Kluivert punya kaki sebagai senjata utama saat masih bermain. Kala melatih Indonesia, kehebatannya sangat mungkin terletak pada ”tangan kanannya”.
10 Jan 2025 12:26 WIB · Olahraga
Penunjukan Patrick Kluivert sebagai pelatih timnas Indonesia menggantikan Shin Tae-yong menuai pro dan kontra. Ia dinilai punya rekam jejak mentereng saat aktif bermain, tetapi belum teruji sebagai pelatih. Meski punya rekam jejak yang kurang meyakinkan, Patrick Kluivert membawa tim kepelatihan yang layak diperhitungkan. Harapan tim “Garuda” dan seluruh masyarakat Indonesia bersandar pada mereka.
Sejak awal, Kluivert sudah menyadari bahwa ia tidak akan bisa sukses seorang diri di tim kepelatihan Indonesia. Oleh karena itu, mantan penyerang AC Milan dan Barcelona ini turut membawa Alex Pastoor dan Denny Landzaat sebagai asisten.
Selain itu, Kluivert juga direncanakan akan didampingi dua asisten pelatih dari Indonesia. Meski belum diumumkan, Nova Arianto dan Indra Sjafri menjadi dua nama yang disebut-sebut akan mendampingi Kluivert.
“Seperti yang semua orang tahu, setiap orang perlu saling melengkapi dengan sempurna. Saat ini, kami sedang dalam proses untuk menyatukan segala sesuatunya,” ujar Kluivert dalam wawancara bersama jurnalis pakar transfer Eropa, Fabrizio Romano, Kamis (9/1/2025).
Melalui pernyataan tersebut, Kluivert menekankan bahwa kunci utama kinerja kepelatihannya nanti bukan hanya bertumpu pada nama besarnya, melainkan juga tim kepelatihan. Kluivert, Pastoor, dan Landzaat, merupakan kombinasi terbaik yang diyakini bisa menjadi senjata utama performa timnas Indonesia jelang menghadapi sisa laga kualifikasi Piala Dunia 2026.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/07/6447a254-3397-49c0-b961-e3d75d3bb935_jpg.jpg)
Ketiga orang itu membentuk kombinasi yang ideal. Kluivert punya nama besar yang bisa meredam ego setiap pemain Indonesia di ruang ganti. Untuk urusan taktik, Kluivert akan dibantu Pastoor yang terbukti bertangan dingin sebagai pelatih saat mengantarkan Sparta Rottterdam dan Almere City promosi ke Eredivisie. Adapun Landzaat punya pengalaman panjang sebagai asisten pelatih serta punya kelebihan bisa berbahasa Indonesia.
Kedua sosok itu saling komplementer bersama Kluivert membentuk tim kepelatihan yang tangguh. Walakin, bukan berarti Kluivert hanya akan mengandalkan nama besarnya semata. Meskipun belum memiliki rekam jejak yang meyakinkan sebagai pelatih, Kluivert cukup hebat memoles para penyerang sebelum menangani Indonesia.
Dia pun memulai karier kepelatihannya sebagai seorang pelatih penyerang di AZ Alkmaar pada 2008 atau beberapa saat usai gantung sepatu. Kala itu, pelatih legendaris Belanda, Louis Van Gaal, mencium bakat Kluivert dalam mencetak penyerang-penyerang andal.
Kombinasi Van Gaal dan Kluivert menggoreskan tinta sejarah untuk Alkmaar. Mereka menjuarai Eredivisie untuk pertama kalinya, mematahkan dominasi para raksasa Belanda, seperti Ajax Amsterdam, Feyeenord, dan PSV Eindhovern. Selain gelar juara, penyerang didikan Kluivert, Mounir El Hamdaoui, bahkan menjadi pencetak gol terbanyak Eredivisie dengan 23 gol.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/06/ad3dd1b8-b6cc-4db9-a90e-f1cb2f2b63b0_png.png)
Kluivert diharapkan bisa menularkan naluri menyerangnya kepada para pemain timnas Indonesia. Pada era kepelatihan Shin Tae-yong, masalah utama timnas di lini depan tidak kunjung terselesaikan. Gol-gol Indonesia mayoritas tercipta dari para bek dan gelandang.
Di era Kluivert, langkah memoles penyerang murni sebagai target man atau goal getter sudah pasti akan dilakukan Kluivert. Alasannya, ia menyukai pakem formasi 4-2-3-1 yang identik dengan filosofi total football warisan Rinus Michel dan disempurnakan Johan Cruyff. Dalam formasi 4-2-3-1, Indonesia wajib memiliki seorang penyerang murni di lini depan.
“Saya tidak sabar untuk bekerja dengan semua orang demi mencapai tujuan bersama kami,” kata Kluivert.
Kendala bahasa dan komunikasi seperti yang terjadi pada era Shin setidaknya bisa diminimalisasi karena Kluivert juga berbahasa Belanda sebagaimana kebanyakan pemain diaspora di timnas Indonesia saat ini. Adapun komunikasi kepada pemain hasil binaan Liga Indonesia akan berjalan mulus dengan adanya Landzaat yang lancar berbahasa Indonesia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/07/e82f0c53-2fb4-443c-8d69-2a3fbdcb9284_jpg.jpg)
Dengan keberadaan dua “tangan kanan” tersebut, tugas Kluivert di timnas Indonesia akan berjalan lebih lancar. Kemewahan mendapat dua “tangan kanan” seperti di Indonesia belum sempat diperoleh Kluivert saat menangani timnas Curacao pada 2015-2016.
Tanpa dua “tangan kanan” andal, Kluivert gagal mengangkat performa Curacao. Ia hanya mempersembahkan tiga kemenangan, dua kali imbang, dan menelan tiga kekalahan dalam delapan pertandingan.
Satu-satunya dinding besar yang harus diruntuhkan Kluivert adalah dukungan dan rasa cinta dari suporter timnas Indonesia mengingat rekam jejaknya yang belum terlalu meyakinkan sebagai pelatih. Kluivert wajib menorehkan hasil positif saat melawan Australia untuk mendapatkan dukungan dari suporter timnas. Hanya dengan begitu kepercayaan publik Indonesia bisa ia rebut.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji