Padi Apung Terkendala Media Tanam Ramah Lingkungan hingga Biaya Produksi Tinggi

Padi apung pernah jadi harapan petani di kawasan rawan banjir. Namun, ketersediaan media tanam dan biaya produksi tinggi menjadi tantangan utama.

24 Sep 2025 09:00 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Sucipto

Inovasi padi apung berpotensi dikembangkan di daerah-daerah yang kerap dilanda banjir. Namun, dalam masa percobaan di beberapa daerah, petani masih terkendala biaya produksi tinggi dan ketersediaan bahan ramah lingkungan.

Di Kalimantan Selatan, misalnya, padi apung mulai diuji coba beberapa petani di Desa Sampurna, Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala, sejak 2023.

Berjarak lebih kurang 35 kilometer dari Banjarmasin, padi apung dipilih karena sejumlah petani kerap gagal panen, seperti terjadi setelah banjir besar melanda Kalsel pada tahun 2021.

Lahan di Desa Sampurna berupa rawa pasang surut. Hal itu membuat padi yang baru ditanam mati atau tercabut dari tanah ketika banjir merendam area persawahan warga.

Tanaman padi apung dikembangkan di lahan rawa pasang surut Desa Sampurna, Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Senin (20/5/2024). Inovasi padi apung mulai dikembangkan di desa tersebut pada 2023 setelah petani setempat kerap gagal panen pasca-banjir besar tahun 2021.

Penyuluh pertanian di Desa Sampurna, Agus Suyanto, mengatakan, sejak 2023, ada tiga petani yang coba mempraktikkan padi apung di Desa Sampurna. Panen padi dari praktik padi apung pada 2023 dan 2024 menghasilkan 7,8 ton gabah kering.

Hasil tersebut didapatkan dari lahan 1 hektar. Penanaman padi apung menggunakan media styrofoam berukuran 2 meter x 1 meter dan pot plastik. Dalam satu styrofoam terdiri atas 21 pot plastik kecil yang menghasilkan 1,5 kilogram padi.

”Tantangan dengan media styrofoam dan pot adalah biayanya yang tinggi. Satu styrofoam beserta potnya butuh dana sekitar Rp 115.000,” kata Agus saat dihubungi dari Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa (23/9/2025).

Selain mahal, styrofoam merupakan bahan yang mudah rusak. Saat memanen atau mengganti isi pot, petani mesti hati-hati. Tertarik sedikit saja saat mengangkat pot, styrofoam bisa patah.

Hamparan tanaman padi apung di lahan rawa pasang surut Desa Sampurna, Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Senin (20/5/2024). Inovasi padi apung mulai dikembangkan di desa tersebut pada 2023 setelah petani setempat kerap gagal panen pasca-banjir besar tahun 2021.

Belajar dari pengalaman tersebut, pemerintah setempat dan Bank Indonesia (BI) akan memberi bantuan berupa pipa paralon PVC 4 inci. Bahan ini dipilih lantaran lebih kuat dan lebih murah.

Satu pipa paralon seharga Rp 320.000 bisa dilubangi dan ditanami 72 rumpun padi. Itu mewakili lebih dari 3 lembar styrofoam untuk media tanam. Untuk menghemat biaya, pola tanam dan pemanenan pun menggunakan cara baru, yakni pola salibu.

Pola salibu adalah cara panen padi dengan memotong batang padi. Batang padi tersebut akan memunculkan tunas baru untuk panen kedua, ketiga, dan seterusnya. Hal ini membuat petani tidak perlu mengolah tanah dan menanam kembali dari benih. 

”Nanti yang harus diperhatikan adalah pola pemberian nutrisinya. Harus lebih rutin, sekitar 10 hari sekali,” ujar Agus.

Dengan kondisi tersebut, saat ini padi apung di Desa Sampurna belum bisa dijadikan sebagai metode menanam padi secara rutin. Padi apung bisa digunakan sebagai cara menanam padi saat musim air pasang atau banjir.

”Yang paling mungkin adalah, padi apung untuk pembenihan, untuk masa tanam berikutnya. Dengan padi apung, pembenihan lebih aman saat terjadi banjir,” kata Agus.

Styrofoam bekas media tanam padi apung tergeletak di lahan rawa pasang surut Desa Sampurna, Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Senin (20/5/2024). Inovasi padi apung mulai dikembangkan di desa tersebut pada 2023 setelah petani setempat kerap gagal panen pasca-banjir besar tahun 2021.

Butuh riset

Ketua Dewan Pengurus Wilayah Serikat Petani Indonesia Kalsel Dwi Putra Kurniawan mengatakan, media tanam padi apung mesti dicari yang lebih ramah lingkungan. Menurut dia, bahan tidak ramah lingkungan berpotensi menimbulkan masalah ekologis.

Untuk itu, Dwi mendorong riset dan penelitian lebih lanjut untuk penerapan padi apung yang ramah lingkungan, lebih murah, dan hasilnya optimal. China, misalnya, mengembangkan padi apung dengan bahan gulma eceng gondok yang dipres dan bambu sebagai pot tanaman.

Eceng gondok dan bambu merupakan bahan yang mudah ditemui di Kalsel. Oleh karena itu, ia menilai perlu riset yang melibatkan akademisi, petani, pemerhati lingkungan, dan pemangku kepentingan.

”Seandainya bisa menggunakan eceng gondok dan bambu, tentu biayanya akan lebih murah, dan sangat dianjurkan untuk diaplikasikan secara luas,” ujar Dwi.


Kerabat Kerja

Penulis:

Sucipto
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang, Mukhamad Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto