Pagar Laut Rugikan Nelayan Tarumajaya, Bekasi, dan Pulau Cangkir, Tangerang.

Hujan deras mengguyur. Peziarah makam Pangeran Jaga Lautan bergegas mencari tempat teduh. Perahu nelayan dari kejauhan memutari pagar laut untuk kembali pulang.

17 Jan 2025 07:10 WIB · Foto

Oleh Agus Susanto

 

Sanen (68) beristirahat sembari minum jahe instan setelah melaut di TPI Paljaya, Desa Segarajaya, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (16/1/2025). “Saya melaut habis isya dan pulang jam 10.00 WIB, hasilnya sebanyak 10 kilogram ikan belanak dan bandeng. Pagar laut dan reklamasi mengurangi pendapatan hingga 50 persen. Dulunya paling kecil biasanya dapat Rp 200.000, sekarang rata-rata hanya mendapatkan Rp 50.000 hingga Rp 100.000. Modal solar dan bawa bekal saja sudah Rp 50.000”, katanya membuka percakapan.

Sanen melaut sejauh 5 kilometer dari garis pantai. Hanya mencari ikan belanak, ikan bandeng dan udang di sekitar mangrove. Sejak 9 tahun, Sanen sudah ikut orang tuanya berkelana melaut. “Jadi saya tahu betul kondisi sekarang, hanya bisa menangis”, katanya sembari meneguk tetes terakhir minuman jahe instan.

Keluhan juga disampaikan oleh Ogeng. Ogeng menghabiskan solar 5 liter dan hanya mendapatkan 3 kilogram ikan laut. “Makin payah sekarang kalau melaut, hasilnya semakin turun, kalau bisa sih dihentikan saja pemagaran laut itu”, kata Ogeng.

Potret Sanen (68) di Desa Segarajaya, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (16/1/2025).
Gareng mengganti karburator mesin perahu di Desa Segarajaya, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (16/1/2025).
Sanen (kiri) memilah ikan belanak berbincang dengan Gareng di pesisir Desa Segarajaya, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (16/1/2025).
Foto udara kawasan pesisir yang disegel oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan di pesisir Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (16/1/2025).
Spanduk penyegelan pemagaran laut oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan di pesisir Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (16/1/2025).
Asim, juru mudi perahu wisata melewati spanduk penyegelan pemagaran laut oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan di pesisir Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (16/1/2025).
Foto udara kawasan pesisir yang disegel oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan di pesisir Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (16/1/2025).
Perahu nelayan melewati spanduk penyegelan reklamasi untuk tanggul laut yang dipasang oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan di pesisir Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (16/1/2025).
Foto udara kawasan pesisir yang disegel oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan di pesisir Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (16/1/2025).
Foto udara kawasan pesisir yang disegel oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan di pesisir Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (16/1/2025).
Perahu nelayan melintasi pagar laut di pesisir Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (16/1/2025).
Aksi penyegelan reklamasi untuk tanggul laut dan pemagaran laut dilakukan pada Rabu (15/1/2025) karena diduga tidak dilengkapi izin dasar Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut.

Perahu nelayan lalu lalang melewati jembatan menuju Kampung Sungai Niri. Gareng (51) tengah mengganti karburator perahu motornya. Perahu motor nelayan biasa menggunakan karburator dari mesin pemotong rumput. Untuk modal perahu motor, mesin dan jaring menghabiskan dana Rp 10 juta. Uang sebanyak itu didapat nelayan setempat dengan kredit dari bank. “Mau gimana lagi, bisanya rata-rata warga sini ya hanya menjadi nelayan, dapat uangnya dari sana, pemagaran laut ini semakin mengurangi pendapatan kami”, kata Gareng.

Ratusan nelayan dari lima muara di kawasan pesisir tersebut terdampak oleh pemagaran laut. Selain pemagaran laut dan reklamasi, kawasan pesisir tersebut juga terdampak buangan limbah cair yang tiap tahunnya bisa 4 hingga 5 kali. Rob dan penurunan muka tanah juga menambah derita warga setempat dalam lima tahun terakhir.

 

Nelayan setempat mengeluhkan tanggul laut yang terbuat dari bambu sepanjang 5 kilometer tersebut. Pendapatan nelayan turun sekitar 50 persen akibat dibangunnya pagar laut tersebut.
Perahu nelayan melintasi warga yang mencuci pakaian di Desa Segarajaya, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (16/1/2025).
Foto udara kawasan pesisir yang disegel oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan di pesisir Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (16/1/2025).

Asim juru mudi perahu wisata yang mengantar saya mengelilingi reklamasi dan pagar laut juga mengatakan hal yang sama. “Wisata sekarang payah di sini (kawasan wisata Jembatan Cinta), sejak Covid-19 awal mulanya hingga kini, mana biaya ekonomi sekarang tambah besar”, kata Asim.

 

Awal mula viralnya pemagaran laut berlangsung di pesisir Tangerang. Pemagaran laut dimulai dari Pantai Tanjungpasir hingga Pulau Cangkir atau sepanjang 30 kilometer. Keberadaan pagar laut yang mulai dibangun Oktober hingga Desember 2024 tersebut mengganggu aktivitas warga. Nelayan harus memutar jauh untuk menangkap ikan.

Selain nelayan, pemilik warung dan pemilik bagan pinggir juga mengeluh karena semakin sepi. Warung Murti yang berada di ujung Pulau Cangkir, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang, Banten adalah salah satunya yang terdampak. “Rob dan pagar laut dikeluhkan sejumlah pengunjung yang datang, pagar laut membuat pemandangan lepas ke laut menjadi kotor”, kata Murti.

Perahu nelayan mengitari pagar bambu di Pulau Cangkir, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (15/1/2025).
Wisatawan menikmati suasana senja di Pulau Cangkir, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (15/1/2025).
Foto udara Pulau Cangkir di Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (15/1/2025).
Perahu nelayan mengitari pagar bambu di Pulau Cangkir, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (15/1/2025).
Anak-anak bermain bola di bangunan terbengkalai di Pulau Cangkir, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (15/1/2025).
Peziarah makam Pangeran Jaga Lautan (Syekh Waliyuddin) di Pulau Cangkir, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (15/1/2025).
Perahu nelayan mengitari pagar bambu di Pulau Cangkir, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (15/1/2025). Keberadaan pagar laut yang mulai dibangun Oktober hingga Desember 2024 tersebut menganggu aktivitas warga.

 

Aliya, pemilik bagan pinggir “Ayamu” yang menyewakan bagan untuk pemancing juga mengeluh hal serupa. “Warung dan bagan pinggir sekarang sepi, dulunya sebelum pemagaran laut, tiap Sabtu atau Minggu bisa 50 orang yang g. Tiap pemancing membayar Rp 15.000 yang bisa digunakan 24 jam. Sekarang paling banter cuma 10 pemancing yang datang. Mereka mengeluhkan semakin sedikitnya ikan karena terhambat oleh adanya pagar bambu”, kata Aliya.

Hujan deras mengguyur. Peziarah makam Syekh Waliyuddin atau yang lebih dikenal dengan Pangeran Jaga Lautan bergegas mencari tempat teduh. Di sisi lain, anak-anak asyik bermain bola di bangunan yang terbengkalai. Perahu nelayan dari kejauhan memutari pagar laut untuk kembali pulang.

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Agus Susanto
 | 

Editor:

Demitrius Wisnu Widiantoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .