Tahun 2025, penduduk China 1,416 miliar dan angka kelahiran turun. Jika terus merosot, di tahun 2100 penduduk China tersisa 633 juta jiwa.
10 Jan 2026 15:30 WIB · Internasional
KOMPAS/KRIS MADA
Sampai 26 tahun lalu, pertumbuhan penduduk China amat dibatasi. Alasannya terutama karena ekonomi sedang dibangun. Kini, China mau warga berbuat sebaliknya: beranaklah sebanyak-banyaknya.
Kemajuan ekonomi, populasi yang menua, dan penurunan angka kelahiran jadi alasan utama keputusan itu. China belajar dari Jepang dan Korea Selatan yang piramida penduduknya terbalik. Para lansia mendominasi jumlah penduduk sehingga membahayakan kelangsungan hidup suatu bangsa.
China menghapus kebijakan satu anak sejak 2016. Kebijakan dihapus kala warga China terbiasa dengan keluarga kecil. Di sisi lain, biaya hidup juga terus meningkat sehingga banyak orang berpikir berkali-kali untuk punya anak.
Pemerintah China melakukan berbagai cara untuk mendorong warganya punya banyak anak. Salah satu cara terbaru: menaikkan pajak untuk alat kontrasepsi. Disinsentif itu untuk membuat alat kontrasepsi semakin mahal sehingga diharapkan jumlah kehamilan meningkat. Kebijakan itu mulai berlaku pada 1 Januari 2026.
Bersamaan dengan itu, China membebaskan pajak untuk biaya penitipan anak dan biro jodoh. Harapannya, warga China mau punya anak dan, kalau belum menikah, mau memakai biro jodoh untuk mencari pasangan.
Selain itu, Presiden China Xi Jinping dan para pemimpin mendorong generasi muda untuk menikah dan memiliki momongan segera. Ada tunjangan setara 500 dolar AS per tahun bagi tiap anak berusia di bawah tiga tahun.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan penduduk China pada 2100 menyusut kurang dari separuh saat ini. Dari 1,416 miliar (2025) menjadi 633 juta jiwa jika angka kelahiran terus turun. Sepanjang 2024 hanya tercatat 9,54 juta kelahiran, separuh dari angka 2016.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/07/bdaac5e5805662428795cb54dc403f00-IMG_8672.JPG)
Warga berpendapat berbeda soal kenaikan harga alat kontrasepsi itu. Xu Wan Ting (33) mengatakan, orang yang memerlukan kontrasepsi tetap akan membeli karena pertimbangan kesehatan reproduksi perempuan.
Sementara sejumlah orang muda di Beijing mengatakan, pajak kontrasepsi tidak berpengaruh dalam mendorong kelahiran anak. Jessica menyebut bahwa stres kerja, kehidupan sehari-hari, dan ketimpangan sosial adalah persoalan utama. ”Masyarakat tidak yakin pada masa depannya sehingga mereka menghindari punya anak,” ujar perempuan China berusia 30 tahunan itu.
Pasangan muda, Grace (25) bersama suaminya, menganut prinsip pendapatan ganda tanpa anak (dual income no kids/DINK). Istilah itu menjadi terminologi populer di China saat ini.
Grace mengaku ingin memiliki penghasilan layak dan tabungan sebelum punya keturunan. Tanpa tabungan dan standar hidup yang layak, dia mengatakan bisa saja memilih untuk tidak punya anak.
DINK kini lazim dibahas dalam pergaulan anak muda China, termasuk di pelantar Buku Kecil Merah (Xiao Hong Shu). Tercatat ada 731 juta pengguna membahas isu DINK di Xiao Hong Shu. ”Kalau saya mengampanyekan DINK dan menceritakan betapa nyaman hidup seperti itu, saya rasa banyak orang yang tidak suka,” kata Grace kepada AFP.
Hidup di China beberapa tahun ini berbeda dari beberapa dekade lalu. ”Semakin banyak orang memilih tidak menikah atau tidak memiliki anak. Kalau menikah bertambah jumlahnya, niat untuk berketurunan di generasi muda juga melemah,” kata He Yafu, peneliti isu kependudukan China.
Pan Wang, Guru Besar di Universitas New South Wales Australia, mengatakan, tekanan budaya telah menimbulkan merosotnya angka pertumbuhan penduduk China. ”Kebijakan satu anak selama sekian puluh tahun membuat nilai-nilai keluarga dan gaya hidup berubah. Orang terbiasa dengan keluarga kecil,” ujar Wang.
Biaya hidup yang meningkat dan ketidakpastian ekonomi juga membuat orang berpikir panjang sebelum merencanakan punya keturunan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/07/2873d859d31ef45488cdc7874f3343b4-IMG_8624.JPG)
Biaya hidup dan membesarkan anak di kota-kota besar di China tidak main-main. The Guardian edisi 21 Februari 2024 melaporkan, biaya membesarkan anak usia 0-18 tahun, menurut Lembaga Riset YuWa, setara 59,275 pound sterling atau hampir Rp 1,2 miliar.
Angka itu 6,3 kali lebih besar dari produk domestik bruto (PDB) per kapita China. Sebagai pembanding, biaya membesarkan anak di Amerika Serikat setara 4,11 PDB per kapita dan di Jepang 4,25 PDB per kapita.
Biaya rata-rata membesarkan anak di perkotaan China mencapai 667.000 RMB atau sekitar Rp 1,47 miliar. Beban bagi seorang ibu dalam kurun 2010-2018 untuk mengurus anak meningkat dari 367 jam menjadi 588 jam.
Terlebih dalam masyarakat China, persaingan dan tuntutan untuk berhasil dalam hidup sangatlah ketat. Kapan menikah, punya rumah, mobil, dan berbagai standar kehidupan modern menjadi tekanan bagi kaum muda China.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/01/28/54ae02d9-0b25-46b8-b6c9-f0beb275c1df.jpg)
Wang Zibo (29), warga Beijing, mengatakan, dia dan istrinya menunggu ekonomi stabil sebelum memulai program punya anak. Walau dia mengaku kondisi perekonomiannya cukup mapan. ”Situasi ekonomi China saat ini tidak menentu,” kata Wang.
Demi mempertahankan kinerja ekonomi pascapandemi Covid-19, masyarakat China bekerja keras. Sebagian besar orang bekerja dalam ritme ”996”, yakni pukul sembilan pagi sampai pukul sembilan malam selama enam hari dalam sepekan. Melelahkan dan nyaris tidak ada waktu luang untuk berleha-leha!
He Yafu mengatakan, dalam kondisi saat ini, jika angka kesuburan stagnan pada kisaran 1,0, dalam jangka panjang akan mengakibatkan populasi merosot dan penduduk lansia bertambah.
”Ini akan menjadi beban ekonomi dalam hal perawatan kesehatan lansia. Ini akan melemahkan ketahanan nasional dan pertumbuhan ekonomi China,” ujar He prihatin.
(AFP/AP)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra