Pabrik Emas di Gresik Berkapasitas Produksi 50 Ton Per Tahun

Pembangunan pabrik pemurnian logam mulia diharapkan memunculkan hilirisasi dan dampak ikutan.

17 Mar 2025 19:32 WIB · Ekonomi

Oleh Aloysius Budi Kurniawan

GRESIK, KOMPAS — Presiden Prabowo Subianto meresmikan pabrik pemurnian logam mulia atau precious metal refinery PT Freeport Indonesia di Kawasan Ekonomi Khusus Gresik, Jawa Timur, Senin (17/3/2025). Kehadiran pabrik dengan kemampuan produksi 50 ton emas per tahun ini diharapkan menghasilkan devisa besar dan menciptakan lapangan kerja.

Turut hadir dalam acara itu Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI) Tony Wenas, dan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.

Pabrik ini terletak di kompleks smelter tembaga PTFI di Gresik. Dalam prosesnya, lumpur anoda—salah satu produk sampingan dari pengolahan konsentrat tembaga—dimurnikan menjadi emas, perak batangan, dan platinum group metals. Smelter yang diresmikan pada 2024 itu menghasilkan 6.000 ton lumpur anoda per tahun.

Dari total kapasitas produksi 50 ton emas per tahun pada 2025, pabrik dengan nilai investasi sebesar 630 juta dollar AS itu diperkirakan baru akan menghasilkan 32 ton emas karena smelter tengah dalam perbaikan. Kontrak sudah dilakukan PTFI dengan PT Antam Tbk, yang bakal menyerap sekitar 30 ton emas pada tahun ini.

Prabowo mengatakan, Indonesia ialah negara yang memiliki cadangan emas terbesar keenam di dunia. Oleh karena itu, berbagai penyimpangan, termasuk penambangan ilegal dan penyelundupan emas ke luar negeri, terus diberantas. Sebaliknya, produksi emas yang dihasilkan dengan proses yang benar terus didorong.

Pertambangan menjadi salah satu sektor strategis yang diperkuat dalam hilirisasi, di samping sektor-sektor lain. ”Sektor-sektor penting ini menghasilkan devisa yang besar dan menciptakan lapangan kerja yang sangat besar. Sumber daya mesti dikelola dengan baik, tertib, good governance, transparansi, serta akuntabilitas,” kata Prabowo.

Melalui hilirisasi, termasuk di sektor pertambangan, Indonesia menjadi negara yang tak menjual bahan baku ke negara lain, tetapi barang jadi. Artinya, produk akhir yang dihasilkan memiliki nilai tambah besar. Industri-industri turunan pun diharapkan tumbuh sehingga semakin banyak tercipta lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi meningkat.

Bahlil menuturkan, jika kapasitas pabrik emas PTFI ditambah dengan kapasitas produksi pabrik emas PT Amman Mineral International, Indonesia bisa menghasilkan 60-70 ton emas per tahun. Tak cukup sampai di situ, tambang-tambang tembaga baru diupayakan karena dua pabrik emas tidak cukup untuk mengoptimalkan potensi emas Indonesia.

”Nah, ini juga salah satu kenapa kita atas arahan Bapak Presiden sekarang smelter untuk tembaga tidak hanya cukup dua, tapi kita akan mengembangkan beberapa tambang-tambang baru. Di samping itu, industri-industri turunan dari tembaga, seperti foil tembaga hingga kabel, juga bakal terus diupayakan,” ucap Bahlil.

Terkait produksi emas PTFI, hasil pemurnian lumpur anoda, Bahlil menyebut pendapatan negara akan meningkat. ”Juga meningkatkan daya saing, multiplier effect (dampak ikutan), dan devisa kita. Kalau kita jual emas, orang beli pakai dollar, kan, devisa. Sekarang juga sudah ada dana hasil ekspor (DHE) dari proses sumber daya alam, semuanya 100 persen ditaruh di dalam negeri,” kata Bahlil.

Presiden Prabowo Subianto didampingi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, Menteri BUMN Erick Thohir, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas, dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meresmikan produksi pabrik pemurnian logam mulia Freeport di Kawasan Ekonomi Khusus Gresik, Jatim, Senin (17/3/2025). Pabrik itu memiliki kapasitas produksi sekitar 50 ton emas per tahun. PT Antam Tbk akan menyerap 30 ton emas per tahun dari pabrik itu.

Tumbuhkan industri hilir

Tony menuturkan, dengan produksi emas dari pabrik pemurnian logam mulia, diharapkan industri hilir bakal terus tumbuh. Baik yang menggunakan tembaga maupun emas sebagai bahan dasar industrinya. Pada akhirnya, dampak ikutan tersebutlah yang nantinya memberi kontribusi pada pertumbuhan ekonomi tinggi Indonesia.

”Yang lebih penting ialah nilai tambah atau multiplier effect dari logam mineral, baik itu tembaga, emas, perak, di dalam negeri. Ini jumlahnya masif. Tembaga yang diproduksi PTFI total bisa 800.000 ton. Itu bisa membangun 150 gigawatt panel surya. Dengan adanya industri lebih hilir, akan bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi 8 persen,” ujarnya.

Quote

Yang lebih penting ialah nilai tambah atau multiplier effect dari logam mineral, baik itu tembaga, emas, perak, di dalam negeri.

Sebelumnya, pada Februari 2025, PTFI telah menjual emas olahan seberat 125 kilogram (kg) ke Antam. Penjualan tersebut bagian dari kontrak kerja sama selama lima tahun dengan nilai mencapai 12,5 miliar dollar AS, yang disepakati pada November 2024 (Kompas.id, 21/2/2025).

Menurut rencana, Antam akan menyerap 30 ton emas per tahun atau lebih dari separuh kapasitas pemurnian PTFI yang mencapai 50 ton emas per tahun.

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, penjualan emas dari PTFI ke Antam menjadi bagian dari sinergi induk BUMN pertambangan Indonesia, MIND ID. Menurut dia, cadangan emas Indonesia merupakan nomor keenam terbesar di dunia, yakni sekitar 2.600 metrik ton. Adapun dalam hal cadangan emas batangan, Indonesia di posisi ke-43 dunia. Hilirisasi pertambangan, khususnya emas, diharapkan memperkuat posisi Indonesia di pasar global.

Suasana di sekitar pabrik pemurnian logam mulia PT Freeport Indonesia di Kawasan Ekonomi Khusus Gresik, Jawa Timur, yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada Senin (17/3/2025). Pabrik itu memiliki kapasitas produksi sekitar 50 ton emas per tahun. PT Antam Tbk akan menyerap 30 ton emas per tahun dari pabrik itu.

Izin ekspor

Dalam kesempatan itu, Bahlil juga menyebut Presiden Prabowo telah menyetujui perpanjangan izin ekspor konsentrat tembaga PTFI selama enam bulan. Hal tersebut disebabkan belum bisa beroperasinya smelter tembaga PTFI akibat terjadinya kebakaran pada pabrik asam sulfat. Adapun PTFI mempercepat perbaikan.

”Jadi, saya cuma kasih waktu enam bulan, agar betul-betul mereka bisa mempercepat proses perbaikannya,” kata Bahlil.

Ia menambahkan, untuk sementara, volume ekspor sekitar 1,3 juta ton konsentrat tembaga. ”Kita lakukan atas arahan Pak Presiden di ratas (rapat terbatas) karena Freeport 51 persen sahamnya punya negara. Dalam kondisi di luar kendali ini, kami minta Freeport melakukan percepatan,” lanjutnya.

Sementara itu, salah satu upaya Freeport dalam percepatan perbaikan ialah dengan mendatangkan perlengkapan dan komponen kritikal secara bertahap menggunakan pesawat kargo Antonov AN-124 dan Boeing 747 ke Surabaya. Selanjutnya, perlengkapan dan komponen akan diangkut menempuh jalur darat menuju Gresik. Dengan begitu, pengiriman komponen dari luar negeri hanya berlangsung selama 35 jam, jauh lebih cepat dari pengangkutan menggunakan kapal laut selama 60 hari.


Kerabat Kerja

Penulis:

Aloysius Budi Kurniawan
 | 

Editor:

Aloysius Budi Kurniawan