Jangan anggap padel hanya sekadar gaya hidup. Perlakukan ia sebagaimana olahraga lainnya yang serius dan penuh persiapan.
11 Jul 2025 07:41 WIB · Olahraga
Olahraga padel tengah naik daun di Indonesia. Lapangan-lapangan mini berdinding kaca kini semakin mudah ditemukan, bahkan menjadi lokasi tongkrongan anak muda hingga tempat ”arisan” gaya baru. Namun, di balik tren yang terkesan santai dan menyenangkan ini, dokter spesialis kedokteran olahraga, dr Sophia Hage, mengingatkan bahwa padel tetaplah olahraga yang menuntut kesiapan fisik.
”Dari sudut pandang medis, tren ini tentu menggembirakan karena membuat banyak orang lebih aktif. Tapi sayangnya, saya sekarang makin sering menangani pasien cedera akibat padel,” ujar Sophia di klinik Royal Sports Performance Centre di Senayan City, Jakarta Selatan, Selasa (24/6/2025).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/10/f92e23ffee6f81c328a641913f0edbb0-WhatsApp_Image_2025_07_10_at_16.22.56.jpeg)
Menurut dia, sebagian besar kasus cedera yang datang ke klinik justru berasal dari pemain pemula yang bermain tanpa pendamping pelatih. ”Mereka anggap padel itu gampang, langsung main saja. Padahal, tekniknya beda dengan tenis atau badminton. Raket padel lebih berat, impact-nya ke tangan juga lebih besar,” ujarnya.
Cedera paling sering terjadi di area siku, terutama pada tangan dominan yang memegang raket. Kasus tennis elbow—yang kini juga disebut padel elbow—meningkat drastis. Cedera lainnya meliputi pergelangan tangan, bahu, engkel, hingga lutut. Bahkan, Sophia pernah menangani pasien dengan tendon bahu robek yang membuat aktivitas harian seperti mencuci piring dan mengangkat koper menjadi sangat menyakitkan.
”Masalahnya bukan pada padelnya, melainkan bagaimana kita melakukannya. Banyak yang tidak pemanasan, tidak latihan penguatan otot, bahkan sepatu pun sembarangan. Padahal sepatu lari tidak cocok untuk gerakan kanan-kiri padel yang intens,” katanya.
Coach Rere dari Padel Life membenarkan pentingnya pendampingan pelatih, bahkan sejak sesi pertama. ”Banyak yang datang cuma karena FOMO (fear of missing out, takut ketinggalan, latah). Mereka ingin ikut tren tapi tidak tahu bahwa padel punya risiko cedera kalau tidak dilakukan dengan benar,” ujar Rere, Kamis (19/6/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/11/27/366547bc-704d-48be-8350-fdace06e30b3.jpg)
Rere menekankan empat hal untuk bermain padel dengan aman: pemanasan sebelum bermain, penggunaan peralatan yang tepat (terutama sepatu), mengenali batas tubuh, dan konsistensi latihan di luar padel untuk penguatan otot.
”Jangan cuma main pas weekend, lalu berharap langsung jago. Tubuh juga perlu adaptasi. Kalau tangan sudah pegal atau nyeri, itu sinyal dari tubuh untuk istirahat,” ujarnya.
Ia juga menyarankan penggunaan pelindung siku atau pergelangan tangan, terutama bagi pemula. ”Di tenis itu umum, di padel masih jarang. Padahal, bisa bantu banget cegah cedera,” tambahnya.
Sophia dan Rere sepakat bahwa tren padel akan terus tumbuh. Namun, tanpa edukasi yang memadai dan perubahan pola pikir, dari sekadar gaya hidup menjadi olahraga yang serius, angka cedera akan ikut naik.
”Jangan korbankan tubuh hanya demi ikut-ikutan. Olahraga harusnya menyehatkan, bukan malah membuat kita bolak-balik klinik,” imbuh Sophia.
Olahraga padel mulai merebak di Indonesia, khususnya kota Jakarta, pascapandemi. Padel merupakan olahraga hibrida antara tenis, badminton, tenis meja, dan skuas. Semula padel hanya dimainkan di kalangan ekspatriat di kawasan Canggu di Bali saat pandemi tahun 2020. Akibat tak bisa kembali ke negaranya, mereka membunuh bosan dengan bermain padel yang tak membutuhkan areal lahan yang luas, sekitar 10 × 20 meter saja.
Padel kemudian merebak hingga Jakarta dan menjadi kegandrungan kaum urban. Saat ini, menurut data Pengurus Besar Padel Indonesia (PBPI), ada 133 lapangan padel permanen di Indonesia. Jumlah terbanyak di kawasan Jabodetabek, disusul di Bali dan kota-kota lain.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/19/49f7062291288b79b248b27ee9cbb304-20250619AGS_20.jpg)
Belakangan, Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Jakarta berencana menerapkan pajak hiburan 10 persen pada lapangan padel di Jakarta. Salah satu alasan rencana tersebut adalah landasan keadilan karena aktivitas olahraga lainnya sudah dikenai pajak sejak lama.
Penerapan pajak daerah ke olahraga permainan setidaknya dimulai sejak Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Disebutkan dalam perundangan itu, obyek pajak hiburan tidak hanya mencakup pergelaran kesenian, musik, dan film. Biliar, pacuan kuda, dan gym atau pusat kebugaran juga menjadi obyek pajak hiburan.
Catatan: Artikel ini disusun oleh peserta program magang harian Kompas, Selina Damayanti, jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Pakuan, Bogor, Jawa Barat.
Penulis:
Sarie FebrianeEditor:
Sarie FebrianePenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase