Industri Kemasan Aseptik Lebih Tahan terhadap Resesi

Indonesia kini memiliki pabrik kemasan aseptik pertama. Ketergantungan impor kemasan ramah lingkungan tereduksi. Industri ini dinilai tahan banting terhadap resesi.

01 Agt 2025 16:58 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Dionisius Reynaldo Triwibowo

SERANG, KOMPAS — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut industri makanan dan minuman merupakan sektor yang paling tahan tekanan resesi global. Selama industri ini hidup, industri kemasan pun ikut tumbuh bersamanya.

Hal itu ia sampaikan di sela-sela peresmian pabrik kemasan aseptik pertama di Indonesia milik PT Lami Packaging Indonesia atau Lamipak di Serang, Banten, pada Jumat (1/8/2025). Airlangga mengungkapkan, industri kemasan merupakan sektor strategis dan memiliki prospek pertumbuhan yang tinggi di tengah dinamika ekonomi global.

Ia sempat menyebut soal tarif Trump yang berlaku pada Kamis, 7 Agustus 2025. Kebijakan AS itu kemudian menimbulkan ketidakpastian ekonomi global, termasuk di Indonesia.

Meskipun demikian, kata Airlangga, perekonomian global kini perlahan tumbuh lebih baik dari awal tahun sesuai dengan proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF). Pertumbuhan ekonomi, meski ada tarif Trump, dinilai akan jauh lebih baik karena muncul kepastian.

”Industri membutuhkan kepastian dan kepastian itu lebih penting dari yang lain. Dengan berkurangnya ketidakpastian global, industri kini dapat melangkah lebih mantap,” ungkap Airlangga.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (dua kiri) didampingi Vice Chairman LamiPak Group Anil Kaul melihat contoh kemasan aseptik yang diproduksi PT Lami Packaging (LamiPak) Indonesia di Kabupaten Serang, Banten, Jumat (1/8/2025). LamiPak meresmikan invetasi tahap ke dua di pabrik tersebut sehingga meningkatkan kapasitas produksi dari semula 12 milyar kemasan per tahun menjadi 21 milyar kemasan per tahun.

Airlangga menambahkan, di tengah ketidakpastian global semua sektor bisa saja terkena dampaknya. Namun, menurutnya, industri makanan dan minuman merupakan sektor yang paling tahan resesi, termasuk juga industri kemasan, dan kemasan aseptik merupakan level paling atas di industri tersebut.

Industri kemasan, lanjut Airlangga, merupakan bagian penting dari rantai pasok industri makanan dan minuman yang terus bertumbuh. Ia mengatakan, nilai industri kemasan nasional saat ini mencapai Rp 93,2 triliun dan diperkirakan naik menjadi Rp 105 triliun diikuti permintaan global terhadap kemasan yang tumbuh 30 persen setiap tahun.

”Industri kemasan ini tidak akan mati karena selama masih ada manusia yang makan dan minum, maka kemasan tetap dibutuhkan. Industri ini recession-proof,” kata Airlangga.

Potensi pasar dalam negeri juga masih besar. Dengan nilai produk kemasan mencapai 193 juta dollar AS (Rp 3,18 triliun dengan kurs saat ini), Airlangga menilai masih banyak ruang pertumbuhan bagi industri lokal.

Pabrik yang baru diresmikan ini sudah mulai beroperasi sejak 2024. Momen kali ini, Lamipak juga mengumumkan bahwa pabrik ini memulai dengan kapasitas produksi mencapai 12 miliar kemasan per tahun. Kini, pabrik yang dibangun sejak 2022 itu sudah mampu memproduksi 21 miliar kemasan aseptik per tahun.

Managing Director PT Lamipak Indonesia Anton Hui mengklaim, pabrik ini merupakan yang pertama di Indonesia. Pabrik ini merupakan pabrik kemasan aseptik yang mampu mengelola seluruh proses produksi (end to end). Kemasan aseptik dibuat dengan sistem di mana produk dan kemasannya disterilkan secara terpisah.

Quote

”Jika dulu kita impor 100 persen, saya kira dengan kehadiran ini bisa mengurangi impor hingga setengahnya,” kata Ketua Gapmmi Adhi S Lukman.

Kemasan dibuat di lingkungan yang steril agar produk bisa bertahan lama tanpa bahan pengawet. Kemasan aseptik mampu melindungi makanan atau minuman dari kontaminasi bakteri dan kerusakan, juga mempertahankan rasa, nutrisi, dan kualitas produk.

Pabrik ini menggunakan standar industri 4.0 sehingga menjadikannya pabrik paling canggih yang pernah dibuat Lamipak. Lamipak sendiri merupakan perusahaan asal Tiongkok yang dibangun sejak 2007.

Pabrik ini dibangun dengan asas keberlanjutan dengan memanfaatkan energi surya melalui solar panel rooftop berkapasitas 5,3 megawatt. Semua limbah yang dihasilkan pun didaur ulang kembali oleh pabrik.

Pabrik yang dibangun di atas lahan seluas 16,2 hektar ini juga merekrut 450 tenaga kerja, di mana 45 persen di antaranya merupakan warga Serang, Banten. Sekitar 80 persen dari jumlah pekerja merupakan operator mesin-mesin canggih dengan teknologi asal Jerman.

”Karena baru mulai (produksi), saat ini kami sudah memproduksi 3 miliar kemasan aseptik, tetapi kapasitas pabrik ini sudah ditingkatkan menjadi 21 miliar kemasan. Kami yakin dengan potensi pasar di Indonesia ataupun di luar negeri dan tentu akan terus meningkat,” ungkap Anton.

Contoh Berbagai merek minuman dengan menggunakan kemasan aseptik yang diproduksi PT Lami Packaging (LamiPak) Indonesia di Kabupaten Serang, Banten, Jumat (1/8/2025).

Melihat hal itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman mengatakan, kehadiran pabrik ini krusial untuk industri makanan dan minuman di Indonesia. Selama ini, kemasan aseptik di Indonesia 100 persen impor dari luar negeri. Dengan begitu, perusahaan bisa mereduksi biaya produksi.

Adhi menambahkan, para pengusaha kini juga tidak perlu khawatir dengan jumlah pesanan. ”Kalau dulu kan impor jadi harus pesan banyak, kalau sekarang kan bisa pesan sesuai kebutuhan. Dulu investasinya ke Singapura lalu Vietnam, sekarang bisa langsung pesan di sini,” katanya.

”Jika dulu kita impor 100 persen, saya kira dengan kehadiran ini bisa mengurangi impor hingga setengahnya,” kata Adhi.

Industri kemasan aseptik, lanjut Adhi, juga bisa mendukung industri kecil dan menengah yang membutuhkan kemasan aseptik. Apalagi, kini di era keberlanjutan kemasan aseptik dibutuhkan karena dikembangkan dengan teknologi ramah lingkungan, yakni tanpa laminasi dengan aluminium foil.

Potensi industri kemasan masih begitu besar di Indonesia. Jika melihat data BPS, nilai produksi industri kemasan mencapai Rp 87,6 triliun pada 2022 meningkat menjadi Rp 93,2 triliun di 2023 dan mencapai Rp 100 triliun pada 2024. Adhi memperkirakan pasar industri kemasan menunjukkan pertumbuhan yang menjanjikan hingga 24 persen dalam lima tahun ke depan di Asia Tenggara.

Pengembangan industri ini bisa membuka peluang-peluang usaha lain dan menggerakkan perekonomian, baik di kelas menengah maupun level industri. Tentunya, lapangan pekerjaan akan bertambah.

”Saya lihat pabrik ini juga memproduksi sedotan kertas ya, jadi lengkap, belum lagi perusahaan akan mendukung MBG (Makan Bergizi Gratis) sehingga potensi untuk mendorong pertumbuhan ekonominya jadi tinggi,” ujarnya.

Presiden Prabowo Subianto dan pendiri Gates Foundation Bill Gates meninjau program makan bergizi gratis di SDN 03 Jati, Pulogadung, Jakarta Timur, Rabu (7/5/2025). Sebelumnya Prabowo dan Bill Gates meninjau ruang katering MBG dan dilanjutkan memasuki dua ruang kelas di sekolah tersebut.

KOMPAS/AGUS SUSANTO
7-5-2025

MBG

Di sela-sela peresmian itu, Airlangga juga mengungkapkan jika kehadiran pabrik ini bisa mendukung program MBG. Pemerintah berencana memproduksi susu sehat berbasis regional untuk program MBG.

”Ini harus didukung, selama MBG ada minuman, tentunya membutuhkan kemasan dan ini kemasan aseptik. Saya sudah lihat pabriknya, kualitasnya bagus sekali, mereka investasi mesin-mesin yang bagus untuk paper industry,” katanya.

Sebelumnya, pemerintah telah meresmikan Rumah Susu Pasteurisasi di Bogor sebagai pusat pengolahan susu lokal untuk mendukung MBG. Fasilitas itu bertujuan untuk menjamin mutu, keamanan pangan, dan memudahkan distribusi susu bergizi ke anak-anak sekolah. Hal itu sejalan dengan kebutuhan kemasan aseptik yang mampu menjamin kualitas susu segar tersebut.

”Ini tentu akan membantu program pemerintah, termasuk MBG. Pemerintah punya target pertumbuhan ekonomi 8 persen, sektor industri itu berkontribusi terhadap PDB hampir 19,6 persen jadi sektor penunjang utama sehingga industri akan terus kami dorong untuk selalu berinovasi,” ungkap Airlangga.

Hal itu langsung direspons Anton Hui yang akan mendukung penuh permintaan pemerintah dalam memproduksi kemasan aseptik untuk susu MBG. ”Kami siap mendukung,” ujarnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Dionisius Reynaldo Triwibowo
 | 

Editor:

Aloysius Budi Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari