidato dengan tangisan. ”Saya tidak ingin menangis. Akan tetapi, begitu mulai berbicara tentang keluarga, tentang orang-orang yang ada untuk saya, saya tidak dapat menahannya,” katanya.

Wajar jika bintang Paris Saint-Germain itu terharu. Perjalanannya panjang dan berliku, sejak masa kecil. Dia besar dalam keluarga imigran, ibu dari Mauritania dan ayah dari Mali. Sang ibu, Fatima, membesarkan Dembele seorang diri di Perancis dan merawat mimpinya jadi pemain bola.

Penyerang Paris Saint-Germain dan timnas Perancis, Ousmane Dembele, menangis saat berpidato terkait penghargaan pemain putra terbaik Ballon d'Or 2025 yang diraihnya di Theatre du Chatelet, Paris, Perancis, Selasa (24/9/2025) dini hari WIB.

Dembele kini berdiri di puncak tertinggi. Dia berjaya lewat raihan treble winner bersama PSG serta sumbangan 35 gol dan 16 asis dari 53 penampilan di musim 2024-25. Capaian tersebut cukup untuk mengalahkan ”bocah ajaib” Barca, Lamine Yamal, yang finis di urutan kedua.

Pertanyaannya, bagaimana Dembele mampu bangkit dari keterpurukan setelah pindah ke PSG pada 2023? Dia bisa menemukan performa terbaik dalam hidupnya setelah melewatkan fase awal usia emas dengan rentetan cedera. Biasanya, bintang muda akan menghilang ketika kalah dari ekspektasi.

Faktor pernikahan

Selama di Barca, Dembele mengalami 14 cedera otot dan harus menepi selama 784 hari. Padahal, dia terbebas dari cedera saat mengawali karier di Rennes dan Borussia Dortmund. Perubahan kondisi tubuh terjadi karena gaya hidup, akibat makanan kurang sehat sampai kurang tidur.

Menurut Dembele, gaya hidup buruk itu perlahan berubah sejak menikah dengan pacarnya, Rima, pada Desember 2021. Dia juga memiliki anak sekitar setahun kemudian. Sejak itu, Dembele yang sudah menjadi sosok suami dan ayah lebih bertanggung jawab menjalani hidup di dalam dan luar lapangan.

Pemain tim nasional Perancis itu memiliki fisioterapis pribadi di rumah dalam dua musim terakhir di Barca. Dia sering pulang ke Perancis untuk menjalani perawatan pencegahan cedera. Dembele juga menjalani diet dengan mempekerjakan ahli gizi profesional.

”Setelah satu cedera, dua, lalu tiga, Anda menyadari Anda harus menjaga tubuh. Sepak bola level tinggi membutuhkan itu. Tidak cukup hanya bakat. Saya paham harus memperkuat tubuh, makan sehat, dan tidur cukup. Semua itu terbayar hari ini di PSG. Saya senang,” katanya kepada FourFourTwo.

Setelah sehat dan bugar, seorang pemain baru bisa memaksimalkan bakatnya. Itu yang dijalani Dembele bersama PSG pada musim lalu. Tentu tidak mudah mengembalikan kepercayaan diri setelah cedera berulang. Beruntung, dia dilatih oleh Luis Enrique yang sangat paham dengan psikologis pemain.

Enrique mengajarkan banyak hal baru, dari urusan teknis hingga non-teknis. Dembele diperkenalkan posisi baru dalam kariernya, sebagai penyerang palsu atau ”false 9”, dari semula pemain sayap. Sang pemain juga diberikan kepercayaan lebih untuk menjadi salah satu pemimpin dalam tim.

Paris Saint-Germain's French forward Ousmane Dembele greets his teammates before receiving the Ballon d'Or award during the 2025 Ballon d'Or France Football award ceremony at the Theatre du Chatelet in Paris on September 22, 2025. (Photo by Franck FIFE / AFP)
Quote

Saya banyak mengalami momen sulit, seperti hidup pada umumnya. Ada momen sulit. Ada tantangan yang datang. Anda hanya perlu menghadapi itu.

Kemampuan Dembele meningkat dengan mentalitas dan posisi baru. Kelebihannya bukan hanya kecepatan atau kemampuan dribel. Sang penyerang juga tangguh dalam bertahan. ”Berikan Dembele Ballon d’Or hanya untuk cara dia bertahan di final,” kata Enrique setelah final Liga Champions.

Peran Enrique sangat krusial, tetapi kunci kebangkitan itu adalah kemauan besar dalam diri Dembele. Tidak banyak pemain bintang yang mau menekan egonya untuk belajar hal-hal baru di luar zona nyaman. Apalagi, saat seorang penyerang diminta bertahan dengan spartan layaknya gelandang jangkar.

Dembele menerima masukan seperti kertas kosong. Bahkan, dia tidak marah terhadap Enrique saat dikeluarkan dari skuad versus Arsenal pada awal musim lalu. Dia tampil semakin baik seusai insiden itu. ”Saya melakukan sedikit kesalahan, tetapi keputusan itu (Enrique) sudah tepat,” kata Dembele saat ditanya di acara Ballon d’Or.

Penerjemah ulang

Selama dua dekade terakhir, penghargaan Ballon d’Or terasa hanya seperti adu statistik. Terutama saat persaingan didominasi bergantian oleh Messi dan Cristiano Ronaldo. Para finalis seperti diadu dengan jumlah gol dan asis, serta banyak-banyakan piala bersama tim masing-masing.

Padahal, sepak bola lebih besar dari angka atau individu. ”Ini adalah trofi individu, tetapi butuh kerja kolektif untuk memenanginya. Ballon d’Or bukan tujuan dalam karier saya, tetapi luar biasa bisa mendapatkannya. Saya bekerja keras memenangi Liga Champions,” kata Dembele.

Di panggung, Dembele tidak terlihat seperti sosok megabintang yang sedang di puncak dunia. Dia terus menunjukkan kerendahan hati dengan meninggikan peran orang-orang di sekitar. Mulai dari sang ibu, Enrique, yang dianggap seperti ayah sendiri, hingga Messi yang banyak membantu di Barca.

Penyerang PSG Ousmane Dembele (tengah) menembak ke gawang kosong yang ditinggal kiper Manuel Neuer dalam perempat final Piala Dunia Antarklub di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, Minggu (6/7/2025) WIB. Percobaan itu hanya melebar tipis di samping gawang Bayern.

Saat sosok seperti Ronaldo dan Messi seperti bisa menjadi cahaya di mana pun berada, Dembele seolah tidak bisa berkembang tanpa ekosistem yang ada saat ini. Namun, itulah letak inspirasi dari pemain serba bisa tersebut. Dia mengembalikan esensi, sepak bola merupakan permainan tim.

Perjalanan turun dan naik Dembele adalah pelajaran hidup. Terjatuh sekali tak masalah, asal bangun lagi. Kebangkitannya pun terasa bagai kemenangan bersama. ”Saya banyak mengalami momen sulit, seperti hidup pada umumnya. Ada momen sulit. Ada tantangan yang datang. Anda hanya perlu menghadapi itu,” pungkasnya. (AP/REUTERS)

 

Biodata

Nama: Ousmane Dembele

Tempat, tanggal lahir: Vernon, Perancis, 15 Mei 1997

Usia: 28 tahun

Klub: Paris Saint-Germain

Prestasi:

Pemenang Ballon d’Or 2025

Juara Piala Dunia 2018

Tiga kali Juara Liga Spanyol

Dua kali Juara Liga Perancis

Juara Liga Champions 2024-2025

Sepatu Emas Liga Perancis 2024-25


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto