Banjir Lumpuhkan 1.294 Infrastruktur Telekomunikasi di Sumut-Aceh

Operator kesulitan memulihkan layanan akibat akses terputus.

27 Nov 2025 14:10 WIB · Ekonomi & Bisnis

DOKUMENTASI WARGA

Oleh Caecilia Mediana

JAKARTA, KOMPAS — Sebanyak 495 fasilitas pemancar telekomunikasi seluler di Sumatera Utara tidak berfungsi akibat banjir dan longsor yang menerjang Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga, Rabu (26/11/2025). Di Aceh, bencana pada hari yang sama juga membuat 799 site ikut mati. Operator seluler berupaya melakukan pemulihan, tetapi terkendala akses menuju lokasi terdampak.

Dalam pernyataan resmi Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemekomdigi), Kamis (27/11/2025), disebutkan bahwa di Sumatera Utara terdapat 34.660 site pemancar telekomunikasi dan 495 di antaranya tidak berfungsi akibat banjir. Di Aceh, dengan jumlah site yang sama, 799 site terdampak. Gangguan terutama terjadi karena aliran listrik PLN terputus sehingga transmisi ke site-site tersebut ikut berhenti.

Sementara di Sumatera Barat, dari total 3.739 site existing, ada 16 site atau 0,43 persen site yang mati akibat terdampak oleh banjir. Secara rinci, ada 1 site dari total 170 site di Kota Sawahlunto, 1 site dari total 1.027 site di Kabupaten Pesisir Selatan, 1 site dari total 437 site di Kabupaten Sijunjung, 8 site dari total 841 site di Kabupaten Solok, dan 5 site dari total 312 site di Kabupaten Solok Selatan.

Saat ini Kemenkomdigi menyebut operator telekomunikasi seluler sedang berupaya untuk memulihkan site yang terdampak. Menurut rencana bakal menggunakan genset sebagai catu daya alternatif sampai aliran listrik kembali normal.

”Namun, mereka sendiri terkendala. Akses menuju ke lokasi site terdampak banjir sehingga menghambat mobilisasi genset,” tulis Kemenkomdigi.

Sebagai solusi sementara, Kemenkomdigi mengklaim, para operator telekomunikasi seluler melakukan routing (pemilihan jalur terbaik untuk mengirimkan aliran sinyal) ke beberapa titik yang masih dapat terlayani. Sejauh ini masih dilakukan verifikasi untuk pengecekan lebih lanjut.

Warga melihat kondisi mushalla yang rusak akibat banjir bandang di kawasan Batu Busuk, Pauh, Padang, Sumatera Barat, Rabu (26/11/2025). Banjir bandang yang terjadi pada Selasa (25/11) di daerah itu mengakibatkan dua rumah dan satu mushalla rusak serta berdampak kepada 327 jiwa dimana 167 orang diantaranya terpaksa mengungsi. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/bar

Kemenkomdigi melalui Direktorat Pengendalian Infrastruktur Digital terus memantau kualitas layanan telekomunikasi setelah terjadinya banjir dan tanah longsor. Kemenkomdigi bekerja sama dengan Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio Kelas I Medan untuk menangani setiap gangguan telekomunikasi.

”Kami berupaya memastikan layanan telekomunikasi tetap berjalan,” tulis Kemenkomdigi.

General Manager Region Network Operations & Productivity Sumbagut Telkomsel Nurdianto saat dikonfirmasi, Kamis, mengatakan, Telkomsel turut prihatin atas terjadinya bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara. Telkomsel meminta maaf kepada pelanggan atas terjadinya penurunan kualitas jaringan telekomunikasi di wilayah tersebut.

Dia membenarkan, beberapa titik jaringan telekomunikasi terdampak bencana dan pemadaman listrik masif. Telkomsel terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat pemulihan jaringan.

Saat dihubungi terpisah, dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung Agung Harsoyo berpendapat, di tengah situasi bencana alam, Kemenkomdigi semestinya segera melakukan konsolidasi terhadap operator-operator satelit telekomunikasi. Tujuannya agar layanan telekomunikasi tetap berjalan dan komunikasi penanganan bencana tidak tersendat.

”Praktik di dunia, ketika ada bencana alam dan layanan akses telekomunikasi seluler mati, pilihan komunikasi satu-satunya yang cepat dan fungsional adalah satelit telekomunikasi,” ujar Agung.

Menurut dia, Kemenkomdigi bisa mengarahkan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) terlebih dulu karena Bakti mengelola satelit multifungsi milik negara, yaitu Satria-1.

Selanjutnya, Kemenkomdigi mengoordinasikan operator satelit swasta lainnya, seperti Telkom. Dia menyarankan operator satelit swasta dalam negeri diprioritaskan terlebih dahulu.

”Layanan seluler merupakan inti bisnis operator telekomunikasi seluler. Mereka biasanya buru-buru menggelar layanan saat mengetahui ada infrastruktur mereka yang rusak/mati akibat bencana. Kalau pelayanan komunikasi belum pulih, tugas negara untuk koordinasi,” ucap Agung.


Kerabat Kerja

Penulis:

Caecilia Mediana
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta