Pupuk Iskandar Muda sangat penting dalam rantai pasok pangan nasional. PIM berkontribusi besar memenuhi kebutuhan pupuk nasional.
21 Jul 2025 04:18 WIB · Ekonomi & Bisnis
Menjelang musim tanam utama tahun ini, suara mesin produksi pabrik PT Pupuk Iskandar Muda terus menderu sehari semalam tanpa henti. Kesibukan pekerja lini produksi hingga gudang tampak jelas dari truk-truk yang mengantre memuat pupuk urea dan NPK. Di dermaga, kapal bersiap untuk segera mendistribusikan pupuk ke berbagai penjuru Nusantara, termasuk ke kepulauan terpencil dan terluar.
”Jadi saya cukup senang. Hari ini di Aceh ternyata penyalurannya cukup lancar. Mudah-mudahan di kota dan kabupaten lainnya distribusi pupuk juga lancar,” kata Direktur Utama PT Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi saat meninjau jalur distribusi dan rantai produksi pupuk Aceh di Lhokseumawe, Kamis (3/7/2025).
Saat Kompas berkunjung, aktivitas di kompleks pabrik PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) terasa sangat sibuk. Di ruang kendali operasi, para operator dengan teliti mengoperasikan mesin-mesin pabrik utilitas, pabrik amonia, pabrik urea, hingga pabrik NPK.
Para pekerja juga hilir mudik dengan sepeda di lingkungan pabrik. Ada pula yang sibuk menyelesaikan tahap akhir pembangunan tangki raksasa tempat penyimpanan amonia berkapasitas 10.000 ton. Tangki yang ditargetkan beroperasi pada Agustus itu akan menjadi bagian penting dalam menjaga rantai produksi pupuk.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/04/9f72c7bb-441f-4ccd-8c9d-3da7d9614ccd_jpg.jpg)
Di rantai terakhir lini produksi, para pekerja mengemas pupuk ke dalam karung bertuliskan pupuk bersubsidi. Pupuk-pupuk itu pun siap didistribusikan ke berbagai wilayah, khususnya Sumatera bagian utara (Sumbagut), meliputi Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, hingga Sumatera Barat. PIM juga memproduksi pupuk komersial yang dijual di dalam negeri dan diekspor ke sejumlah negara.
Sebagai pemasok pupuk, PIM mempunyai peran sangat penting dalam rantai pasok pangan. PIM, yang merupakan badan usaha milik negara di bawah Pupuk Indonesia dan Danantara, memiliki pabrik PIM 1, PIM 2, pabrik NPK, dan hidrogen peroksida.
PIM 1 yang beroperasi sejak 1985 itu mempunyai kapasitas produksi amonia (bahan setengah jadi urea) 330.000 ton per tahun dan urea 570.000 ton per tahun. Adapun PIM 2 yang beroperasi sejak 2005 dengan mesin yang lebih modern bisa menghasilkan 396.000 ton amonia dan 570.000 ton urea per tahun.
PIM juga telah mengoperasikan pabrik NPK sejak Februari 2023 dan dapat memasok 500.000 ton NPK per tahun. Pabrik PIM 1 dan PIM 2 juga menghasilkan produk samping yang diolah menjadi hidrogen peroksida (H₂O₂). Bahan kimia yang digunakan untuk pemutih, antiseptik, dan bahan oksidasi itu diolah di pabrik yang diakuisisi oleh PT PIM dari PT ASEAN Aceh Fertilizer.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/05/86bf4c2b-50f6-409f-9f54-18e6cea313ac_jpg.jpg)
PIM mulai dibangun pada 1982 dengan memanfaatkan pasokan gas alam yang berlimpah dari ladang gas Arun di Aceh Utara yang dikelola ExxonMobil. Gas alam merupakan bahan baku utama untuk memproduksi urea (Kompas.id, 11/10/2023).
Pada 2005, PIM sempat berhenti produksi lantaran kesulitan gas setelah berakhirnya operasi ExxonMobil. Pasokan gas dari ladang gas Arun lalu habis total pada Oktober 2014 setelah lebih dari 36 tahun beroperasi.
Setelah mendapatkan jaminan pasokan gas dari beberapa sumur gas lain, pabrik PIM 1 dan PIM 2 diaktivasi kembali. Pabrik PIM 2 reaktivasi pada 2005 dan disusul PIM 1 pada pada 2012. Pada 2022, PT PIM membangun pabrik NPK dan mulai beroperasi sejak 2023.
Rahmad mengatakan, PIM merupakan pabrik yang sangat penting dalam rantai pasok pangan nasional. PIM berkontribusi cukup besar untuk memenuhi kebutuhan pupuk nasional, khususnya untuk wilayah Sumbagut.
”Pupuk berkontribusi sangat besar pada produktivitas pertanian, mencapai 62 persen. Dengan produksi dan distribusi pupuk yang tepat waktu dan tepat sasaran, pupuk akan meningkatkan hasil pertanian kita,” kata Rahmad.
Dari total 9,4 juta ton produksi urea seluruh pabrik yang dikelola PT Pupuk Indonesia, sebanyak 1,14 juta ton atau 12 persen di antaranya diproduksi di PIM 1 dan PIM 2. PIM juga memasok 500.000 ton NPK per tahun atau sekitar 11 persen dari total 4,6 juta ton NPK yang diproduksi Pupuk Indonesia.
Sementara, produksi amonia dari PIM mencapai 759.000 ton per tahun atau 11 persen dari total 7 juta ton produksi amonia Pupuk Indonesia. Untuk meningkatkan keandalan pasokan amonia, PIM kini membangun tangki penyimpanan berkapasitas 10.000 ton.
Tangki itu sangat penting untuk menambah kapasitas tangki sebelumnya yang hanya dua kali 5.000 ton. Amonia sangat penting karena merupakan bahan baku utama urea dan NPK.
Dalam kunjungannya ke Aceh, Rahmad meninjau rantai produksi pupuk bersubsidi mulai dari pabrik di Aceh Utara, jalur distribusi, gudang penyimpanan, kios pupuk, hingga bertemu petani.
”Saya mengajak produsen, termasuk Direktur Utama PIM Budi Santoso Syarif, untuk melihat dan memastikan produksi dan distribusi pupuk berjalan dengan baik. Kami juga mengunjungi kios, serta bertemu, berinteraksi, dan mendengarkan langsung keluhan dan masukan dari petani,” kata Rahmad.
Setelah meninjau rantai pasok pupuk di Aceh, Rahmad menyebut, tidak ada persoalan dalam proses produksi, distribusi, dan penyaluran pupuk bersubsidi kepada petani. Pupuk bersubsidi seperti urea dan NPK sudah didistribusikan hingga ke kios-kios sesuai alokasi dan kebutuhan.
Supervisor Bagian Pengemasan Pupuk PIM Dede Aulia Ramadhan mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan pupuk bersubsidi, mereka bekerja bergantian tiga sif sehari. ”Kalau menjelang musim tanam utama seperti sekarang, kami harus mengejar produksi untuk segera dikirim ke petani,” kata Dede.
Dari gudang pengemasan dan penimbunan, pupuk diangkut menggunakan truk. Pupuk-pupuk itu akan didistribusikan ke berbagai daerah di lima provinsi di Sumbagut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/04/02/d6bc6cc0-348f-40ed-a68d-dacd38014f4f_png.png)
Sebagian lagi diangkut dengan kapal melalui dermaga. PIM mempunyai dermaga sendiri di kompleks pabrik yang berada di tepi pantai yang berhadapan langsung dengan jalur perdagangan Selat Malaka. Di Pelabuhan PIM, Kapal Motor Amrta Jaya 1 baru saja berlabuh.
”Kami akan memuat 6.400 ton pupuk urea dan NPK untuk dikirim ke Kota Padang, Sumatera Barat,” kata Manajer Pelabuhan PIM Feri Efendi.
Kapal-kapal lain pun akan mengangkut pupuk ke Medan hingga Kepulauan Nias. Pupuk-pupuk itu dinanti para petani pada awal musim tanam utama yang akan segera tiba.
Sementara itu, menurut Ketua Umum Pemuda Tani Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Zulharman Djusman, sejak dulu Pupuk Iskandar Muda punya peran penting dalam mendukung swasembada pangan, terutama di Aceh dan Sumatera. ”Dengan adanya pabrik pupuk ini, teman-teman petani tidak lagi perlu jauh-jauh cari pupuk, seperti ke Sumatera Selatan,” ujarnya, Minggu (20/7/2025).
Apalagi, lanjutnya, salah satu tantangan distribusi pupuk di luar Jawa adalah jarak yang jauh dan medannya cukup berat. Itu sebabnya, kehadiran industri pupuk di wilayah Aceh sangat dibutuhkan. Terkait penyaluran pupuk subsidi, Zulharman mendukung Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Pupuk Bersubsidi.
Regulasi itu mengatur peran gabungan kelompok tani atau Gapoktan dalam penyaluran pupuk bersubsidi. ”Sebab, Gapoktan inilah yang sangat memahami kebutuhan pupuk teman-teman petani. Ini juga bisa mengantisipasi masalah data dan jarak saat distribusi pupuk,” ungkapnya.
Meski demikian, menurut dia, swasembada pangan tidak hanya sekadar ketersediaan dan penyaluran pupuk, tetapi juga harua didukung sejumlah faktor. Salah satunya, masalah benih padi di Aceh. Sebab, benih kebanyakan berasal dari Jawa. Selanjutnya, persoalan kandungan tanah yang membutuhkan penanganan lebih, terutama di wilayah pantai.
Pihaknya juga menyoroti masalah alat dan mesin pertanian yang belum merata di Aceh dan sekitarnya. ”Lalu, yang paling penting juga akses transportasi dan infrastruktur pertanian, seperti irigasi. Bahkan, pemerintah perlu memberikan subsidi transportasi untuk hasil panen petani. Terakhir, masalah pemasaran. Jadi, swasembada pangan tidak hanya soal pupuk,” ujarnya.
Penulis:
Nikson Sinaga, Abdullah Fikri AshriEditor:
Hamzirwan .Foto:
Raditya Helabumi JayakarnaVideo:
Hendricus Arga YudhantaraPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan