Penerima manfaat makan bergizi gratis 82,9 juta jiwa dari 32.000 satuan pelayanan pemenuhan gizi.
21 Agt 2025 17:31 WIB · Metropolitan
SURABAYA, KOMPAS — Pemerintah memacu penambahan satuan pelayanan pemenuhan gizi atau SPPG. Targetnya, memenuhi kebutuhan sedikitnya 82 juta jiwa penerima makanan bergizi gratis atau MBG akhir tahun ini.
Hal itu diutarakan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan seusai meninjau SPPG di Jalan Jemur Andayani XV Nomor 12, Wonocolo, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (21/8/2025). SPPG itu terdaftar atas nama Yayasan Miftahul Jinan Lamongan dan dijalankan CV Boga Surya Sentosa.
Pemerintah diklaim terus menambah SPPG setelah pelatihan intensif untuk operator atau pelaksana. Sampai Juli 2025, penerima MBG sekitar 16-17 juta jiwa. Pada Agustus 2025, program MBG diklaim telah menjangkau 20 juta jiwa sasaran.
”Kami targetkan pada akhir tahun sudah bisa menjangkau 82 juta jiwa sasaran,” kata Zulhas, sapaan Zulkifli yang juga Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN).
Zulhas melanjutkan, MBG merupakan inisiatif pemerintah yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto sejak 20 Oktober 2024. Presiden ingin memastikan seluruh warga negara, terutama anak sekolah dasar sampai menengah, terpenuhi kebutuhan gizi untuk pertumbuhan jasmani dan perkembangan kognitif.
Program diwujudkan dengan pemberian paket MBG di sekolah. Untuk itu, dibentuk Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai pelaksana. SPPG merupakan salah satu sarana saat memberikan MBG.
Mengutip data Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan, program MBG tahun ini dianggarkan Rp 71 triliun. Senilai Rp 51,5 triliun untuk belanja barang bahan makan dan minum. Sisanya, sekitar Rp 19,5 triliun untuk program teknis, belanja pegawai, dan barang pendukung MBG.
Dengan anggaran Rp 71 triliun, sasaran penerima 17,9 juta jiwa. Sasaran terdiri dari 15,5 juta jiwa anak sekolah dan 2,4 juta jiwa ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita (bawah lima tahun).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/21/f8f9f890961625bd0b46d6857da30974-IMG_20250821_103141.jpg)
Namun, arahan terkini Presiden, penerima manfaat MBG pada kuartal keempat atau akhir tahun menjadi 82,9 juta jiwa. Ini bisa dipenuhi 32.000 SPPG. Selain itu, anggaran juga harus ditambah sampai Rp 100 triliun.
”Kedatangan saya ke sini untuk memastikan program MBG berjalan lancar dan penerima manfaat nantinya mencapai target,” ujar Zulhas, mantan Menteri Kehutanan.
Ditanya tentang antisipasi karena beberapa kali tersiar fakta penerima manfaat keracunan, Zulhas menyatakan, pengawasan harus ditingkatkan. SPPG berada dalam pantauan lurah atau camat dan personel TNI/Polri.
”Pengawasan yang ketat akan menekan potensi kejadian MBG tidak layak,” kata Zulhas, mantan Ketua MPR dan eks Menteri Perdagangan.
Syamsudin Duka, Koordinator SPPG Wonocolo, mengatakan, pembuatan dan penyaluran MBG dilaksanakan dengan mengutamakan kebersihan dan higienitas.
”Kami menjamin kualitas MBG yang dibuat di sini telah memenuhi standar dan terutama selamat dan aman bagi penerima manfaat,” katanya.
Di SPPG Wonocolo, kata Syamsudin, setiap hari, lebih dari 3.000 paket MBG disiapkan. Kemasannya dari pelat baja. Produksi MBG dijalankan ketika dana sudah disalurkan dari BGN dengan mekanisme setiap dua minggu.
SPPG Wonocolo juga bekerja sama dengan Garda Pangan untuk pengolahan sisa MBG atau bahan yang tak dipakai. Sampah-sampahnya nanti dibawa ke pusat pengolahan sampah di Puspa Argo, Sidoarjo.
”Kapasitas pengolahannya 3 ton per hari dengan maggot untuk dijadikan pupuk dan pakan ternak,” kata Pendiri Garda Pangan, Dedhy Trunoyudho.
Penulis:
Ambrosius HartoEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari